Menjemput Yadas

22/11/2014 § 1 Comment

Pukul dua belas lebih empat puluh sembilan dini hari, tiga orang lelaki memasuki sebuah kedai bernama Nusantara. Satu orang berumur lima puluh tahunan dan dua orang lainnya sekitar tiga puluh tahunan akhir. Satu di antara tiga puluh tahunan itu tampak paling menonjol. Kulitnya sedikit gelap, rahangnya tegas, lesung pipi dan bermata dalam. Dini hari itu dia memakai t-shirt tanpa lengan. Mereka masuk diantar porter yang sekaligus dibayar hingga urusan check-in.

Kopi hitamku baru kureguk dua cecap. Ah, terlalu manis, umpatku. Ibarat jam dinding, si lelaki bermata dalam berada di angka delapan dan aku di angka enam. Sedikit berhadapan secara serong namun itulah sepertinya celah terbaiknya sering memantau gerikku.

Di hadapanku, enam bapak-bapak berkumis beraneka-ragam tampak asyik dalam obrolan tidak penting mereka. Berbicara lalu tertawa, sambil menikmati kopi masing-masing. Sesekali mereka juga melihatku takjub lalu tersenyum, mungkin karena aku satu-satunya perempuan di warung itu di tengah malam begini.

Dua puluh menit kemudian, rombongan bapak-bapak berkumis aneka ragam meninggalkan warung Nusantara. Tersisa kami berempat dan si lelaki bermata dalam kian berani. Dia menyambangiku dan duduk di kursi sebelahku. Baik, sesekali patut juga mengevaluasi latihanku saban hari kepada ganteng ini, batinku tertawa puas.

Anehnya, salah satu teman si lelaki bermata dalam merogoh dompet dan memberikan beberapa lembar seratus ribuan kepada kasir sambil berbisik entah, padahal mereka belum niat menyelesaikan transaksi di warung itu. Ya, aku yakin sekali bahwa uang itu adalah untuk menutup mulut agar keonaran mereka di warung Nusantara berjalan aman setidaknya membiarkan aksi teman mereka terhadapku.

Sesuai perhitunganku, memang benar si lelaki bermata dalam berniat menyalurkan sesuatu yang menyembul dari dalam dirinya. Tiba-tiba secepat kilat dia meremas pinggulku, mendekatkan kursinya hingga tiada lagi jarak antara aku dan dia. Mulutnya yang seperti bebek lapar, menyosor wajahku. Cukup dua menit aku melayaninya. Berpikir cepat, lumayan untuk hidup beberapa hari ke depan dengan mengorbankan hanya dua menit.

Dalam amarah dan tangis palsu, aku melempar sisa kopiku kepada si lelaki, menamparnya, lalu berlari meninggalkan mereka. Sebuah taksi langsung mengantarku ke peraduan. Hari ini aku tak perlu ke terminal atau stasiun untuk berburu recehan. Sesekali ke bandara lumayan juga penghasilanku. Bonus untuk ke salon pun kudapatkan. Kuelus-elus juga dompet bermerk Yadas itu sampai tertidur.

Jakarta, 22 Nopember 2014.

Advertisements

§ One Response to Menjemput Yadas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Menjemput Yadas at Adek's Blog.

meta

%d bloggers like this: