Toples

“Kapan lagi sih, Kak? Itu kalo adekmu motong antrian, kan Mamah juga yang malu,” celoteh Mamah sambil mengunyah Corn Flake kesukaannya.

Tersungut-sungut aku menjawab santai nyaris tanpa suara. Ah seperti zaman batu saja. Apanya yang buat malu. Bukannya ini sudah zaman paling modern tanpa harus memikirkan umur untuk menikah. Sibuknya semua orang mengalahkan jalur Trans Jakarta mengurusinya. “Mah, jangan dibikin rempong deh, aku oke aja kok si Adek duluan. Kalo masalah Mamah yang malu ya itu bukan urusanku.”

“Ya gak boleh gitu lah, Kak!” Mamah membanting tutup toples. “Masalah Mamah pasti urusanmu juga. Kalo nanti dibilang Mamah gak berusaha mencarikanmu jodoh, padahal sudah delapan kali kamu menolak mentah-mentah anak-anak relasi Mamah, apa kata orang. Kakekmu terutama. Doi bersumpah kamu harus menikah tahun ini juga. Aku mohon tolonglah Mamah..” Kali ini Mamah berbicara tak kurang sepuluh senti dari hidungku.

“Salah Mamah sendiri, aku maunya sama Om Handoyo, tapi Mamah sontak menolak dunia akhirat.” Aku mencoba membuat spekulasi. Mumpung. Sepertinya ini saat-saat yang kutunggu.

“Anaknya aja ya, Sayang, ya? Nak Doni kan cakepnya sama kayak Bapaknya. Nanti Mamah deh yang bujuk Om Handoyo agar pertunangan anaknya dibatalkan. Ya ampun kak, kamu bakal beruntung banget kalo bener-bener bisa menggaet Nak Doni. Apa kurangnya dia, lulusan luar negeri, pewaris tunggal perusahaan bapaknya, ganteng lagi.” Mamah dengan semangatnya bahkan seperti germo yang menjajakan dagangannya. Aku tersenyum puas.

“Kalo gitu aku mau satu syarat.”

“APA?” Nada Mamah kali ini membahana dalam isi toplesku yang kini kosong, dalam seisi rumah tenang dan kini membuat Papah terbangun dari stroke panjangnya.

“Aku mau Mamah bersumpah demi langit dan bumi. Aku mau menikah dengan Doni asal Mamah mengakhiri perselingkuhan dengan Om Handoyo!”

Hening. Dua toples mengakhiri riwayatnya. Sama selesainya dengan riwayat isinya yang telah tandas di lambungku dan lambung Mamah. Seingatku, dua toples itu adalah oleh-oleh Om Handoyo dari Thailand tahun lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s