Kunang-kunang Terakhir

31/12/2013 § 1 Comment

Setiap pergantian tahun, Adis selalu merayakannya bersama keluarga Teza. Malam ini seperti biasa mereka saling bertukar kado dan makan malam dengan menu andalan Adis, kentang panggang saos padang dan tahu tempe bacem. Selalu seru dan akrab. Keluarga besar Teza sudah begitu mengenal Adis, begitu juga dengan Teza, dikenal baik oleh keluarganya Adis yang setiap malam takbiran bergabung dengan mereka.

Malam itu tiba-tiba saja ayah Teza kembali menyeletuk bertanya spontan bagaimana agar rencana pernikahan mereka dipercepat. Lagi-lagi Teza mengelus dada, mencoba sabar. “Ayah, kami masih menunggu satu hal yang sangat penting,” begitulah selalu alasan mereka. Tak jelas dan tak ada penjelasan yang lebih. Karena asas paksaan begitu diharamkan di rumah itu, jadi ayah dan ibu Teza pun diam. Adis kembali dari dalam rumah sehabis mengambil obat Bu Sri dengan santainya menyodorkan brownies kukus yang baru saja matang. Suasana kembali normal, sisa-sisa pertanyaan Pak Galang tertinggal, mungkin mengendap di bawah kulitnya yang mulai keriput. Dingin angin malam tak merobek kebahagiaan mereka.

“Kak, kenapa kadonya kemarin berubah?” Adis akhirnya memberanikan diri bertanya setelah satu minggu terkungkung dengan pertanyaannya sendiri.
“Maaf, Adis, seharian kan kita bersama membeli bahan masakan dan kamu tahu kalau Kota Parit Rantang hujan genap dua hari tiada henti,” Teza mencoba beralasan.
“Jangan berkilah, kak, aku….” kata-kata Adis meluncur tenang, namun urung dilanjutkan.

Telah lima tahun ini Teza tak pernah lupa bahwa Adis hanya meminta kado tahun baru berupa kunang-kunang. “Aku hanya ingin diberi cahaya. Aku mau kamu yang jadi cahaya bagi hidupku, kak, pengganti almarhum ayahku,” begitu jawaban Adis suatu kali Teza bertanya tentang kado kunang-kunang permintaan gadisnya itu. Sesederhana itu. Tapi amatlah besar pengaruhnya bagi Adis. Dan kemudian Teza paham betul kemana cahaya itu dimaksudkan Adis.

Adis kehilangan ayahnya di sebuah malam tahun baru yang hening, dalam tugasnya sebagai jurnalis di daerah konflik. Tepat beberapa saat sebelum tertembak, ayahnya mengabarkan Adis kecil betapa banyak kunang-kunang dalam radius satu dua meter di depan ayahnya. Sungguh menakjubkan. Kata ayah Adis kala itu, kunang-kunang adalah wujud doa dari mereka yang telah meninggal untuk keluarga yang ditinggalkan. Cahaya kunang-kunang mampu menembus hingga relung hati paling dalam. Seketika Adis tiba-tiba berteriak histeris dan sambungan telepon terputus. Padahal Adis kecil ingin dibawakan kunang-kunang sepulangnya ayah selesai meliput, tapi Adis kecil tak mengerti kenapa teleponnya tak lagi ada suara ayahnya.

Advertisements

§ One Response to Kunang-kunang Terakhir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kunang-kunang Terakhir at Adek's Blog.

meta

%d bloggers like this: