Disappear

05/12/2017 § Leave a comment

Dear Alesha, someday, i hope you will know how to forgive trully. Forgive, as i know on my thirty two living in this world, is not an easy job to do. But, please do not make this as an excuse. I do hope to you, i really do.

Or, should we, human being, pleased to God to make mistake disappear?

What’s next after being four btw, my girl? Climbing mountain with me, maybe? I wish we could meet again and again doing other “menyenangkan” things. Happiest birthday, Alesha. Mantee always miss you.

Advertisements

The Last Part of Bridezilla: Sulitnya Menjadi Lajang di Usia 31 (di Indonesia)

24/05/2017 § Leave a comment

Akhirnya saya tidak lagi single di usia 32 tahun. Satu pertanyaan penting sejagad raya dari orang-orang tidak lagi saya rasakan. Membahagiakan? Melegakan, iya. Hari ini adalah H+19 saya berstatus sebagai istri. Tepatnya tanggal lima Mei lalu saya diserahterimakan secara agama dan negara dari Bapak ke Suami. Terlambat? Literally not, karena seperti kak Sophia Bush bilang: “marriage is not about age; it’s about finding the right person.” And yes, he is my right person. Hello again, my 6 pm.

Menikah di usia tiga dua kurang dua minggu di sini, di negara kita Indonesia itu cukup berat, kakak. Apa saja cerita yang memberatkan itu? Here we go!

Mari flashback sebentar di beberapa saat sebelum lima Mei. Saat-saat pertanyaan orang-orang seragam dan terdengar begitu menyindir atau mencemooh. Hai para double di luar sana, pertanyaan kalian itu tidak pernah mengenakkan hati. Sungguh.

Sudah nikah?” atau “Kenapa masih belum nikah?” Itulah satu ragam pertanyaan yang saya jumpai dengan orang-orang baru di travel, di warung minum kopi, di mesjid dekat kantor baru, di angkot jika duduk di sebelah abang sopir, di pasar tradisional (bahkan si uni semangat mencarikan saya jodoh di kota yang baru dua minggu saya tinggali waktu itu, duuuh baiknyaaa), setiap bertemu teman ibuk dan/atau bapak, sepupu nun jauh di kota seberang jika teleponan, pertanyaan mereka hanya satu. Ya, itu tadi, kenapa masih belum juga menikah.

Bangsa ini seolah ditakdirkan memiliki warga yang sangat peduli dan harus tahu mengenai status perkawinan seseorang.

Tentu pertanyaan itu disebabkan karena faktor umur. Sebenarnya siapa sih yang pertama kali memberi patokan umur ideal menikah ini? Mungkin kaitannya erat sekali dengan usia produktif sel telur untuk kemudian menjadi generasi penerus. Lho, kok jadi kayak kelas biologi, ya? Padahal kan yang nulis anak IPS. 

Draft ini saya tulis jauh sebelum punya rencana menikah. Simply untuk lucu-lucuan atau hanya sekadar sharing, dapat judul di atas itu juga sudah sejak kapan hari tapi untuk menuliskannya seperti begitu sulit. Postingan tanpa direkayasa ini saya anggap semacam memorabilia, ya siapa tahu nanti bisa dibaca anak cucu kami. Hihi. 

Mengapa mesti nikah dulu baru bahagia? Kebahagiaan itu sesederhana ketika kaki saya tidak mampu meraih ransel di bagasi kabin dan tanpa diminta bantuan, seorang bule ganteng bilang “may i help you?”

Kebahagiaan itu ketika merasa cukup dan memutuskan quit dari posisi kantor yang berjibaku dengan uang, uang, dan uang. Percayalah, hidup terlalu singkat jika hanya bekerja mengurusi uang dan menumpuk uang. 

Kebahagiaan itu ketika diantar oleh seseorang yang baru dikenal beberapa menit sebelum ke bandara untuk pulang, ke sebuah destinasi menarik lain, untuk dua minggu kemudian doi melamar saya, lalu ketika kami berencana untuk bertemu lagi sebuah kabar yang sangat mengejutkan membuat bubar semuanya dan sampai hari ini kami tetap berteman. Ralat: pacarnya yang posesif level akut menjadikan Yek tidak bisa mengakses sosmednya, dan membuat dia “steril” dari saya. 

Kebahagiaan adalah ketika ditelepon anak-anak teman yang dengan tulus mencintai kita; bertanya kabar, mendengar cerita mereka tentang segala hal; menangis drama tak ingin berpisah ketika reuni setelah beberapa minggu tidak bertemu; hingga merasakan telepati dengan Asha dari jarak ribuan kilometer. 

Kebahagiaan itu tenggelam dalam bacaan-bacaan dari penulis favorit yang sampai sibuknya membaca tidak lagi punya waktu untuk galau. 

Kebahagiaan itu berada di perjalanan seorang diri di kereta api ataupun kapal laut di sebuah tempat yang baru pertama dikunjungi, tanpa ngobrol dengan orang asing, seolah menarik diri dari segala elemen luar dan hanya fokus akan elemen internal diri. Dan di situ ada sebuah keyakinan akan semua hal sudah berjalan sesuai dengan koridornya, dengan relnya, lalu terbahak menertawai diri sendiri.

Kebahagiaan itu bertemu idola di rumahnya, secara pribadi membahas hal-hal di luar literasi, untuk kemudian menjadi teman baik. 

Kebahagiaan itu terkadang begitu murah. Seperti saat saya berteman baik dengan seorang manula, bercakap-cakap di pertemuan-pertemuan tidak rutin kami mendengarnya mengingat masa mudanya yang digilai laki-laki gagah kala itu. Cerita-cerita yang sama dengan tawa-tawa kami yang sederhana.

Lalu, kenapa kemudian kebahagiaan hanya diidentikkan dengan menikah saja? Satu hal yang saya betul-betul rasakan dalam kehidupan dan saya catat adalah: happiness is one thing, marriage is another. 

Last but not least, tahun ini ibu saya tidak lagi mengeluarkan air mata mengucapkan selamat ulang tahun. Ya, bahagia saya juga membengkak melihat tawa dan tangis harunya di hari itu. Well, untuk semua fans di luar sana, welcome to the friendzone. :p

Bridezilla (part 2)

06/04/2017 § Leave a comment

When you look for the right person, you always end up with the wrong one. But when you just sit by the corner and wait, he comes along and shares the corner with you.” –Unknown Author

Jadi di sini ada berapa orang yang pacaran lama, mungkin sembilan tahun, apa tujuh tahun, apa lima tahun, dan nggak dilamar-lamar? Rasanya kayak apa sih? #kemudiandijitak.

Dan saya adalah tipe orang yang nggak bisa pacaran sebenarnya. No, saya juga bukan termasuk golongan yang mengharamkan pacaran. Apa ya, pokoknya nggak bisa dan nggak pernah pacaran lama. Bentaran, ya pernah, tapi kok ya bawaannya kalo nggak cinta banget trus jadi posesif dan putus, atau LDR lalu kebanyakan parno dan putus, dan jadilah saya menenggelamkan diri dalam novel-novel koleksi saya daripada galau nggak jelas. #mulaitoomuch

Lalu kesantaian saya merambat semakin asyik dan menyenangkan dalam novel ataupun perjalanan-perjalanan saya, hingga menikah is not a must thing to do dalam waktu dekat buat saya. Sebagai anak, mungkin saya rada-rada durhaka karena nggak pernah menanggapi permintaan serius orangtua tentang segera menikah. Sebagai anak yang terlahir dari keluarga konvensional, tentu keputusan saya mencari dan menemukan calon yang tepat untuk dijadikan suami dengan rentan waktu yang cukup lama ini adalah sesuatu yang menjengkelkan. Begitulah, just sit and wait; saking wait-nya anteng banget saya mesem-mesem aja disodorin banyaaakk calon dari berbagai pihak. HAHAHA!

Hingga sampailah pada hari ini, hitung mundur kurang dari tiga puluh hari lagi. Kombinasi nggak bisa pacaran lama dengan sit and wait tadi menjadikan kami berkenalan, dekat, saling mengenal lebih dalam, hingga 6pm melamar hanya butuh waktu enam bulan saja. ALHAMDULILLAH. And the clock has been ringing over and over the tunes already. GROGOL GILAK, KAKAAAK!

Many friends started asking about my preparation. So far, everything is fine and still… sleepless. 6pm yang diharuskan dipingit oleh keluarganya jadi jarang bertemu dengan saya, tapi ya, tentu kami masih curi-curian waktu untuk kangen-kangenan. Hahahalah! Nakal memang, tapi kan rindu. *tsah

Wejangan demi wejangan pun menghiasi hari-hari saya. Dari telepon teman kuliah yang beda kota, teman instansi yang udah mutasi, hingga keluarga besar. Juga ada pihak-pihak yang dengan senang hati memberikan petuah-petuah miringnya yang apalah-apalah itu. Ah, thank you, guys, kalian that’s what friends are for, deh.

Bridezilla (part 1)

22/03/2017 § Leave a comment

John Florio once said, “A good husband makes a good wife.” And i said yes to my 6pm—he’s such a very kindhearted person. No, this is not only me that said so. Feel free to believe me. The man who is peachy in understanding my weird, my ego, and my solitude.

Hari Sabtu lalu pertama kalinya di meja makan ngobrolin calon mantunya Bapak, bareng Bapak dan kakak ipar gw. Hamdalah, akhirnya Bapak punya (calon) mantu dari anak perempuannya yang rempong—bukan rempong, doi simple, simple tapi tegas, begitu pengakuan Priska persis hari Selasa kemarin ketika gw beri kabar ini—dan yang juga sering bikin Mamaknya nangis tsurhat ke orang-orang dekat sekeliling anak gadisnya ataupun ke keluarga besar—daftar orang yang dicurhatin ini makin panjang setelah kabar bahagia ini akhirnya release karena satu demi satu mereka buka suara, and i don’t know that i was supposed to be jubilant, or i was supposed to be awful either—bertanya kenapa anaknya tidak kunjung memutuskan untuk menikah, setelah…puluhan purnama. Atau ratusan?

Merasakan deg-degan setelah mengetahui tanggal pernikahan itu ternyata rasanya seperti ini. Ya, seperti ini. Seperti apa ya? Yaah, cukup sulit digambarkan dengan kata-kata (halah). Yang pasti senenggg banget, bahagiaaa melihat Mamak dan Bapak seperti menemukan sesuatu yang selama ini belum ketemu untuk kemudian menemukannya dalam waktu yang kata orang-orang konvensional cukup lama (hahaha). ALHAMDULILLAH. Semoga hari-hari menjelang hari H semua pihak selalu sehat dan segenap proses dimudahkan.

Regards,
Bridezilla

Pelipur

06/02/2017 § Leave a comment

                                                    Untuk Akang

“Kebun ini sudah berumur lanjut, bahkan dia lebih tua dari si empunya sendiri,” jelas laki-laki yang sedang buru-buru membuka pintu rumah setelah bel berdering, “Tanah yang terbentang cukup lebar untuk ditanami Mawar, Kamboja, Kersen, beberapa malah tanaman palawija untuk memasak, hanya durian yang belum kucoba tanam, he he” tambahnya seraya tertawa sekembali menerima tamu, mengapit lagi jari-jariku ke dalam genggamannya. Seseorang tengah memasak sore itu, makanya dia yang tergopoh-gopoh membuka pintu dan meninggalkanku sejenak.

Macet jalanan di depan rumahnya menjadi pemandangan kami mengobrol di teras samping. Rumah tanpa pagar, lorong penghubung halaman depan dengan pintu rumah cukup panjang, terbuat dari berbagai tanaman dan diberi sedikit sentuhan berbelok menjadikan rumahnya unik, asri, menyatu dengan alam, dan membuat nyaman siapapun yang datang. Termasuk aku. Ruang tengahnya penuh rak buku, tanpa televisi, kursi tamu yang terbuat dari kayu dan diselingi beberapa bahan rotan. Ah, betapa aku jatuh cinta dengan rumahnya yang tidak biasa itu. “Kota kecil ini semakin sesak, motor begitu murah untuk dicicil hari ini,” kalimatnya memutus lamunanku yang sedang melihat seliweran kehebohan di jalan raya, seolah mengerti apa yang kupikirkan. Dia datang sambil membawakan tempe goreng, camilan favoritnya. “Anak bungsuku pasti marah kalau tahu aku makan gorengan lagi,” ujarnya pelan seperti berbicara untuk dirinya sendiri, lalu mata itu melihatku, kami saling bertatap dalam diam, dalam gemuruh hati masing-masing. Hujan tiba-tiba datang padahal sore masih begitu terik, “mungkin kerinduanku menangis bahagia karena kedatanganmu,” katanya lagi, kali ini sambil mengecup pipiku, lalu dia berdiri pamit ingin menemui rekannya yang tadi datang.

***

Telah dua bulan kutinggalkan rumah setelah ibu memaksaku menikah dengan laki-laki pilihannya. Ayah tentu menyokong apapun keputusan ibu, apalagi terkait dengan calon yang telah dipilihkannya. Sebelumnya aku susah payah meyakinkan ayah kalau aku sudah punya pacar—tentu ini hanya aksi penyelamatanku dari segala macam paksaan dan comblangan dari keluarga. Agar ayah dapat membantuku dari begitu besarnya gencaran ibu dalam memilihkan jodohku. Kemudian mereka yakin kalau itu hanya bohong belaka. Dan datanglah hari itu, hari di mana Restu datang membawa serta keluarganya dan pinangan mereka datang ke mukaku sekelebat petir di siang bolong, tanpa tanda-tanda, tanpa aba-aba.

“Sungguh, Bu, Disty bukan gadis yang begitu mudah jatuh cinta lalu bisa menikah dengan pilihan ibu hanya dalam waktu dua minggu kemudian, apa ibu mau melihatku mati bunuh diri?” tangisku pecah waktu itu, di sela pertemuan dua keluarga sahabat karib itu. Restu bukanlah orang baru yang dikenalkan kepadaku, beberapa tahun silam ibu memberikan bayangan akan Restu dengan pekerjaannya yang semakin membaik di perusahaan tempatnya bekerja, Restu dengan keluarga baik-baiknya yang telah ibu kenal sejak SMA, namun saat itu Restu masih ingin melanjutkan kuliahnya. Ibu pun mundur dan mencarikan pilihan-pilihan lain. Dan nihil. Hingga Restu kembali dan hatinya mencair. Sakit hatiku baru terlampiaskan hanya dengan pergi dari rumah.

Laki-laki muda betul-betul jahanam. Begitulah selalu terpatri dalam otak dan hatiku. Mereka selalu memandang dengan liar, tanpa hati, tanpa sedikit pun menghargai. Satu dua yang tampak kalem hanya akan menunggu waktu untuk akhirnya sama dengan yang banyak. Kesetiaan tidak bersumber dari kantong-kantong lelaki muda. Seperti kekasih Asti yang kepergok di lusuhnya Gang Dolly atau teman kampusku dulu, Anton, yang bercerai dengan istrinya karena kepincut pembantunya sendiri. Kebaikan merambat datang kepada laki-laki muda seiring bertambahnya waktu, seiring uban yang memantul ke permukaan kulit kepala, seiring kehadiran osteoporosis yang tak direncanakan, dan kemudian wajah mereka bersinar dewasa dan memesona.

Aku bertemu dengannya di sebuah siang yang bahagia, saat acara peluncuran buku salah satu penulis idolaku, Seno Gumira Ajidarma, yang kemudian hari kuketahui bahwa SGA adalah sahabat karibnya. Dalam balutan kemeja tosca—sial betul kenapa kemejanya sewarna dengan kemejaku, dia yang kutaksir berumur lima puluh tahunan, terlihat sangat ganteng. Di Kemang Selatan itu, aku jatuh cinta dengannya di detik itu juga. Seperti perempuan muda lain yang jatuh cinta, keagresifanku memuncak. Seorang teman dari sahabatku adalah tetangga Seno, dan sahabatku mengatur semuanya untukku.

Istrinya baru tiga bulan meninggal karena kecelakaan ketika mengunjungi anak mereka yang kuliah di luar kota. Saat itu mobil travel yang ditumpangi istrinya melintas dengan kecepatan tinggi dan membentur pembatas tol. Sopir dan lima penumpang tewas seketika.

Kesendirian dan kesedihan mengurungnya berhari-hari, untuk mengurangi dukanya dan kebetulan buku sahabatnya rampung, maka diundanglah dia oleh Seno. Bukan kebetulan sebenarnya, mungkin garis nasib atau takdir. Lalu tak ada perintang dalam pertemuan-pertemuan kami selanjutnya.

Kami tak pernah bertemu di rumah, yang benar saja, ibu dan ayah pasti menolak aku menjalin hubungan dengan laki-laki sebaya ayah. Di rumahnya apalagi, jarak kotaku dan rumahnya yang ratusan kilometer tentu tak efisien, lagi pula duka masih bergayut di rumah itu. Jarak yang awalnya menjadi kendala berganti menjadi berkah, kami merenda rindu di atas rel kereta api, di atas aspal dalam bus antar kota antar provinsi, atau di atas awan dalam kabin pesawat, saat-saat di mana kami saling berkunjung untuk bertemu di satu tempat lalu pulang dengan saling mengantar. Tapi tak pernah sekali pun ke rumahnya ataupun ke rumahku.

Hari-hari sepeninggal istrinya, dia hanya tinggal sendirian di rumah, satu anaknya di Yogyakarta dan satunya lagi bekerja di luar negeri. Saat kuceritakan kepadanya tentang hidupku dua bulan terakhir ini yang aku habiskan dari satu gunung ke gunung lain, dari satu ranjang reot kamar murah satu ke kamar murah lain karena tabunganku semakin menipis, dia akhirnya menyuruhku datang ke rumahnya, tinggal di salah satu kamar di bangunan belakang rumah yang biasanya digunakan oleh keluarga besarnya untuk menginap ketika lebaran.

Mbak Lita sudah pulang ketika sop daging, sambal krecek, tumis kangkung, dan sapo tahu yang dibikinnya telah matang dan tersaji di atas meja makan. “Nanti saja melihat-lihat kamarmu, ayo cuci tangan dulu,” sapanya saat aku berdiri di pintu belakang melihat bagian sisi belakang rumahnya yang terdiri dari pendopo, tempat ibadah, dan hamparan kebun penuh bunga dan tanaman yang terkoneksi dengan kebun di samping rumah.

Sore itu meja makan kami begitu memancarkan gurat-gurat kebahagiaan. Dia menyendokkan sop panas ke piringku, menambahkan nasi lagi ke piringku, ah, betapa ingin kuberitahu ayah dan ibu bahwa dialah orang yang sangat kuinginkan.

Padang Panjang, 06 Pebruari 2017

What Would You Do If Money Was No Object?

31/01/2017 § Leave a comment

I found a topic on boredpanda, and read the answers from readers made me smiled, and now on i write my answer on my blog. This is from my sight-call it my desire.

I quit my recent job and living in a farm house, in the middle of paddy field and The Mountain as the background, with the children’s singing every single morning with the birds. Being a writer and a florist. Selling my own flower and many kind of veggies directly in local market.

Once a year having trip to the different culture, different outlook of people, different skins, and different taste-simply to teach my children about the differences and how bad and dangerous the discriminations are due to the differences. The journey itself was a time with my family and another time with myself.

Our family would be helped by neighbor to build a shelter in our land beside our farm house, a place for women to learn how to cook-for some who couldn’t do cooking, how to sew-maybe for some who wants to be a tailor, thus for them who wanna learn english-as i am so interested in english. And also for the children of my neighborhood would learn to play guitar, to read books, to listen my fairytale, or even to study Islamic holy book. 😘

Goodbye O’clock

20/04/2016 § Leave a comment

I saw you smiled in such a dangerous way like something so hard to understand, in front of me, but you did it perfectly beautiful. By time, I knew it’s a kind of a goodbye; your goodbye’s killin’, so deep.

What is the saddest part of leaving, you asked,
then my laughs told myself not to tell you,
your absence is always here, always exist.
And it keeps me awakening.

%d bloggers like this: