Pada Suatu Hari, Waktu Juga Cemburu

Aku cemburu pada Sang Waktu. Dia, Sang Waktu itu, bisa kapan saja mendatangi kekasihku. Oh bukan, kami tak sampai jadian. Meski debar kami tumpah melebihi mereka yang Sah, kami tak selesai merajut Akad.

***

“Aku sedikit lagi gila,” katamu.
Aku diam, menarik nafas dan menunggu apa ujarmu setelah itu.

“Orang kantorku bisa bikin komunitas baru. Namanya Brengsek People Never Die. Bajingan!! Sampai kantor pagi-pagi aku langsung disuguhi kabar selebritas di televisi dan seonggok orang yang membahas dan menyela si Anu, bilangnya si Seleb udah gemuk, pendek, kaki rendah, betis gede pula. Mereka juga yang dulu aku damprat karena bicara mencla-mencle yang tempo lalu aku cerita. Aku sampai teriak nggak berguna ke mukanya. Gila, iya kalau kerjanya bener dan mukanya lumayan. Buset, kerjaan kelayapan mulu ke pasar. Nggak kehitung gunjing fitnah. Kesabaranku benar-benar sudah tidak lagi toleran. Penantianku telah kedaluwarsa. Gimana ya caranya biar aku lolos setelah bakar kantorku. Atau aku sewa orang, kamu punya kenalan?”
Saat itu aku melihat api di matamu. Berkobar garang. Merah menyala. Aku mengenalmu sebagai orang lain. Bukan kamu. Bukan Perempuan Bermata Sendu. Bukan lagi.

“Kita makan dulu, aku udah pesan tempat di Kemang, dekat Grand Zury, hotel baru di Padang. Kamu pasti suka fasadnya. Berani taruhan. Rekanku tiba-tiba batal rapat karena istrinya pendarahan.”
Seingatku, saat itu aku masih percaya, tepatnya mencoba percaya bahwa kamu masih Perempuan Bermata Sendu yang kukenal dulu. Aku-yang mencintaimu diam-diam-mencoba tenang dan menawarkan dingin untuk hati kita yang sama-sama panas. Panas untuk alasan yang berbeda.

Sekembalinya kita ke rutinitas masing-masing, tak kuhubungi kamu untuk beberapa waktu. Ah, kupikir biasa maki-maki teman kantor yang kurang kerjaan.

Kata teman-temanku, kamu, orang kantormu, dan mereka dengan spesies yang sama dengan kalian memang digaji untuk baca koran pagi dan menghabiskan banyak waktu dengan duduk di warung dari sarapan hingga makan siang. Wong gajinya kecil bahkan minus, buat apalagi kerja. Toh, yang penting kalau sakit ada BPJS. Tua, mati, dapat pensiun. Lalu, jika merasa tunjangan lebih rendah dari institusi lain, ya tinggal demo dan mogok kerja. Kemudian istri-istri orang kantormu sibuk mengkonfirmasi gaji-gaji suami mereka. Lucu sekali. Satu hal lain aku tak pernah lupa, kamu bahkan meneleponku saat aku berada di luar negeri, dengan tidak sabar kamu bercerita baru saja istri orang kantor menanyai gaji suaminya kepadamu, padahal si wanita bekerja kantoran juga dan kaya (setidaknya dari segi materi). Pesanku ketika itu, kelak jika bersuami nanti, terimalah segala kekurangan suamimu berikut kekurangan gajinya. Kita tak selesai tertawa bersama karena pulsamu habis.

Aku ingat betul kamu selalu sewot setiap kali aku mengutarakan lagi obrolan kita itu. Yang pasti, aku sengaja membuatmu begitu, agar kupu-kupu di perutku berkecipak.

“Semua orang pasti mati kok, santai aja, aku nggak nyari apa-apa di dunia ini,” bisikmu.
“Aku merayakan hidup dengan caraku. Aku hanya muak dengan duniaku yang penuh tipu daya dan kongkalikong. Panggil aku si Bodoh karena tidak turut pada norma hatiku. Sebut aku Anomali yang sering tertidur di ranjang hangat milik Arya. Aku bukan bidadari tanpa sayap lagi nihil dosa.”
Cercamu dengan lisan yang paling lirih. Mungkin kamu satu-satunya orang yang kukenal yang tak takut mati. Seperti teman lama, kamu dan kematian selalu rindu untuk berbincang, melebur ulang kisah-kisah usang.

***

Malam itu rindu kami tuntas. Ini pertemuan terakhir kami, batinku. Dan benar. Sang Waktu lah yang mungkin dengki dengan kita. Aku yakin itu. Aku pun tak pernah menanyakan apa-apa lagi padamu. Pada rotasi bumi. Pun pada Tuhan-ku.

Aku manusia modern yang tak percaya takhayul, awalnya. Tapi berita dari mereka, kekasihku direnggut oleh takhayul berbau mistis dengan kemenyan yang menebar wangi dimana-mana. Seperti maling, teror itu merasuki kekasihku di tengah malam buta tanpa izin. Sekarang aku tahu, takhayul lah yang iri dengan kisah kami.

Perempuan Bermata Sendu-ku kini terpaku di sudut bisu. Dia diasingkan tak hanya olehku. Juga bayangannya sendiri. Pun Sang Waktu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s