Hadiah Ganda Almamaterku

01/09/2011 § 2 Comments

Cuaca siang yang begitu terik tidak mengurangi kebahagiaan dua anak kecil yang sedang berlarian. Mereka -sepertinya berumur sekitar lima sampai tujuh tahunan- antusias sekali mendekati topeng monyet yang sudah dikerubungi masyarakat sekitar dan beberapa adalah mahasiswa yang kukenal. Kalau saja tidak ditelepon Prof. Ardi, maka dapat dipastikan aku pun terlibat tontonan yang sama dengan mereka. Padahal bukan tak mungkin aku membelokkan keputusan.

Di kejauhan, Vita terlihat tak kalah buru-burunya di koridor F, bahkan tatapan sosok seseorang yang sempat kulihat tak mengurangi spidometer manualnya. Heran, dia malah mengejarku.
“Tur, aku mungkin telah ketok palu atas satu hal dan Tuhan pun mengamininya.”

“Maksudmu apa Vit, apapun itu semoga pilihanmu adalah keputusan Tuhan yang tidak sedang kamu logikakan.” Jawabku sambil terengah-engah.

Bagas yang sedari tadi hanya melihat Vita dari kejauhan, mulai mendekat ke arah kami. Siapa yang tak kenal Bagas, dosen muda tampan idola mahasiswa, berasal dari keluarga terpandang, dan yang dikenal sebagai laki-laki paling tabah mengejar cinta Vita selama dua tahun belakangan. Sehingga satu kampus sepakat melabel Vita sebagai gadis yang bodoh!

Vita paling tahu bahwa aku adalah satu-satunya laki-laki yang tahu rahasia hidupnya yang hingga detik ini entah dengan alasan apa mulutnya pasti menceritakan setiap detil episode kehidupannya, kecuali satu hal kenapa ia tidak menerima cinta Bagas. Sebelas tahun persahabatan kami dari bangku sekolah menengah hingga menjadi dosen di almamater kami dan berasal dari satu kampung makin memantapkan emosiku sebagai kakaknya di tanah perantauan ini.

“Vit, mungkin aku mulai lelah untuk mencari tahu apa alasanmu menolakku.” Bagas tanpa basa-basi mencerocos sambil memegang bahu gadis itu, sehingga langkah Vita terhenti.

“Baguslah, Gas. Aku masih banyak urusan sama Guntur.”

“Suatu saat aku pasti tahu, aku bersumpah!” Bagas pun berlalu tanpa emosi tanpa depresi.

Setelah memastikan punggung Bagas tak lagi tampak, aku pun bertanya pada Vita.
“Vit, aku gak akan pernah memaksa kamu akan cerita ke aku.” tiba-tiba aku memberanikan diri menodong Vita. Hal yang tak pernah kulakukan karena biasanya Vita cerita semua hal tanpa kuminta.

“Kamu masa gak bisa merunut logika-logika selama ini sih, Tur, kan dosen dasar-dasar logika?” ledeknya sambil menoyor kepalaku.

“Gak bisa.”

“Ya sudah aku lagi gak mood siang ini, mau ada kuliah. Kamu juga ada janji dengan Prof. Ardi kan?”

“Iya sih.”

“Ya udah ya, aku belok sini dulu.”

Kami akhirnya terpisah sebelum Vita memastikan tempat di mana kami janjian pulang bersama.

“Tuuur, dua tahun jadi asisten Prof. Ardi, kamu beneran gak tahu tentang kehidupannya sama sekali?” tanya Vita sambil menyeruput teh panas di cafe tempat kami janjian malam sehabis kuliah.

“Gak, emang kenapa? Jangan bikin penasaran kamu.”

“Prof. Ardi adalah ayah Bagas dan karena permintaanku-lah kita menjadi dosen di kampus itu, dan sebagai imbalannya aku akan menjadi istrinya, kakakku sayang!”

Advertisements

§ 2 Responses to Hadiah Ganda Almamaterku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Hadiah Ganda Almamaterku at Adek's Blog.

meta

%d bloggers like this: