Dani dan Norman

Perawakannya kecil untuk ukuran laki-laki pada umumnya. Kulitnya hitam legam karena dibakar matahari setiap hari. Otot-otot lengannya tegas dan keras seperti kuli. Siapa pula yang akan mempersuami dia kalau bukan warga kampung itu sendiri, tentu bagi perempuan yang hanya berdiam yang tak hendak merantau. Kutinggalkan dia dalam diam dari kejauhan. Jauh.

Setidaknya aku telah melakukan sepersekian permil permintaan ibu. “Lihat-lihatlah dulu, siapa tahu suka,” begitu kata ibu. Aku tak hendak menjadi seratus sepuluh persen pembangkang dan durhaka kepada ibu. Aku mencintainya lebih dari apa pun. Sumpah demi Dani.

Maka aku berpura-pura setuju. Menunggu waktu sampai ibu bosan mencomblangiku. Sesekali Norman menghubungiku, aku malah membahasnya dengan Dani. Selalu lucu membahasnya, seperti nonton Srimulat. Dani tak pernah cemburu. Tak ada kata cemburu dalam kamus hidupnya.

Sebenarnya sudah lima tahun yang lalu aku disuruh ibu untuk pulang. Berkenalan dengan pemuda kampung sebelah. Norman. “Tak baik perempuan membujang di umur telah menginjak kepala tiga,” pesan beliau. Selalu itu-itu saja yang dibahas. Persetan dengan umur. Itu hanya angka-angka yang tak bisa memberi jaminan kenyamanan dan kebahagiaan masa depanku. Walau berbadan kuli namun Norman adalah PNS di Kantor Bupati, cukup banyak perempuan yang naksir. Tapi kata ibu, dia mau menungguku. Bahkan untuk waktu selama itu, apa artinya kalau bukan bodoh?

Kalau saja ibu tak sakit (belum keras) dan menyuruhku pulang, pasti aku sudah menghabiskan malam-malam di Bali bersama Dani. Orang itu memang punya kelebihan untuk memaksaku melakukan apa yang dia inginkan. Pengalaman seumur-umur, tak seorang pun mampu kecuali dia. Pernah di suatu malam, Dani memutus pacarnya. Pacarnya ngamuk hendak bunuh diri. Dani menghubungiku minta bantuan. Aku yang saat itu tengah dalam deadline kantor terpaksa datang. Tentu berhasil dan kami pun menggelinjang. Dua malam berturut-turut. Lupa diri. Langsung surat peringatan kedua kukantongi.

Dani kukenal tujuh tahun lalu. Klik. Kami langsung klik. Alasannya terlalu naif. Kita sama-sama mencintai espresso. Hidup itu terlalu manis makanya butuh penyeimbang, di sini espresso mengambil peran utama. Kami pun tertawa. Jalan Tuhan memang terkadang tidak masuk akal. Aku mencintainya, apalagi dia, lebih mencintaiku. Aku bukannya geer tapi ya kenyataan. Anehnya aku tak pernah meminta Dani menikahiku. Lembaga pernikahan terlalu absurd bagiku. Apalagi bagi Dani. Jadinya kami menikmati hubungan ini hanya berdua. Asik berdua. Tanpa memasukkan bumbu-bumbu keluarga dan rencana besok. Ah buat apa memikirkan hari esok kalau hari ini kami sangat bahagia.

Malam itu, kami merayakan keberhasilan Dani sebagai Sekretaris Redaksi di tabloid ternama ibukota di sebuah hotel. Pria ini mahir sekali berdansa, satu-satunya keahlian yang membuatku mabuk tanpa harus menenggak alkohol. Mabuk benaran. Semua terjadi. Semua. Percayalah, ini yang pertama sejak mengenalnya. Tujuh tahun. Bukan waktu yang singkat, bukan? Tapi begitulah adanya.

Sore ini lebih cepat dari sore sebelumnya. Gelap seolah memaksa mempercepat malam. Tingak-tinguk aku mencari Dani di rumahnya. Dia bersikeras tak mau bertanggung jawab. Sepi. Sialan.

Kujalani dua bulan dalam kegalauan akut. Tak mungkin pulang bertemu ibu menjelaskannya. Aku tak mau menjadi air panas yang sempurna memecahkan gelas retak. Membunuh ibu.

Andai saja. Aku tiba-tiba ingat Norman. Mungkin laki-laki bodoh ini akan membantuku. Aku yakin sekali.

3 thoughts on “Dani dan Norman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s