Kamar Kesedihan

Kamar di seberang itu dari luar memang tampak asri. Berbanding terbalik dengan interiornya yang berwarna sendu. Setiap orang yang akan memesan kamar tersebut haruslah memiliki aura kesedihan yang dalam dan seorang penyepi. Jangan pernah kau sekali-kali berbohong karena penasaran untuk mencoba tinggal di sana, resepsionis akan segera mengenali auramu. Seperti tuhan, dia tidak akan pernah tertipu.

Seorang perempuan dan balitanya datang tadi malam dan menginap di kamar itu. Tak seperti kamar hotel umumnya, mereka yang datang tak perlu repot membawa pakaian ganti, bekal, bahkan uang untuk membayar kamar. Tega sekali rasanya jika kemurungan masih juga harus berbayar. Maka sarana apapun disediakan dengan baik dan cukup oleh pihak pengelola. Di malam kedatangan mereka, atmosfer sekitar mendadak memanas, bulan sempurna purnama meskipun secara penanggalan belum waktunya, dan beberapa patahan ranting segar tergeletak di teras kamar kami.

Pagi sebelum meninggalkan kamar, kami melihat perempuan itu mengenakan terusan putih rendah tengah sibuk dengan telepon genggamnya sambil memangku si bocah. Sekilas, tak ada gurat kesedihan yang muncul, anak itu berceloteh tak jelas, ingin mengajak bercerita pikirku. Ingin sekali aku mengajak anak yang lucu itu untuk jalan-jalan dan membelikannya coklat, semua anak-anak di permukaan bumi ini tentu menyukainya, sekadar untuk meringankan sedikit kesedihan mereka. Lalu, di detik ibunya melihatku, tak sengaja kami bersitatap dan kedua mataku seakan terkunci di sana. Aku bisa melihat jurang yang menganga di hatinya, seperti trauma, seperti ingin membunuh semua laki-laki hingga tiada bersisa. Seolah dengan begitu semua kesedihannya terbayar lunas. Entahlah. Istriku merasakan keanehan yang begitu rupa dan dia memaksa untuk segera check out.

Sebulan sudah bulan madu kami berlalu, namun sebagian jiwaku tertinggal di mata perempuan asing itu. Aku harus menyelesaikan masalah yang tak kubuat ini. Aku seolah bertanggung jawab untuk sebuah kehidupan yang seperti dejavu. Maka kuputuskan perjalanan bisnis yang semula ditangani oleh Rikzan, rekan kantorku, langsung kuambil alih.

Hujan deras menyambutku, pohon yang rerantingnya bulan lalu gugur itu kini meranggas. Jangan-jangan dia mati muda karena turut mengaliri kesedihan perempuan itu. Kamar yang kami tempati dulu itu seperti tahu aku akan kembali. Dari teras aku mendengar tangisannya. Tangisan yang begitu menyayat hati siapapun yang mendengar. Tangisannya membuat bulu remangku berdiri.

Syahdan, aku mengetuk pintu dan persis ketika tanganku melayang di udara untuk ketukan kedua, ia membukakan pintu. Pintu yang kelak kusesali setelah mengetuknya. Ia mengajakku berdansa, kami menari sampai pagi. Hingga esok hari, hingga berbulan-bulan, hingga waktu yang tak kuingat lagi aku memiliki seorang perempuan yang baru sebulan kunikahi. Terngiang, ingatanku mendesak, meski tak ada gunanya, aku mendengar lagi si resepsionis bulan lalu berpesan jangan pernah mendekati kamar itu jika tidak ingin kekal di dalamnya. Kami pun kembali berdansa hingga waktu yang entah.

Kuta, 31 Maret 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s