Setengah Isi Setengah Kosong, Parlindungan Marpaung

Buku tipis berisi beberapa cerita yang mengandung banyak filosofi hidup. Sepertinya ini bukan review ya, tapi semacam catatan yang awalnya saya simpan di note HP, dikutip langsung dari buku untuk menjadi pengingat saya besok lusa.

“Orang-orang zaman dulu itu jarang berbicara, bukan karena mereka tidak pandai bicara. Namun semata karena mereka sadar bahwa setiap perkataan akan dipadankan dengan kenyataan.”

“Yang bodoh pun sama dengan yang pintar, butuh umpan. Butuh makanan. Butuh kekayaan. Butuh atribut. Butuh jabatan. Butuh kekuasaan.”

“Ucapan lebih tajam dari pedang pusaka. Luka oleh pedang bisa tersembuhkan, meski meninggalkan bekas. Luka karena ucapan yang menyakitkan, tidak meninggalkan bekas secara fisik, secara kasat mata, namun sulit tersembuhkan.”

“Zi Gong pernah bertanya kepada Kong Zi tentang bagaimana seseorang harus bersikap dalam hidup, dan guru itu pun menuju dapur. Kemudian sebuah batu dimasukkan ke dalam air yang mulai mendidih, “Batu ini begitu keras, direbus di dalam air panas mendidih pun tak berkurang kerasnya. Orang yang seperti batu, sangat kaku, merasa paling benar, paling jagoan, dan tidak bisa berubah. Padahal kehidupan selalu berubah. Di atas pohon tinggi masih ada awan. Di atas awan masih ada langit. Di atas langit masih ada Tuhan. Bagaimana mungkin kita, manusia biasa, boleh merasa diri paling sempurna?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s