Partikel: Sebuah Kolaborasi Apik dan Asik oleh Dee dan Reza

07/06/2012 § 3 Comments

Penulis   : Dee Lestari
Penerbit : PT. Bentang Pustaka, 2012
Tebal     : 500 halaman

Adalah Zarah sebagai tokoh utama yang diusung Dee dalam buku Partikel, Supernova keempat yang telah rilis 13 April 2012 lalu. Dua kali menelepon Gramedia Padang bukan berarti saya boleh lega dan bisa langsung membaca Partikel setelah dua minggu di-launching setelah sebelumnya terprovokasi oleh kehebohannya di sosial media. Atau memang seolah telah terhipnotis akan kehebatan tulisan Dee. Namun akhirnya takdir membawakan Partikel kepada saya lebih awal tanpa penantian lebih, tentu bukan melalui UFO atau aliennya Dee, tetapi adalah pemberian sahabat saya di Yogjakarta. Life is good, isn’t it?  😉

Pencarian. Satu kata yang saya dapat simpulkan dalam buku ini. Dee melalui Zarah menuturkan sebuah pencarian panjang yang berawal dari tempat berpengaruh Bukit Jambul di desa Budi Luhur, Jawa Barat.

Dimulai dengan keganjilan: pernikahan saudara angkat anak-anak Abah dan Umi, Zarah dan Hara lahir. Dibesarkan dengan cara yang tidak lumrah, yaitu metode belajar langsung dari alam yang digembleng oleh sang ayah, Firas. Kekerasan hati Firas mengajar dan bukti yang dilihatkan Zarah membuat sang ibu, Aisyah, menyerah. Firas, seorang ahli mikologi, dosen yang mengabdikan hidupnya untuk penelitian. Tak hanya jamur, tetapi sampai ke penelitian yang menembus dimensi spiritual. Akhirnya membawa Zarah masuk ke “zona Firas”, kemudian Firas pun menjelma sebagai Dewa bagi Zarah.

Kepergian Firaslah yang memaksa Zarah meninggalkan Bukit Jambul mereka. Dari Budi Luhur hingga Kalimantan, lalu meninggalkan Indonesia; dari pemerhati jamur, guru Bahasa Inggris, aktivis lingkungan, sampai menjelma fotografer handal, Zarah menancapkan taringnya untuk satu tujuan: mencari Firas.

London dan Glastonbury mengajarkan Zarah arti sebuah cinta, persahabatan, pengkhianatan, hingga kemudian tersadar akan cinta ke keluarganya yang besar.

Paul adalah sosok yang hadir sebagai pemberi jalan, Paul jugalah yang akhirnya memberi jalan Zarah untuk semakin dekat menemukan pencariannya. Apakah Paul juga berakhir sebagai cinta sejati Zarah yang pernah disakiti, atau kembali hanya menjadi Si Pemberi Jalan? Kita tunggu saja.

Iboga dan Simon Hardiman boleh saja menjadi pilar yang membantu menemukan “pintu keluar” akan pencarian Zarah, tapi menurut saya, adalah Abah sebagai sosok penting yang Zarah temui secara spirit sebelum Abah meninggalkan dunia, yang membawanya pulang ke keluarganya. Dee Lestari dalam Supernova keempat ini menawarkan sesuatu yang lebih kompleks. Kisah keluarga yang penuh cerita: manis, kisruh, pun haru antara ayah ibu, kakek nenek, dan adik kakak yang tidak kita temui di edisi-edisi Supernova sebelumnya. Zarah kembali, ke tempat yang ia bisa sebut rumah, tempatnya untuk pulang. Walaupun kenyataannya-kata Dee-tak ada rumah yg lebih aman daripada rahim ibu.

Satu kritik yang saya temui di Partikel adalah saya masih menemukan pemborosan kata yaitu pemakaian cuma dan hanya di satu kalimat. Lalu saya sangat tertarik cara Dee bernarasi yang jujur, sederhana, dan juga sangat tahu di mana harus meletakkan lelocon kepada pembaca. Ketertarikan saya yang paling tinggi adalah Dee mampu seolah-olah memastikan kepada kita pembaca bahwa warga/penduduk di negara-negara yang Zarah singgahi mengerti dan mampu berbahasa Indonesia.

Pernah mengikuti kelas Reza Gunawan, suami Dee, membuat saya tersenyum-senyum membaca Partikel khususnya di bagian akhir. Sungguh sebuah kolaborasi yang benilai mahal. 😀

Advertisements

Dua Ibu

31/05/2012 § Leave a comment

Penulis  : Arswendo Atmowiloto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2009
Tebal    : 304 halaman

Saya termasuk pribadi yang terlambat mengenal karya sastra, sehingga di sinilah perannya orang bijak terdahulu berfilosofi “better late than never” bagi saya. Setidaknya menu resensi di blog saya adalah sebagai self reminder atau melawan lupa atas buku-buku yang saya baca (oke, ini ngeles :p). Let’s back to the topic!

Karya kedua Arswendo yang saya baca setelah 3 Cinta 1 Pria, yang tetap mengusung tema keluarga, cinta, dan seks.
Adalah Mamid sebagai orang pertama yang bercerita mengenai dua ibu yang ia dan saudara-saudaranya yang lain punya. Ibu, satu sebutan namun bisa diperankan oleh beribu karakter. Ibu, adalah sosok yang kita tak mampu habis mengungkapkannya: dalam karya pun cinta sehari-hari. Dua Ibu, kisah yang dikemas oleh Arswendo di mana sebuah keikhlasan dan kebahagiaan tidak butuh modal materi yang banyak, namun cinta yang tulus.

Sebagai penulis skenario yang memang tak diragukan lagi, Arswendo sangat apik menceritakan bagaimana sebuah cerita sederhana mampu membius lalu mengalirkan nilai-nilai kehidupan yang sangat dekat dengan kita. Banyak sekali ‘sentilan’ yang istilah sayanya ‘kena’, seperti: “….tak pernah terlontar, jadilah ibu yang baik. Melainkan, jadilah istri yang baik.” “Hanya yang merasa sakit yang bisa merasakan senang.” Dan “ibu hanya ingin anak-anaknya bahagia, ibu mengajarkan itu dalam sikap hidupnya.” Memang sederhana, tapi jika dipahami dan diaplikasikan, rasanya akan begitu mendalam.

Perempuan dengan sembilan anak (hanya satu anak kandung) dikisahkan sebagai perempuan tegar yang kemudian ikhlas ketika anak-anaknya ‘dijemput’ oleh orang tua kandung mereka atau dijemput oleh kebahagiaan mereka masing-masing: pernikahan atau pun obsesi masa depan. Apa alasan Ibu mau melakukan segalanya, mencurahkan sampai tetes peluh dan darah terakhirnya demi anak-anaknya adalah karena itu memang keinginan ibu, seperti yang ibu pernah bilang “kalau ingin bersamaku, harus lahir dari keinginan bersamaku, bukan karena orang lain.”

Sedikit catatan dari saya bahwa ada sebuah ke-absurd-an Arswendo di Dua Ibu-nya, yaitu alay. Ya, menurut saya ada kata yang dituliskan cukup alay walaupun tidak menggunakan angka sebagai pengganti abjad tetapi dituliskan seperti: uaaaaaaaa, kregaaaaaaaaaaaa, kreeeeeeegggghfhfgfgfgfgh, heaaaaaaaahhhhhhh (hell no, saya harus benar-benar menghitung huruf-hurufnya di buku!

Halaman 35 membuat saya kaget: bertemu lagi dengan Bong, setelah sang Bong fenomenal yang sangat dicintai itu (3 Cinta 1 Pria, 2008). Pak Arswendo, who is Bong exactly? I’m curious that much.

3 Cinta 1 Pria

15/05/2012 § Leave a comment

Judul                : 3 Cinta 1 Pria

Penulis             : Arswendo Atmowiloto

Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama

Genre               : Novel, Fiksi

Tahun Terbit   : 2008

Tebal                : 296 Halaman

Ini adalah buku Arswendo pertama yang saya baca, walaupun karya pertama Arswendo yang saya kenal adalah Keluarga Cemara. Membeli buku ini cukup jauh di Jakarta, ketika ada event Gramedia Fair. Tetapi saya percaya bahwa saya membeli buku ini karena….judulnya.

Sebelum membaca sinopsis atau cuplikan yang ada di belakang buku, saya berfikir bahwa laki-laki ini pastilah memiliki ketampanan yang melebihi aktor Indonesia, kharismanya melebihi Kepala Negara, ah saya tidak tahu juga Negara mana yang paling memiliki presiden kharismatik, saya juga takut menganalogikannya untuk presiden saya yang seringnya malah dihujat. Lalu, setelah membaca sampul luar buku, saya semakin tertarik membelinya, dikisahkan bahwa Bong adalah pria yang dicintai oleh tiga generasi. Satu kata: WOW.

Saya adalah salah satu atau salah dua orang yang mematahkan argumen/istilah “cinta tak harus memiliki,” karena itu adalah hal  aneh yang harus dihilangkan dari permukaan bumi ini. Prinsip saya bagaimanapun cinta itu ya harus dimiliki. Waktu berjalan dan entah kapan saya sadari lalu menyimpulkan bahwa cinta adalah menikmati dengan baik apa yang ada hingga apa yang tiada. Arswendo dalam novel ini menceritakan kisah cinta seperti istilah tadi. Cinta adalah sesuatu yang tumbuh dalam hati, dibawa ke mana saja, di mana saja. Kisah demi kisah dituturkan datar dengan konflik yang tidak begitu rumit, tidak kacau, cenderung manis, terkadang terasa visualisasinya. Visual cinta nenek-nenek ataupun visual cinta wanita usia menengah ataupun visual cinta usia remaja tak banyak berbeda, mungkin yang membedakan adalah keriput salah satu tokohnya, atau cinta memang tak pernah mengenal kata tua ataupun keriput. Arswendo dalam kisahnya tidak menjelaskan detil bagaimana sosok dan karakter masing-masing tokohnya, dari keluarga mana mereka berasal, seperti apa kehidupan sehari-hari ekonomi atau pendidikannya, namun sesuatu yang digambarkan detil adalah justru pohon talok yang begitu dicintai Arswendo yang kemudian diketahui bahwa pohon tersebut memiliki pengalaman tersendiri bagi Sang Penulis.

Arswendo menawarkan sebuah kesempurnaan jiwa yang dimiliki tokoh utama, Bong, yang mampu menyihir tiga perempuan di tiga generasi begitu mencintainya, begitu ingin menikah dengannya. Arswendo menyiratkan dan menyuratkan betapa cinta di antara mereka tumbuh dan hidup, ada kecemburuan normal untuk saling berlomba memiliki, namun tidak dalam ranah anarkis.

Kekuatan Bong yang diusung Arswendo—sehingga dapat dijadikan faktor kenapa begitu banyak orang mengenal Bong, menjatuhcintai Bong—adalah dalam unsur seni yang begitu banyak dikuasai Sang Tokoh, yang kemudian sampai di akhir cerita yang paling sering disebut adalah sebagai pelukis.

Cinta, seyogyanya bukanlah hal rumit yang penuh pergolakan jika masing-masing hati mampu menerima keadaan dan jangan terpaku untuk melogiskan jalannya cinta. Biarkan cinta berjalan sendiri di relnya yang memang sudah tercipta dengan sendirinya.

Where Am I?

You are currently browsing the Resensi category at Adek's Blog.

%d bloggers like this: