O, Eka Kurniawan

Blurb novel ini hanya bertuliskan, “Tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan Kaisar Dangdut.” Terdengar absurd memang, tetapi setelah mendalami kisahnya dengan membaca keseluruhan halaman novel malah mencuat pertanyaan, ini cinta atau ketololan? Bukannya cinta malah suka bikin kita tolol ya?

Kepiawaian Eka Kurniawan dalam meramu cerita tentang potret sosial memang tak perlu diragukan lagi. Berawal dari kisah sederhana tentang seekor monyet bernama Entang Kosasih yang begitu ingin menjadi manusia (padahal kan jadi manusia ribet sekali), pembaca kemudian digiring pada kisah tiap karakter yang kuat karena terasa begitu hidup dengan ironi kehidupan masing-masing. Jika kisah mereka dipisah akan tetap bisa berdiri sendiri. Pun ketika disatukan akan utuh dalam satu kesatuan cerita seperti puzzle yang selesai dirangkai tanpa meninggalkan bolong atau kejanggalan dalam plot. Alurnya loncat-loncat (kayak Entang) tapi tak sedikitpun mengurangi kenikmatan saya melahap novel ini.

Sepertinya sudah menjadi ciri khas Eka Kurniawan menghadirkan begitu banyak karakter dengan nama-nama dan sifat mereka yang unik. Semua bikin saya meringis, jijik, geram, bahkan benci. Di sisi lain membuat saya kasihan, berempati, menertawakan, sampai mencintai mereka. Ah, sungguh perasaan saya benar-benar diaduk-aduk oleh penulis.

Pertama membaca rasanya ingin cepat mengkhatamkan novel ini karena begitu penasaran tentang apa yang kemudian terjadi pada kisah cinta O dan Entang Kosasih, apakah mereka benar-benar menikah? Apakah Entang Kosasih benar-benar menjelma menjadi manusia-seperti keinginan dan keyakinannya? Apakah O juga bisa mewujudkan asanya untuk menjadi manusia seperti kekasihnya yang diyakini telah menjelma Kaisar Dangdut? Bagaimana kelanjutan hubungan Pak Polisi Sobran dengan Dara, kekasih Toni Bagong yang telah menjadi incaran sang polisi untuk dibuikan bahkan ditembak mati di Nusa Kambangan? Mendekati halaman-halaman akhir, saya malah ingin novel ini bertumbuh agar makin lama membacanya. Saya merasa harus terus terpuaskan dengan cerita ini. This story is my cup of tea.

Adrenalin saya terpicu mendapati adegan-adegan yang ditulis dengan apa adanya tapi mengerikan. Beberapa manusia bertingkah seperti binatang, mereka telah kehilangan sisi manusiawinya. Sebaliknya, beberapa binatang malah bertingkah seperti manusia. Paradoks yang membuat saya berfikir sekaligus miris terhadap kehidupan itu sendiri. Ada yang tak acuh ketika melihat sesamanya dianiaya. Ada yang memilih tak membalas setelah diperlakukan semena-mena. Ada yang begitu nyaman berkubang dalam kemelaratan. Ada yang tak segan menyiksa bahkan membunuh hanya untuk memenuhi ambisi ataupun dendam pribadi.

Ada hal yang juga sabar mendekam: dendam. Ia bisa menyala berkorban membakar apa saja. Di lain waktu, ia barangkali hanya bara kecil yang terpendam. Dendam dilahirkan untuk sabar mendekam. -hal. 129.

Secara keseluruhan, saya kagum dan memberi applause pada bagaimana penulis mengakhiri kisah tiap karakter. Ada rasa puas, sedih, dan haru dalam hati ketika menutup lembaran terakhir novel ini. Akhirnya, setelah perjalanan membaca bertahun-tahun saya kini mengetahui dengan pasti bacaan seperti apa yang bisa membuat saya puas. Ya, bacaan seperti novel O ini.

Secara teknis, saya sedikit terganggu dengan terlalu banyak penggunaan kata “memerhatikan” di sepanjang novel. Selain itu, kertas sampul juga sangat ringkih dan tergelung. Tapi terlepas dari itu semua, kesabaran saya menunggu pre order selama dua bulan terbayarkan.

“Kau tahu kenapa ayahmu almarhum memberimu nama yang lucu itu? Nama yang pendek? Hanya satu huruf? tanya ibunya. Si gadis menggeleng. “Itu untuk mengingatkan betapa hidup ini tak lebih dari satu lingkaran. Yang lahir akan mati. Yang terbit di timur akan tenggelam di barat, dan muncul lagi di timur. Yang sedih akan bahagia, dan yang bahagia suatu hari akan bertemu sesuatu yang sedih, sebelum kembali bahagia. Dunia itu berputar, semesta ini bulat. Seperti namamu, O.” -hal. 418

PS: ini adalah review lima tahun lalu yang mendekam di catatan handphone saya. Menuliskannya kembali di blog yang lebih setahun saya tinggalkan. Sepertinya ingin membaca ulang O tahun ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s