Pelipur

06/02/2017 § Leave a comment

                                                    Untuk Akang

“Kebun ini sudah berumur lanjut, bahkan dia lebih tua dari si empunya sendiri,” jelas laki-laki yang sedang buru-buru membuka pintu rumah setelah bel berdering, “Tanah yang terbentang cukup lebar untuk ditanami Mawar, Kamboja, Kersen, beberapa malah tanaman palawija untuk memasak, hanya durian yang belum kucoba tanam, he he” tambahnya seraya tertawa sekembali menerima tamu, mengapit lagi jari-jariku ke dalam genggamannya. Seseorang tengah memasak sore itu, makanya dia yang tergopoh-gopoh membuka pintu dan meninggalkanku sejenak.

Macet jalanan di depan rumahnya menjadi pemandangan kami mengobrol di teras samping. Rumah tanpa pagar, lorong penghubung halaman depan dengan pintu rumah cukup panjang, terbuat dari berbagai tanaman dan diberi sedikit sentuhan berbelok menjadikan rumahnya unik, asri, menyatu dengan alam, dan membuat nyaman siapapun yang datang. Termasuk aku. Ruang tengahnya penuh rak buku, tanpa televisi, kursi tamu yang terbuat dari kayu dan diselingi beberapa bahan rotan. Ah, betapa aku jatuh cinta dengan rumahnya yang tidak biasa itu. “Kota kecil ini semakin sesak, motor begitu murah untuk dicicil hari ini,” kalimatnya memutus lamunanku yang sedang melihat seliweran kehebohan di jalan raya, seolah mengerti apa yang kupikirkan. Dia datang sambil membawakan tempe goreng, camilan favoritnya. “Anak bungsuku pasti marah kalau tahu aku makan gorengan lagi,” ujarnya pelan seperti berbicara untuk dirinya sendiri, lalu mata itu melihatku, kami saling bertatap dalam diam, dalam gemuruh hati masing-masing. Hujan tiba-tiba datang padahal sore masih begitu terik, “mungkin kerinduanku menangis bahagia karena kedatanganmu,” katanya lagi, kali ini sambil mengecup pipiku, lalu dia berdiri pamit ingin menemui rekannya yang tadi datang.

***

Telah dua bulan kutinggalkan rumah setelah ibu memaksaku menikah dengan laki-laki pilihannya. Ayah tentu menyokong apapun keputusan ibu, apalagi terkait dengan calon yang telah dipilihkannya. Sebelumnya aku susah payah meyakinkan ayah kalau aku sudah punya pacar—tentu ini hanya aksi penyelamatanku dari segala macam paksaan dan comblangan dari keluarga. Agar ayah dapat membantuku dari begitu besarnya gencaran ibu dalam memilihkan jodohku. Kemudian mereka yakin kalau itu hanya bohong belaka. Dan datanglah hari itu, hari di mana Restu datang membawa serta keluarganya dan pinangan mereka datang ke mukaku sekelebat petir di siang bolong, tanpa tanda-tanda, tanpa aba-aba.

“Sungguh, Bu, Disty bukan gadis yang begitu mudah jatuh cinta lalu bisa menikah dengan pilihan ibu hanya dalam waktu dua minggu kemudian, apa ibu mau melihatku mati bunuh diri?” tangisku pecah waktu itu, di sela pertemuan dua keluarga sahabat karib itu. Restu bukanlah orang baru yang dikenalkan kepadaku, beberapa tahun silam ibu memberikan bayangan akan Restu dengan pekerjaannya yang semakin membaik di perusahaan tempatnya bekerja, Restu dengan keluarga baik-baiknya yang telah ibu kenal sejak SMA, namun saat itu Restu masih ingin melanjutkan kuliahnya. Ibu pun mundur dan mencarikan pilihan-pilihan lain. Dan nihil. Hingga Restu kembali dan hatinya mencair. Sakit hatiku baru terlampiaskan hanya dengan pergi dari rumah.

Laki-laki muda betul-betul jahanam. Begitulah selalu terpatri dalam otak dan hatiku. Mereka selalu memandang dengan liar, tanpa hati, tanpa sedikit pun menghargai. Satu dua yang tampak kalem hanya akan menunggu waktu untuk akhirnya sama dengan yang banyak. Kesetiaan tidak bersumber dari kantong-kantong lelaki muda. Seperti kekasih Asti yang kepergok di lusuhnya Gang Dolly atau teman kampusku dulu, Anton, yang bercerai dengan istrinya karena kepincut pembantunya sendiri. Kebaikan merambat datang kepada laki-laki muda seiring bertambahnya waktu, seiring uban yang memantul ke permukaan kulit kepala, seiring kehadiran osteoporosis yang tak direncanakan, dan kemudian wajah mereka bersinar dewasa dan memesona.

Aku bertemu dengannya di sebuah siang yang bahagia, saat acara peluncuran buku salah satu penulis idolaku, Seno Gumira Ajidarma, yang kemudian hari kuketahui bahwa SGA adalah sahabat karibnya. Dalam balutan kemeja tosca—sial betul kenapa kemejanya sewarna dengan kemejaku, dia yang kutaksir berumur lima puluh tahunan, terlihat sangat ganteng. Di Kemang Selatan itu, aku jatuh cinta dengannya di detik itu juga. Seperti perempuan muda lain yang jatuh cinta, keagresifanku memuncak. Seorang teman dari sahabatku adalah tetangga Seno, dan sahabatku mengatur semuanya untukku.

Istrinya baru tiga bulan meninggal karena kecelakaan ketika mengunjungi anak mereka yang kuliah di luar kota. Saat itu mobil travel yang ditumpangi istrinya melintas dengan kecepatan tinggi dan membentur pembatas tol. Sopir dan lima penumpang tewas seketika.

Kesendirian dan kesedihan mengurungnya berhari-hari, untuk mengurangi dukanya dan kebetulan buku sahabatnya rampung, maka diundanglah dia oleh Seno. Bukan kebetulan sebenarnya, mungkin garis nasib atau takdir. Lalu tak ada perintang dalam pertemuan-pertemuan kami selanjutnya.

Kami tak pernah bertemu di rumah, yang benar saja, ibu dan ayah pasti menolak aku menjalin hubungan dengan laki-laki sebaya ayah. Di rumahnya apalagi, jarak kotaku dan rumahnya yang ratusan kilometer tentu tak efisien, lagi pula duka masih bergayut di rumah itu. Jarak yang awalnya menjadi kendala berganti menjadi berkah, kami merenda rindu di atas rel kereta api, di atas aspal dalam bus antar kota antar provinsi, atau di atas awan dalam kabin pesawat, saat-saat di mana kami saling berkunjung untuk bertemu di satu tempat lalu pulang dengan saling mengantar. Tapi tak pernah sekali pun ke rumahnya ataupun ke rumahku.

Hari-hari sepeninggal istrinya, dia hanya tinggal sendirian di rumah, satu anaknya di Yogyakarta dan satunya lagi bekerja di luar negeri. Saat kuceritakan kepadanya tentang hidupku dua bulan terakhir ini yang aku habiskan dari satu gunung ke gunung lain, dari satu ranjang reot kamar murah satu ke kamar murah lain karena tabunganku semakin menipis, dia akhirnya menyuruhku datang ke rumahnya, tinggal di salah satu kamar di bangunan belakang rumah yang biasanya digunakan oleh keluarga besarnya untuk menginap ketika lebaran.

Mbak Lita sudah pulang ketika sop daging, sambal krecek, tumis kangkung, dan sapo tahu yang dibikinnya telah matang dan tersaji di atas meja makan. “Nanti saja melihat-lihat kamarmu, ayo cuci tangan dulu,” sapanya saat aku berdiri di pintu belakang melihat bagian sisi belakang rumahnya yang terdiri dari pendopo, tempat ibadah, dan hamparan kebun penuh bunga dan tanaman yang terkoneksi dengan kebun di samping rumah.

Sore itu meja makan kami begitu memancarkan gurat-gurat kebahagiaan. Dia menyendokkan sop panas ke piringku, menambahkan nasi lagi ke piringku, ah, betapa ingin kuberitahu ayah dan ibu bahwa dialah orang yang sangat kuinginkan.

Padang Panjang, 06 Pebruari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pelipur at Adek's Blog.

meta

%d bloggers like this: