Pelipur

06/02/2017 § Leave a comment

                                                    Untuk Akang

“Kebun ini sudah berumur lanjut, bahkan dia lebih tua dari si empunya sendiri,” jelas laki-laki yang sedang buru-buru membuka pintu rumah setelah bel berdering, “Tanah yang terbentang cukup lebar untuk ditanami Mawar, Kamboja, Kersen, beberapa malah tanaman palawija untuk memasak, hanya durian yang belum kucoba tanam, he he” tambahnya seraya tertawa sekembali menerima tamu, mengapit lagi jari-jariku ke dalam genggamannya. Seseorang tengah memasak sore itu, makanya dia yang tergopoh-gopoh membuka pintu dan meninggalkanku sejenak.

Macet jalanan di depan rumahnya menjadi pemandangan kami mengobrol di teras samping. Rumah tanpa pagar, lorong penghubung halaman depan dengan pintu rumah cukup panjang, terbuat dari berbagai tanaman dan diberi sedikit sentuhan berbelok menjadikan rumahnya unik, asri, menyatu dengan alam, dan membuat nyaman siapapun yang datang. Termasuk aku. Ruang tengahnya penuh rak buku, tanpa televisi, kursi tamu yang terbuat dari kayu dan diselingi beberapa bahan rotan. Ah, betapa aku jatuh cinta dengan rumahnya yang tidak biasa itu. “Kota kecil ini semakin sesak, motor begitu murah untuk dicicil hari ini,” kalimatnya memutus lamunanku yang sedang melihat seliweran kehebohan di jalan raya, seolah mengerti apa yang kupikirkan. Dia datang sambil membawakan tempe goreng, camilan favoritnya. “Anak bungsuku pasti marah kalau tahu aku makan gorengan lagi,” ujarnya pelan seperti berbicara untuk dirinya sendiri, lalu mata itu melihatku, kami saling bertatap dalam diam, dalam gemuruh hati masing-masing. Hujan tiba-tiba datang padahal sore masih begitu terik, “mungkin kerinduanku menangis bahagia karena kedatanganmu,” katanya lagi, kali ini sambil mengecup pipiku, lalu dia berdiri pamit ingin menemui rekannya yang tadi datang.

***

Telah dua bulan kutinggalkan rumah setelah ibu memaksaku menikah dengan laki-laki pilihannya. Ayah tentu menyokong apapun keputusan ibu, apalagi terkait dengan calon yang telah dipilihkannya. Sebelumnya aku susah payah meyakinkan ayah kalau aku sudah punya pacar—tentu ini hanya aksi penyelamatanku dari segala macam paksaan dan comblangan dari keluarga. Agar ayah dapat membantuku dari begitu besarnya gencaran ibu dalam memilihkan jodohku. Kemudian mereka yakin kalau itu hanya bohong belaka. Dan datanglah hari itu, hari di mana Restu datang membawa serta keluarganya dan pinangan mereka datang ke mukaku sekelebat petir di siang bolong, tanpa tanda-tanda, tanpa aba-aba.

“Sungguh, Bu, Disty bukan gadis yang begitu mudah jatuh cinta lalu bisa menikah dengan pilihan ibu hanya dalam waktu dua minggu kemudian, apa ibu mau melihatku mati bunuh diri?” tangisku pecah waktu itu, di sela pertemuan dua keluarga sahabat karib itu. Restu bukanlah orang baru yang dikenalkan kepadaku, beberapa tahun silam ibu memberikan bayangan akan Restu dengan pekerjaannya yang semakin membaik di perusahaan tempatnya bekerja, Restu dengan keluarga baik-baiknya yang telah ibu kenal sejak SMA, namun saat itu Restu masih ingin melanjutkan kuliahnya. Ibu pun mundur dan mencarikan pilihan-pilihan lain. Dan nihil. Hingga Restu kembali dan hatinya mencair. Sakit hatiku baru terlampiaskan hanya dengan pergi dari rumah.

Laki-laki muda betul-betul jahanam. Begitulah selalu terpatri dalam otak dan hatiku. Mereka selalu memandang dengan liar, tanpa hati, tanpa sedikit pun menghargai. Satu dua yang tampak kalem hanya akan menunggu waktu untuk akhirnya sama dengan yang banyak. Kesetiaan tidak bersumber dari kantong-kantong lelaki muda. Seperti kekasih Asti yang kepergok di lusuhnya Gang Dolly atau teman kampusku dulu, Anton, yang bercerai dengan istrinya karena kepincut pembantunya sendiri. Kebaikan merambat datang kepada laki-laki muda seiring bertambahnya waktu, seiring uban yang memantul ke permukaan kulit kepala, seiring kehadiran osteoporosis yang tak direncanakan, dan kemudian wajah mereka bersinar dewasa dan memesona.

Aku bertemu dengannya di sebuah siang yang bahagia, saat acara peluncuran buku salah satu penulis idolaku, Seno Gumira Ajidarma, yang kemudian hari kuketahui bahwa SGA adalah sahabat karibnya. Dalam balutan kemeja tosca—sial betul kenapa kemejanya sewarna dengan kemejaku, dia yang kutaksir berumur lima puluh tahunan, terlihat sangat ganteng. Di Kemang Selatan itu, aku jatuh cinta dengannya di detik itu juga. Seperti perempuan muda lain yang jatuh cinta, keagresifanku memuncak. Seorang teman dari sahabatku adalah tetangga Seno, dan sahabatku mengatur semuanya untukku.

Istrinya baru tiga bulan meninggal karena kecelakaan ketika mengunjungi anak mereka yang kuliah di luar kota. Saat itu mobil travel yang ditumpangi istrinya melintas dengan kecepatan tinggi dan membentur pembatas tol. Sopir dan lima penumpang tewas seketika.

Kesendirian dan kesedihan mengurungnya berhari-hari, untuk mengurangi dukanya dan kebetulan buku sahabatnya rampung, maka diundanglah dia oleh Seno. Bukan kebetulan sebenarnya, mungkin garis nasib atau takdir. Lalu tak ada perintang dalam pertemuan-pertemuan kami selanjutnya.

Kami tak pernah bertemu di rumah, yang benar saja, ibu dan ayah pasti menolak aku menjalin hubungan dengan laki-laki sebaya ayah. Di rumahnya apalagi, jarak kotaku dan rumahnya yang ratusan kilometer tentu tak efisien, lagi pula duka masih bergayut di rumah itu. Jarak yang awalnya menjadi kendala berganti menjadi berkah, kami merenda rindu di atas rel kereta api, di atas aspal dalam bus antar kota antar provinsi, atau di atas awan dalam kabin pesawat, saat-saat di mana kami saling berkunjung untuk bertemu di satu tempat lalu pulang dengan saling mengantar. Tapi tak pernah sekali pun ke rumahnya ataupun ke rumahku.

Hari-hari sepeninggal istrinya, dia hanya tinggal sendirian di rumah, satu anaknya di Yogyakarta dan satunya lagi bekerja di luar negeri. Saat kuceritakan kepadanya tentang hidupku dua bulan terakhir ini yang aku habiskan dari satu gunung ke gunung lain, dari satu ranjang reot kamar murah satu ke kamar murah lain karena tabunganku semakin menipis, dia akhirnya menyuruhku datang ke rumahnya, tinggal di salah satu kamar di bangunan belakang rumah yang biasanya digunakan oleh keluarga besarnya untuk menginap ketika lebaran.

Mbak Lita sudah pulang ketika sop daging, sambal krecek, tumis kangkung, dan sapo tahu yang dibikinnya telah matang dan tersaji di atas meja makan. “Nanti saja melihat-lihat kamarmu, ayo cuci tangan dulu,” sapanya saat aku berdiri di pintu belakang melihat bagian sisi belakang rumahnya yang terdiri dari pendopo, tempat ibadah, dan hamparan kebun penuh bunga dan tanaman yang terkoneksi dengan kebun di samping rumah.

Sore itu meja makan kami begitu memancarkan gurat-gurat kebahagiaan. Dia menyendokkan sop panas ke piringku, menambahkan nasi lagi ke piringku, ah, betapa ingin kuberitahu ayah dan ibu bahwa dialah orang yang sangat kuinginkan.

Padang Panjang, 06 Pebruari 2017

Advertisements

Menjemput Yadas

22/11/2014 § 1 Comment

Pukul dua belas lebih empat puluh sembilan dini hari, tiga orang lelaki memasuki sebuah kedai bernama Nusantara. Satu orang berumur lima puluh tahunan dan dua orang lainnya sekitar tiga puluh tahunan akhir. Satu di antara tiga puluh tahunan itu tampak paling menonjol. Kulitnya sedikit gelap, rahangnya tegas, lesung pipi dan bermata dalam. Dini hari itu dia memakai t-shirt tanpa lengan. Mereka masuk diantar porter yang sekaligus dibayar hingga urusan check-in.

Kopi hitamku baru kureguk dua cecap. Ah, terlalu manis, umpatku. Ibarat jam dinding, si lelaki bermata dalam berada di angka delapan dan aku di angka enam. Sedikit berhadapan secara serong namun itulah sepertinya celah terbaiknya sering memantau gerikku.

Di hadapanku, enam bapak-bapak berkumis beraneka-ragam tampak asyik dalam obrolan tidak penting mereka. Berbicara lalu tertawa, sambil menikmati kopi masing-masing. Sesekali mereka juga melihatku takjub lalu tersenyum, mungkin karena aku satu-satunya perempuan di warung itu di tengah malam begini.

Dua puluh menit kemudian, rombongan bapak-bapak berkumis aneka ragam meninggalkan warung Nusantara. Tersisa kami berempat dan si lelaki bermata dalam kian berani. Dia menyambangiku dan duduk di kursi sebelahku. Baik, sesekali patut juga mengevaluasi latihanku saban hari kepada ganteng ini, batinku tertawa puas.

Anehnya, salah satu teman si lelaki bermata dalam merogoh dompet dan memberikan beberapa lembar seratus ribuan kepada kasir sambil berbisik entah, padahal mereka belum niat menyelesaikan transaksi di warung itu. Ya, aku yakin sekali bahwa uang itu adalah untuk menutup mulut agar keonaran mereka di warung Nusantara berjalan aman setidaknya membiarkan aksi teman mereka terhadapku.

Sesuai perhitunganku, memang benar si lelaki bermata dalam berniat menyalurkan sesuatu yang menyembul dari dalam dirinya. Tiba-tiba secepat kilat dia meremas pinggulku, mendekatkan kursinya hingga tiada lagi jarak antara aku dan dia. Mulutnya yang seperti bebek lapar, menyosor wajahku. Cukup dua menit aku melayaninya. Berpikir cepat, lumayan untuk hidup beberapa hari ke depan dengan mengorbankan hanya dua menit.

Dalam amarah dan tangis palsu, aku melempar sisa kopiku kepada si lelaki, menamparnya, lalu berlari meninggalkan mereka. Sebuah taksi langsung mengantarku ke peraduan. Hari ini aku tak perlu ke terminal atau stasiun untuk berburu recehan. Sesekali ke bandara lumayan juga penghasilanku. Bonus untuk ke salon pun kudapatkan. Kuelus-elus juga dompet bermerk Yadas itu sampai tertidur.

Jakarta, 22 Nopember 2014.

Pada Suatu Hari, Waktu Juga Cemburu

09/09/2014 § Leave a comment

Aku cemburu pada Sang Waktu. Dia, Sang Waktu itu, bisa kapan saja mendatangi kekasihku. Oh bukan, kami tak sampai jadian. Meski debar kami tumpah melebihi mereka yang Sah, kami tak selesai merajut Akad.

***

“Aku sedikit lagi gila,” katamu.
Aku diam, menarik nafas dan menunggu apa ujarmu setelah itu.

“Orang kantorku bisa bikin komunitas baru. Namanya Brengsek People Never Die. Bajingan!! Sampai kantor pagi-pagi aku langsung disuguhi kabar selebritas di televisi dan seonggok orang yang membahas dan menyela si Anu, bilangnya si Seleb udah gemuk, pendek, kaki rendah, betis gede pula. Mereka juga yang dulu aku damprat karena bicara mencla-mencle yang tempo lalu aku cerita. Aku sampai teriak nggak berguna ke mukanya. Gila, iya kalau kerjanya bener dan mukanya lumayan. Buset, kerjaan kelayapan mulu ke pasar. Nggak kehitung gunjing fitnah. Kesabaranku benar-benar sudah tidak lagi toleran. Penantianku telah kedaluwarsa. Gimana ya caranya biar aku lolos setelah bakar kantorku. Atau aku sewa orang, kamu punya kenalan?”
Saat itu aku melihat api di matamu. Berkobar garang. Merah menyala. Aku mengenalmu sebagai orang lain. Bukan kamu. Bukan Perempuan Bermata Sendu. Bukan lagi.

“Kita makan dulu, aku udah pesan tempat di Kemang, dekat Grand Zury, hotel baru di Padang. Kamu pasti suka fasadnya. Berani taruhan. Rekanku tiba-tiba batal rapat karena istrinya pendarahan.”
Seingatku, saat itu aku masih percaya, tepatnya mencoba percaya bahwa kamu masih Perempuan Bermata Sendu yang kukenal dulu. Aku-yang mencintaimu diam-diam-mencoba tenang dan menawarkan dingin untuk hati kita yang sama-sama panas. Panas untuk alasan yang berbeda.

Sekembalinya kita ke rutinitas masing-masing, tak kuhubungi kamu untuk beberapa waktu. Ah, kupikir biasa maki-maki teman kantor yang kurang kerjaan.

Kata teman-temanku, kamu, orang kantormu, dan mereka dengan spesies yang sama dengan kalian memang digaji untuk baca koran pagi dan menghabiskan banyak waktu dengan duduk di warung dari sarapan hingga makan siang. Wong gajinya kecil bahkan minus, buat apalagi kerja. Toh, yang penting kalau sakit ada BPJS. Tua, mati, dapat pensiun. Lalu, jika merasa tunjangan lebih rendah dari institusi lain, ya tinggal demo dan mogok kerja. Kemudian istri-istri orang kantormu sibuk mengkonfirmasi gaji-gaji suami mereka. Lucu sekali. Satu hal lain aku tak pernah lupa, kamu bahkan meneleponku saat aku berada di luar negeri, dengan tidak sabar kamu bercerita baru saja istri orang kantor menanyai gaji suaminya kepadamu, padahal si wanita bekerja kantoran juga dan kaya (setidaknya dari segi materi). Pesanku ketika itu, kelak jika bersuami nanti, terimalah segala kekurangan suamimu berikut kekurangan gajinya. Kita tak selesai tertawa bersama karena pulsamu habis.

Aku ingat betul kamu selalu sewot setiap kali aku mengutarakan lagi obrolan kita itu. Yang pasti, aku sengaja membuatmu begitu, agar kupu-kupu di perutku berkecipak.

“Semua orang pasti mati kok, santai aja, aku nggak nyari apa-apa di dunia ini,” bisikmu.
“Aku merayakan hidup dengan caraku. Aku hanya muak dengan duniaku yang penuh tipu daya dan kongkalikong. Panggil aku si Bodoh karena tidak turut pada norma hatiku. Sebut aku Anomali yang sering tertidur di ranjang hangat milik Arya. Aku bukan bidadari tanpa sayap lagi nihil dosa.”
Cercamu dengan lisan yang paling lirih. Mungkin kamu satu-satunya orang yang kukenal yang tak takut mati. Seperti teman lama, kamu dan kematian selalu rindu untuk berbincang, melebur ulang kisah-kisah usang.

***

Malam itu rindu kami tuntas. Ini pertemuan terakhir kami, batinku. Dan benar. Sang Waktu lah yang mungkin dengki dengan kita. Aku yakin itu. Aku pun tak pernah menanyakan apa-apa lagi padamu. Pada rotasi bumi. Pun pada Tuhan-ku.

Aku manusia modern yang tak percaya takhayul, awalnya. Tapi berita dari mereka, kekasihku direnggut oleh takhayul berbau mistis dengan kemenyan yang menebar wangi dimana-mana. Seperti maling, teror itu merasuki kekasihku di tengah malam buta tanpa izin. Sekarang aku tahu, takhayul lah yang iri dengan kisah kami.

Perempuan Bermata Sendu-ku kini terpaku di sudut bisu. Dia diasingkan tak hanya olehku. Juga bayangannya sendiri. Pun Sang Waktu.

Kamar Kesedihan

31/03/2014 § Leave a comment

Kamar di seberang itu dari luar memang tampak asri. Berbanding terbalik dengan interiornya yang berwarna sendu. Setiap orang yang akan memesan kamar tersebut haruslah memiliki aura kesedihan yang dalam dan seorang penyepi. Jangan pernah kau sekali-kali berbohong karena penasaran untuk mencoba tinggal di sana, resepsionis akan segera mengenali auramu. Seperti tuhan, dia tidak akan pernah tertipu.

Seorang perempuan dan balitanya datang tadi malam dan menginap di kamar itu. Tak seperti kamar hotel umumnya, mereka yang datang tak perlu repot membawa pakaian ganti, bekal, bahkan uang untuk membayar kamar. Tega sekali rasanya jika kemurungan masih juga harus berbayar. Maka sarana apapun disediakan dengan baik dan cukup oleh pihak pengelola. Di malam kedatangan mereka, atmosfer sekitar mendadak memanas, bulan sempurna purnama meskipun secara penanggalan belum waktunya, dan beberapa patahan ranting segar tergeletak di teras kamar kami.

Pagi sebelum meninggalkan kamar, kami melihat perempuan itu mengenakan terusan putih rendah tengah sibuk dengan telepon genggamnya sambil memangku si bocah. Sekilas, tak ada gurat kesedihan yang muncul, anak itu berceloteh tak jelas, ingin mengajak bercerita pikirku. Ingin sekali aku mengajak anak yang lucu itu untuk jalan-jalan dan membelikannya coklat, semua anak-anak di permukaan bumi ini tentu menyukainya, sekadar untuk meringankan sedikit kesedihan mereka. Lalu, di detik ibunya melihatku, tak sengaja kami bersitatap dan kedua mataku seakan terkunci di sana. Aku bisa melihat jurang yang menganga di hatinya, seperti trauma, seperti ingin membunuh semua laki-laki hingga tiada bersisa. Seolah dengan begitu semua kesedihannya terbayar lunas. Entahlah. Istriku merasakan keanehan yang begitu rupa dan dia memaksa untuk segera check out.

Sebulan sudah bulan madu kami berlalu, namun sebagian jiwaku tertinggal di mata perempuan asing itu. Aku harus menyelesaikan masalah yang tak kubuat ini. Aku seolah bertanggung jawab untuk sebuah kehidupan yang seperti dejavu. Maka kuputuskan perjalanan bisnis yang semula ditangani oleh Rikzan, rekan kantorku, langsung kuambil alih.

Hujan deras menyambutku, pohon yang rerantingnya bulan lalu gugur itu kini meranggas. Jangan-jangan dia mati muda karena turut mengaliri kesedihan perempuan itu. Kamar yang kami tempati dulu itu seperti tahu aku akan kembali. Dari teras aku mendengar tangisannya. Tangisan yang begitu menyayat hati siapapun yang mendengar. Tangisannya membuat bulu remangku berdiri.

Syahdan, aku mengetuk pintu dan persis ketika tanganku melayang di udara untuk ketukan kedua, ia membukakan pintu. Pintu yang kelak kusesali setelah mengetuknya. Ia mengajakku berdansa, kami menari sampai pagi. Hingga esok hari, hingga berbulan-bulan, hingga waktu yang tak kuingat lagi aku memiliki seorang perempuan yang baru sebulan kunikahi. Terngiang, ingatanku mendesak, meski tak ada gunanya, aku mendengar lagi si resepsionis bulan lalu berpesan jangan pernah mendekati kamar itu jika tidak ingin kekal di dalamnya. Kami pun kembali berdansa hingga waktu yang entah.

Kuta, 31 Maret 2014

Kunang-kunang Terakhir

31/12/2013 § 1 Comment

Setiap pergantian tahun, Adis selalu merayakannya bersama keluarga Teza. Malam ini seperti biasa mereka saling bertukar kado dan makan malam dengan menu andalan Adis, kentang panggang saos padang dan tahu tempe bacem. Selalu seru dan akrab. Keluarga besar Teza sudah begitu mengenal Adis, begitu juga dengan Teza, dikenal baik oleh keluarganya Adis yang setiap malam takbiran bergabung dengan mereka.

Malam itu tiba-tiba saja ayah Teza kembali menyeletuk bertanya spontan bagaimana agar rencana pernikahan mereka dipercepat. Lagi-lagi Teza mengelus dada, mencoba sabar. “Ayah, kami masih menunggu satu hal yang sangat penting,” begitulah selalu alasan mereka. Tak jelas dan tak ada penjelasan yang lebih. Karena asas paksaan begitu diharamkan di rumah itu, jadi ayah dan ibu Teza pun diam. Adis kembali dari dalam rumah sehabis mengambil obat Bu Sri dengan santainya menyodorkan brownies kukus yang baru saja matang. Suasana kembali normal, sisa-sisa pertanyaan Pak Galang tertinggal, mungkin mengendap di bawah kulitnya yang mulai keriput. Dingin angin malam tak merobek kebahagiaan mereka.

“Kak, kenapa kadonya kemarin berubah?” Adis akhirnya memberanikan diri bertanya setelah satu minggu terkungkung dengan pertanyaannya sendiri.
“Maaf, Adis, seharian kan kita bersama membeli bahan masakan dan kamu tahu kalau Kota Parit Rantang hujan genap dua hari tiada henti,” Teza mencoba beralasan.
“Jangan berkilah, kak, aku….” kata-kata Adis meluncur tenang, namun urung dilanjutkan.

Telah lima tahun ini Teza tak pernah lupa bahwa Adis hanya meminta kado tahun baru berupa kunang-kunang. “Aku hanya ingin diberi cahaya. Aku mau kamu yang jadi cahaya bagi hidupku, kak, pengganti almarhum ayahku,” begitu jawaban Adis suatu kali Teza bertanya tentang kado kunang-kunang permintaan gadisnya itu. Sesederhana itu. Tapi amatlah besar pengaruhnya bagi Adis. Dan kemudian Teza paham betul kemana cahaya itu dimaksudkan Adis.

Adis kehilangan ayahnya di sebuah malam tahun baru yang hening, dalam tugasnya sebagai jurnalis di daerah konflik. Tepat beberapa saat sebelum tertembak, ayahnya mengabarkan Adis kecil betapa banyak kunang-kunang dalam radius satu dua meter di depan ayahnya. Sungguh menakjubkan. Kata ayah Adis kala itu, kunang-kunang adalah wujud doa dari mereka yang telah meninggal untuk keluarga yang ditinggalkan. Cahaya kunang-kunang mampu menembus hingga relung hati paling dalam. Seketika Adis tiba-tiba berteriak histeris dan sambungan telepon terputus. Padahal Adis kecil ingin dibawakan kunang-kunang sepulangnya ayah selesai meliput, tapi Adis kecil tak mengerti kenapa teleponnya tak lagi ada suara ayahnya.

Toples

13/08/2013 § Leave a comment

“Kapan lagi sih, Kak? Itu kalo adekmu motong antrian, kan Mamah juga yang malu,” celoteh Mamah sambil mengunyah Corn Flake kesukaannya.

Tersungut-sungut aku menjawab santai nyaris tanpa suara. Ah seperti zaman batu saja. Apanya yang buat malu. Bukannya ini sudah zaman paling modern tanpa harus memikirkan umur untuk menikah. Sibuknya semua orang mengalahkan jalur Trans Jakarta mengurusinya. “Mah, jangan dibikin rempong deh, aku oke aja kok si Adek duluan. Kalo masalah Mamah yang malu ya itu bukan urusanku.”

“Ya gak boleh gitu lah, Kak!” Mamah membanting tutup toples. “Masalah Mamah pasti urusanmu juga. Kalo nanti dibilang Mamah gak berusaha mencarikanmu jodoh, padahal sudah delapan kali kamu menolak mentah-mentah anak-anak relasi Mamah, apa kata orang. Kakekmu terutama. Doi bersumpah kamu harus menikah tahun ini juga. Aku mohon tolonglah Mamah..” Kali ini Mamah berbicara tak kurang sepuluh senti dari hidungku.

“Salah Mamah sendiri, aku maunya sama Om Handoyo, tapi Mamah sontak menolak dunia akhirat.” Aku mencoba membuat spekulasi. Mumpung. Sepertinya ini saat-saat yang kutunggu.

“Anaknya aja ya, Sayang, ya? Nak Doni kan cakepnya sama kayak Bapaknya. Nanti Mamah deh yang bujuk Om Handoyo agar pertunangan anaknya dibatalkan. Ya ampun kak, kamu bakal beruntung banget kalo bener-bener bisa menggaet Nak Doni. Apa kurangnya dia, lulusan luar negeri, pewaris tunggal perusahaan bapaknya, ganteng lagi.” Mamah dengan semangatnya bahkan seperti germo yang menjajakan dagangannya. Aku tersenyum puas.

“Kalo gitu aku mau satu syarat.”

“APA?” Nada Mamah kali ini membahana dalam isi toplesku yang kini kosong, dalam seisi rumah tenang dan kini membuat Papah terbangun dari stroke panjangnya.

“Aku mau Mamah bersumpah demi langit dan bumi. Aku mau menikah dengan Doni asal Mamah mengakhiri perselingkuhan dengan Om Handoyo!”

Hening. Dua toples mengakhiri riwayatnya. Sama selesainya dengan riwayat isinya yang telah tandas di lambungku dan lambung Mamah. Seingatku, dua toples itu adalah oleh-oleh Om Handoyo dari Thailand tahun lalu.

Reuni

30/07/2013 § Leave a comment

Bulan Ramadhan di hari kedua puluh empat. Sengaja dipilih hari itu oleh ketua pelaksana agar semua teman dari perantauan pulang kampung. Karena hari itu tepat di hari kedua cuti bersama menjelang lebaran.

“Sialan, kenapa harus di rumah Hanif?” batinku sesaat setelah Wati mengabari tempat diselenggarakannya reuni angkatan kami. Dan Wati malah menantangku untuk datang. Dia ingin menguji kesempurnaan keluargaku-suatu hal yang selalu kudendangkan dan pastinya kubanggakan. Aku dan Wati bukanlah sahabat bukan pula musuh. Ada sebuah spasi yang menjalar dan mengakar di antara kami sejak di tahun pertama kuliah. Bahkan hingga hari ini.

Belasan tahun silam aku memenangkan sebuah sayembara: berhasil menggandeng komting angkatan kami. Komting yang tak bertampang Primus Yustisio tapi bekennya di kampus tak kalah dengan suami Jihan Fahira itu. Hingga pelaminan. Jodoh by conspiration?

Selanjutnya akan mudah sekali ditebak. Persahabatan Anto, suamiku, dengan Hanif bubar tanpa aba-aba. Bagaimana tidak, aku telah mem-PHP Hanif di semester ganjil pertama. Wati, bak bocah kalah dalam permainan monopoli melakukan serangkaian intrik. Bahkan acara besok sore itu pun tak lepas dari rangkulan intriknya. Setelah terpisah jarak dan waktu, manusia aneh bukan?

“Aku oke aja ke rumah Hanif loh, Sit. Terserah bagaimana kamunya,” dengan muka datar aku melirik Anto dengan ujung mata. Setidaknya otakku berputar mencari senjata pamungkas kalau-kalau Wati mengakali rencana busuk.

Aku dan Anto datang bertepatan ketika Wati tengah merangkul mesra Hanif. Rumah Hanif seperti disulap bukan saja untuk acara buka puasa ataupun reuni. Tapi ada kekhusyukan dalam aroma melati yang ditangkap hidungku. Mereka lalu berjalan ke tengah ruangan dan memproklamirkan pernikahan mereka. Drama apa pula ini, pikirku. Selayaknya sinetron, si antagonis kali ini diperankan oleh Wati. Di keriuhan enam puluh delapan orang teman angkatan, perempuan itu membuat gaduh dengan menceritakan sayembara sebelas tahun lalu itu. Seperti mayat, pucat pasi mendadak menghampiri mukaku, terbayang reaksi yang akan kuterima dari Anto. Sambil merangkul pinggangku dengan tangan kirinya, Anto berujar “aku telah diberitahu Hanif dua bulan lalu, Sayang. And I love your drama.”

Where Am I?

You are currently browsing the Cerpen category at Adek's Blog.

%d bloggers like this: