Kulineran di Jambi

14/04/2016 § 2 Comments

Berkunjung ke Jambi hanya dalam dua hari tentu pilihan saya adalah wisata kopi. Saya akan menjajal semua jenis kopi dari warung-warung lokal, kedai malam pinggir jalan, hingga kafe populer. Excited akan berkunjung ke daerah yang belum pernah disinggahi, membuat adrenalin saya naik, ditambah pula akan berjumpa dengan gelas-gelas kopi asli Jambi membuat perjalanan sebelas jam saya lewati tanpa tidur. Atau mungkin juga teman perjalanan yang super asik, seperti Pas Band, Nicky Astria, dan God Bless. Yes, i am so blessed.

Tahun lalu awalnya teman saya malah mengajak ke Gunung Kerinci, tapi waktu dan kesempatan belum berpihak hingga kini. Karena butuh persiapan matang untuk mendaki, selain perjalanan 10-12 jam sendiri ke Kerinci dari Kota Jambi, hingga ketika saya datang dan menyaksikan televisi, Gunung Kerinci malah berstatus waspada.

Setelah berselancar di internet, maka sampailah saya di halaman Kak Susan Pergidulu yang populer itu, yang merekomendasikan kuliner enak di Jambi. Terberkatilah kamu, kak Susan. Horenya, hotel rekomendasi teman saya sangat dekat dengan salah satu spot gerai makanan rekomendasi doi. Di samping itu, tentu saya meminta juga saran dan rekomendasi teman yang telah lama tinggal di Jambi. God bless you too, kak.

Pagi pertama, saya bertolak ke Taman Anggrek Sri Soedewi yang berlokasi di depan kantor Gubernur Propinsi Jambi. Karena saya datang terlalu pagi dan sepertinya masih tutup, saya menunggu sambil ngopi di salah satu warung yang berjejer di dekat pintu masuk taman. Enak.

 

Gelas Kopi Pertama di Taman Sri Soedewi

Nama Taman Anggrek Sri Soedewi berasal dari nama Istri Gubernur Jambi Masjchun Sofwan, beliau sebagai pelopor berdirinya taman anggrek yang memiliki puluhan jenis anggrek yang bibitnya tersebar di seluruh wilayah Jambi. Taman ini diresmikan oleh Bu Tien Soeharto pada tanggal 04 April 1984. Saya jadi satu-satunya pengunjung taman anggrek pagi itu. Tampak beberapa karyawan sibuk menyirami tanaman, membersihkannya, dan membenahi beberapa karung tanaman anggrek yang baru datang. Tiba-tiba saya reflek bertanya apa Bu Sri Soedewi masih ada, salah satu dari mereka menjawab, “Sudah nggak ada, mbak, tapi beliau titip salam kalau ada mbak galak datang.” Mereka hebat ya bisa langsung tahu saya galak, haha.

  

Lelah berkeliling di taman anggrek, saya meneruskan perjalanan dengan angkot dan tibalah saya di Gentala Arasy. Sebenarnya teman saya sudah memilihkan hotel di tempat paling strategis, yang dekat kemana-mana, yaitu di sekitar Mal WTC, Pasar Angso Duo, dan Gentala Arasy. Mungkin karena masih keliyengan saya jadi lupa dan malah kesininya setelah dari taman anggrek.

Gentala Arasy adalah sebuah menara yang dihubungkan oleh jembatan pedestrian. Jembatan yang membelah Sungai Batanghari dan jembatan yang dibangun tahun 2012 ini pula yang mengantarkan kita ke Menara Gentala Arasy. Terletak di Taman Tanggo Rajo, Ancol, Kota jambi, tak afdol rasanya jika ke Jambi tak berkunjung ke sini. Di dalam menara, terdapat sebuah museum yang berisi tentang asal-usul kota Jambi, sejarah Islam di Jambi, hingga arsip mengenai pembangunan jembatan dan menara Gentala Arasy. Sayangnya lift menuju puncak menara sedang rusak, maka batallah keinginan saya untuk melihat kota Jambi dari puncak menara. Jembatan ini juga menjadi penghubung antara pusat kota Jambi dengan Jambi Kota Seberang. Dahulunya dinamai Seberang Kota Jambi (Sekoja), konon di sinilah tempat warga asli Melayu Jambi bermukim. Kehidupan masyarakat masih sangat sederhana dengan rumah panggungnya. Untuk menuju ke Jambi Kota Seberang ada dua cara, yaitu dengan berjalan di jembatan pedestrian Menara Gentala Arasy atau menggunakan getek menyeberang sungai Batanghari, siang itu saya memilih berjalan kaki.

 

Jembatan Pedestrian

Menara Gentala Arasy

Jambi Kota Seberang menjadi salah satu destinasi yang banyak dikunjungi pelancong lokal, karena di sini sebagai pusat kerajinan batik asli Jambi. Entah karena saat itu tengah masuknya waktu sholat Jum’at atau apa, banyak rumah yang saya lihat tutup. Saya hanya berkunjung ke Balai Kerajinan Rakyat Selaras Pinang Masak yang berada di bawah Yayasan Bina Lestari Budaya. Balai ini juga menjual kain batik dengan kisaran harga beraneka-ragam.


Setelah puas dan gempor berkeliling jalan kaki di Gentala Arasy, saya memilih mpek-mpek, menu yang cukup terkenal di Jambi, untuk makan siang. Kenapa ya, bukannya mpek-mpek berasal dari Palembang? Atau mungkin karena mereka propinsi tetanggaan? Jika Pergidulu merekomendasikan mpek-mpek Asiong, maka teman saya lebih memilih mpek-mpek Terang Bulan. Akhirnya saya mencoba keduanya. Lokasinya pun persis sebelahan. Satu dinding.

 

Mpek-mpek Asiong

Menu di mpek-mpek Asiong antara lain: otak-otak panggang (berdaun memanjang), mpek-mpek panggang (di sebelah otak-otak), mpek-mpek goreng campur (lenjer, bulat, balok, dan ada yang campuran tahu), dan mpek-mpek keriting rebus. Semua saya coba dong, hehe.

 

Mpek-mpek Terang Bulan

Mpek-mpek terang bulan memiliki menu yang hampir sama dengan Asiong, hanya saja beberapa mpek-mpek gorengnya punya wajah yang agak beda. Menurut lidah saya, mpek-mpek Terang Bulan lebih enak, lebih lembut di lidah, dengan kuah yang tersedia di meja jadi bisa tambah sendiri semau kita. Oya, kita tidak perlu menghabiskan semua yang terhidang, mereka menghitung hanya yang kita makan. Es durian di Terang bulan juga juara rasanya, ditambah kacang merah jadi begitu istimewa. *kangen*

Meski Jambi kalah populer sebagai destinasi wisata, Jambi ternyata menyimpan kuliner enak di lidah yang bisa memanjakan pengunjungnya. Tak perlu ke kedai mahal atau kafe besar, warung kecil pinggir jalan pun masakannya enak. Malamnya, saya memilih kwetiau di dekat hotel. Ibu penjualnya juga memberitahukan bahwa kopi mereka juga kopi AAA. Hore!

 

Kwetiau di jajanan malam depan Mal WTC

Kuliner enak lain di Jambi adalah Mie Celor di SD Xaverius 01 yang kata Pergidulu, numero uno. Thanks God, hotel saya dengan Xaverius hanya berjarak dua menit jalan kaki. Aha! Mirip dengan mie rebus, namun tekstur mienya lebih padat dan lembut, dengan taburan daging, telur rebus, perkedel, dan kuahnya lebih kental.

 

Mie Celor di SD Xaverius 01

 

Terinspirasi dari Jungle Book yang saya tonton di WTC malam sebelumnya, saya berkunjung ke kebun binatang Taman Rimbo Jambi. Lagi-lagi kepagian, ya sudah saya ngopi dulu saja. Setelah reuni dengan buaya, ular piton, gajah, beruang, aneka jenis burung, dkk saya menuju kopitiam di Jelutung. Teman kopinya kurang pas karena saya disuguhi cakwe dingin.

Perjalanan dengan ojek dari Taman Rimbo ke Jelutung sungguh membuat saya haru. Bagaimana tidak, bapak ojek saya sampai berhenti dua kali dan turun dari motornya menanyakan di mana alamat Kopitiam Jelutung. Pertama bertanya ke petugas parkir dekat Pasar Hongkong, yang kedua radius dua ratus meter dekat kopitiamnya, beliau turun dari motor untuk menanyai karyawan toko sambil bilang ke saya, “saya juga punya anak, neng.” Duh baik banget, kan? Makasih, ya Pak.

 

Kopitiam Jelutung

Jambi menjadi kota baru bagi saya untuk berkesempatan bertemu dengan banyak orang baik lain di jalanan, di daerah pertama yang saya kunjungi, dan sendiri dengan ojek dan angkot pula. Cerita lain datang dari sopir angkot saya. Setelah dari Kopitiam Jelutung, saya ingin melihat Pasar Baru, sebelumnya saya mesti ke terminal sebelum nyambung angkot jurusan Linca. Daaan ada banyak pasar yang saya lewati, semua pasar tradisional dan sangat ramai. Jadilah saya tak turun dari angkot, ikut hingga trayek terakhir, di daerah Pudak, Jambi Timur. Dari Pudak masih dengan angkot yang sama saya mencoba ngobrol ringan dengan sopir nanya alamat Mesjid Seribu Tiang, dan doi menawarkan untuk mengantar. Karena tak cocok harga maka saya batalkan. Setelah turun angkot, dengan mukanya yang sayu dia bertanya, “yuk, ada masalah ya?” Saya antara mau ketawa dan berterima kasih karena sudah perhatian, masa saya dikira ada masalah karena ikut dia bablas sampai Pudak. Lucu, geli, sekaligus mengharukan, ya. Tambah lagi dia nanya apa saya balik Linca atau nggak dan tinggal di mana selama di Jambi. Pengalaman banget lah pokoknya.

Tujuan wisata Jambi lainnya adalah Mesjid Agung Al-Falah atau biasa disebut Mesjid Seribu Tiang. Ada banyak sekali tiang di sini sehingga disebut seribu tiang, walau jumlah tiang sebenarnya adalah 256. Dirancang sebagai bangunan terbuka tanpa pintu dan jendela, benar benar sejalan dengan nama masjid ini. Al-Falah dalam bahasa arab bila di Indonesiakan menjadi Kemenangan, menang bermakna memiliki kebebasan tanpa kungkungan (sumber: wikipedia).

 

Mesjid Al-Falah


Selepas Zuhur di Mesjid Al-Falah saya makan siang di Kopi Oey, salah satu rekomendasi teman saya. Dan tempatnya sangat strategis persis seberang jalan mesjid. Duduk menikmati Sego Ireng dan Kopi Oey Hitam, saya bertemu lagi dengan dua orang Jakarta yang sempat menanyai saya di mana tempat minum kopi enak sewaktu makan kwetiau di pinggir jalan depan Mal WTC malam sebelumnya. Perut saya dimanjakan banget oleh Jambi deh.

 

Sego Ireng dan Kopi Hitam di Kopi Oey Depan Al-Falah

Pagi sebelum pulang saya penasaran melihat apa aktivitas warga Kota Jambi di Gentala Arasy. Ada beberapa kelompok ibu-ibu senam pagi, anak-anak muda bersepeda santai, dan banyak masyarakat yang jalan kaki di sepanjang jembatan pedestrian. Saya pun tergoda dengan mie ayam dekat gerbang Gentala Arasy. Sepuluh ribu saja. Murah. Meriah. Enak. hehehe. Bener deh, gak perlu ke restoran mahal untuk ketemu makanan enak di Jambi.

 

Mie Ayam di Gentala Arasy

 

Batagor di SD Xaverius 01

Saya nggak perlu minta maaf kan karena telah sarapan dua kali? Hahahaha! Selepas sarapan mie ayam, saya pun berfoto-foto di Gentala Arasy, sebelum pulang ke hotel untuk packing terakhir kemudian melanjutkan perjalanan ke kenyataan senin ngantor, saya singgah lagi ke Xaverius nyari menu berbeda dari hari sebelumnya. Saya pikir awalnya tutup karena hari minggu dan anak sekolah libur, ternyata tetap buka dan tetap ramai. Pilihan saya jatuh ke Batagor. Batagornya dominan manis, kuahnya lebih hitam dan kental, rasanya enak. Banget.

 

narsis dulu sebelum pulang :p

 

Mentari Pagi di Sungai Batanghari

Terima kasih, Jambi, untuk pengalamannya yang menyenangkan. Nggak bakal rugi deh, Jambi mesti kamu jajal dan tantang, terutama untuk lidah dan perutmu.

Advertisements

Tagged: , ,

§ 2 Responses to Kulineran di Jambi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kulineran di Jambi at Adek's Blog.

meta

%d bloggers like this: