Imah

Mah, akhirnya Tuhan mau berdamai denganku.

Kang, aku mimpi kita akan punya anak kembar tiga. Sepotong kalimat istriku yang pada awal malam disampaikannya melintas tiba-tiba. Di tengah malam aku terbangun dan mendapati pintu kamar terbuka dan tak ada Imah di sampingku.

Sepuluh tahun lalu aku mengenal Imah, perempuan kampung dengan hidung tinggi dan badan semampai. Meski berasal dari keluarga petani, namun pesonanya seperti tak tergerus oleh kesusahan hidup orangtuanya yang selalu dikejar-kejar tengkulak.

Sore itu langit berawan dan semesta seolah mendukung rencana Umar, sahabatku, untuk mencomblangi aku dengan Imah. Aku yang tak sanggup mencintai kembang desa itu, tersipu malu. Bagaimanalah aku bisa mencintainya, berniat untuk mendekatinya saja aku sudah patah hati. Tak pantas untuk laki-laki kampung yang hanya luntang-lantung mencari kayu bakar untuk dijual.

Di tahun kedua menikah, kami masih tinggal bersama orangtuanya. Pekerjaanku tak lagi ke hutan mencari kayu bakar. Orangtuaku memodaliku untuk membuka warung kopi. Aku dan Imah selalu bersisian di dapur: aku menyeduh kopi, Imah meracik nasi goreng atau pesanan penganan lain. Kehidupan ekonomi kami perlahan membaik.

Kesibukan makin terbentang lebar. Imah kembali membeli secuil emas dua puluh empat karat. “Untuk bekal sekolah anak-anak kita kelak, Kang,” begitu selalu yang dibisikkannya ke telingaku. Kalau sudah ini alasannya, aku hanya mampu bergeming.

Begitulah Imah, perempuan yang tidak begitu mencintai anak-anak tapi ingin sekali mempunyai anak yang benar-benar hadir dari rahimnya sendiri. “Jangan pernah katakan itu lagi. Itu hal paling tidak masuk akal bagiku,” ujarnya suatu kali aku sarankan untuk mengadopsi anak.

Hingga di sebuah sore yang basah, bukan karena kehangatan ranjang kami. Tapi karena sebuah petaka. Aku tak pernah menyalahkan Imah sepenuhnya. Aku menyesali perbuatanku dulu, dulu sekali. Aku melakukan apa saja untuk mendapatkan kembang desa yang akhirnya berhasil kunikahi itu. Semua hanya menjadi rahasiaku bersama Tuhan. Andai saja Tuhan bisa kusuap, mungkin telah kulakukan sejak lama.

Dengan khusyuk aku bertawadu kepada Allah, lahir dan batin. Aku pun berserah diri sepenuhnya, menunaikan semua yang wajib lalu melancarkan yang sunnah. Hingga ketika malam Imah pergi, aku menemukan sebuah surat. Surat yang kemudian kuketahui ditulis Imah. Istriku pergi ke sebuah tempat yang dirahasiakannya. Petunjuk yang ia dapatkan bahwa di tempat itu dia akan menjemput tiga orang anak. Anak kami.

Padang, 28 Juli 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s