Ide dan Oleh-oleh UWRF

05/11/2015 § Leave a comment

The Writer's Room

Empat hari sudah UWRF 2015 berlalu. Dan saya yang awalnya berjanji akan belajar mendisiplinkan diri dengan setengah jam setiap hari menulis pun tidak juga mengubah pola lama. Sifat malas yang mengungkung, padahal setiap hari saya selalu bekerja di hadapan laptop.

Dalam salah satu panelnya UWRF Program The Writer’s Room, mas Gunawan Tri Atmodjo, berbagi cerita bahwa untuk menulis ia tidak perlu pergi jauh, malah menggunakan meja kantornya dalam menciptakan karya-karyanya. Karena dalam keseharian, dia banyak menghabiskan waktu di kantor, maka kantorlah tempat ia berkisah. Sebagai editor di salah satu penerbit, Gunawan tak lepas dari rutinitas kantor. Bisa dibilang menulis di kantor merupakan bentuk “pelariannya.” Jika sudah tak ada lagi ide atau tak ada yang akan ditulisnya, ia biarkan tulisannya rehat sejenak atau pergi berjalan.

Lain lagi dengan Deddy Arsha. Jika banyak penulis muda menjadikan coffee shop untuk tempat menjemput atau menuangkan ide, penulis Odong-Odong Fort de Kock ini membuat rumahnya sebagai pintu utama dalam menulis puisi-puisinya. Selepas subuh adalah waktu terbaik, ditemani suara-suara alam yang masih asri di kampungnya, meski di sisi lain, subuh juga menjadi waktu sibuk nan bising karena di saat-saat itulah anak-anak mulai bergegas untuk berangkat sekolah.

Sekarang, UWRF 2015 telah berlalu, tinggal saya yang berjuang keras membuat blog ini tetap panas dan mengepul secara konsisten. Ibarat dapur, semoga panas dan kepulannya membuat batin saya kenyang. Dan semoga lagi, saya bisa membuat foto-foto lain untuk dituliskan dalam blog ini, setidaknya sebagai oleh-oleh UWRF 2015. Overall, it’s not about idea, it’s about making ideas happen.

Advertisements

Sehari Bersama Gus tf Sakai

15/09/2015 § Leave a comment

Saya terlambat tahu bahwa pengoleksi cerpen itu juga penulis puisi. Setelah batal menyaksikan pembacaan puisi di acara Peluncuran Buku Puisinya yang bertajuk “Susi”, besoknya saya berjumpa di sesi Menulis Kreatif Cerpen dan Puisi dengan Om-begitu biasa ia dipanggil-Gus.

Dan, terkuak lagi, seakan mengukuhkan semua pandangan penulis-penulis yang pernah saya temui, saya baca karya-karyanya, bahwa tidak ada teknik kreatif atau teknik-teknik lainnya dalam menulis. Satu-satunya cara agar bisa menjadi penulis adalah dengan menulis, menulis, dan menulis. Sembilan tahun bekerja di Payakumbuh, di tanah kelahiran dan tempat tinggal pengarang Kaki yang Terhormat itu, kami malah dipertemukan di Padang.

Beautiful Riot

15/04/2015 § Leave a comment

I see her beautiful
I see him rich
I see them smile at so many faces

but,

I see them riot
I see them fake
They sacrifice people
The victims were still around
and go

so, what beauty stands for?
what money stands for?

They still smile.

Bermalam di Kampung Kunang-kunang

24/03/2015 § Leave a comment

Destinasi adalah sebuah kata yang begitu akrab dengan kita belakangan ini. Destinasi menjadi kisah nyata, dipajang di ruang publik dan menari-nari indah dalam pengalaman batin seseorang. Apalagi untuk pengalaman pertama, tak terlupakan, layaknya pacar pertama. Salah satu contohnya adalah ketika saya naik pesawat dengan maskapai tak familiar, Kalstar dan Trigana. Atau karena pengalaman terbang saya masih cetek juga kali ya. Belum lagi kami mendarat di bandara dengan rating tertinggi yang disebut-sebut belakangan pascatragedi AirAsia, yaitu Bandar Udara Iskandar Pangkalan Bun. Parnonya tak ada yang mengalahkan, ditambah lagi beberapa goncangan di udara. Mungkin juga karena saya tak pamit pergi dengan orang tua. Duh, masih merinding kalau diingat lagi.

Siang itu akhir Januari lalu, langit cerah dan pemandangan di bandara dijejali oleh petugas dengan seragam oranye, siapa lagi kalau bukan tim hebat bernama Basarnas. Kami menunggu beberapa menit kedatangan seseorang yang kemudian saya ketahui adalah Mas Majid, si empunya kelotok yang akan membawa kami ke wisata hutan menyusuri Sungai Sekonyer dan menyambangi saudara dekat kita dengan tingkat kesamaan Gen mencapai 96,4%, Orangutan.

DSC_0192

Sungai Sekonyer

Tanjung Puting adalah konservasi Orangutan terbesar di dunia. Terletak di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Pesonanya tak hanya diminati oleh WNI semata. Bahkan di saat kedatangan saya, justru Wisman lebih mendominasi. “Beberapa dari mereka malah tak cukup datang hanya dalam sekali waktu,” tutur Agus, si nakhoda.

Lokasi konservasi pertama yang dituju adalah Tanjung Harapan. Berjarak sekitar dua jam dengan kelotok, tentu tak akan membuat kami bosan. Berbagai hura-hura, sorak, dan haru-biru syukur karena belum tentu teman lain berkesempatan sama menyambangi Tanjung Puting beredar di sepanjang perjalanan air kami, hingga tragedi pun terjadi: salah seorang teman saya yang tengah asik ber-selfie ria mendapati hp-nya lepas dari tongsis dan nyemplung sempurna ke sungai. Hiks! Dalam rute air yang dilalui, saya menjumpai banyak rambu-rambu lalu lintas yang menyediakan informasi KM dan belokan seperti di darat. Saya juga melalui titik sungai yang unik, yaitu perbatasan air sungai berwarna kuning dan berwarna hitam.

Tapal Batas

Tapal Batas

Setibanya di Tanjung Harapan, hal lain yang cukup membuat kaget ialah melihat pasir putih nan halus seperti pasir pulau di hutannya. Tak lama kami menjejak di konservasi, Gundul mengedarkan suara nyaringnya sambil bergelayut dengan Orangutan lain. Gaduh sekali dan kemudian Dadi, Pemandu kami, tersenyum dan berkata kalau Gundul sedang kawin. Ehem!

Jika di Tanjung Harapan berhasil melihat langsung dua puluh-an Orangutan berjingkat-jingkat, di Tanggui, tak satu pun mereka yang muncul, pun setelah menunggu satu jam. Kabarnya konservasi Tanggui memiliki Orangutan yang lebih liar dibanding Tanjung Harapan dan Camp Leakey.

Hari esok saatnya menyambangi Camp Leakey. Diambil dari nama profesor yang mengabdikan dirinya dalam penelitian Orangutan, lalu membuka lahan untuk konservasi. Salah satu muridnya, Prof. Galdikas begitu jatuh cinta dengan Orangutan dan beliau lah yang kemudian berjasa besar menjadikan Tanjung Puting dikenal dunia seperti sekarang ini. “Jika ibu datang, Orangutan-orangutan bahagia sekali, mereka gendongan, seperti ibu dan anak,” ujar Agus. “Makanan banyak, buat Ranger dan tentu saja buat mereka-Orangutan, sampai Monyet dan Bekantan pun semua sumringah,” tambah Dadi. Sesampainya di Camp Leakey, kami disambut oleh Siswi, Orangutan yang berumur 36 tahun. Siang itu Siswi tengah duduk manis menyambut tamu-tamunya.

Tibalah di malam yang sangat spesial, malam kedua kami bermukim di kelotok di tengah hutan bakau dan Sungai Sekonyer. Agus menambatkan kapalnya di sebuah titik di mana Kunang-kunang tinggal berkoloni dalam jumlah tak lagi terhingga, dan saya menamainya Kampung Kunang-kunang. Jika di malam sebelumnya kami bergosip tentang kehidupan para Ranger hingga tentang Ibu Galdikas, maka di malam kedua ini saya menghabiskan banyak waktu menatap ribuan Kunang-kunang. Bayangkan, jumlahnya tak terhitung! Saya sampai histeris, saking histerianya sampai bengong sendiri, mengangsur tangan dan menggapai, mendapati Kunang-kunang di telapak tangan, lalu mengajak bicara (so sweet, eh?). Kata orang bijak, mata kita akan sulit dipejam jika rindu atau benci yang teramat, tapi itu tak berlaku bagi saya. Malam itu saya tak bisa tidur bukan karena rindu atau benci, tapi karena dari balik kelambu masih disuguhi Kunang-kunang yang tak lelah memberikan cahayanya. Di luar sana beberapa teman saya asik mengobrol tentang kaitan antara territory dan pena, sementara saya melanjutkan obrolan bersama Kunang-kunang.

Ekspektasi saya ke Tanjung Puting tentu untuk melihat langsung kehidupan Orangutan melalui konservasi-konservasinya, ternyata Tuhan memberi saya lebih, sebuah kejutan manis di awal Februari lalu.

PS: Tadi malam sekitar pukul sepuluh, setengah sadar saya ke kamar mandi dan mendapati dua titik cahaya memasuki bak. Paginya, di tepi ember, ada hewan kecil dengan cahaya redup tengah megap-megap sakaratul maut. GOSH, SAYA DIDATANGI KUNANG-KUNANG SECARA KHUSUS DI TEMPAT SANGAT PRIBADI. Dan berkatnyalah draf sebulan lebih ini akhirnya tayang.

Siswi dan saya

Siswi dan saya

Menjemput Yadas

22/11/2014 § 1 Comment

Pukul dua belas lebih empat puluh sembilan dini hari, tiga orang lelaki memasuki sebuah kedai bernama Nusantara. Satu orang berumur lima puluh tahunan dan dua orang lainnya sekitar tiga puluh tahunan akhir. Satu di antara tiga puluh tahunan itu tampak paling menonjol. Kulitnya sedikit gelap, rahangnya tegas, lesung pipi dan bermata dalam. Dini hari itu dia memakai t-shirt tanpa lengan. Mereka masuk diantar porter yang sekaligus dibayar hingga urusan check-in.

Kopi hitamku baru kureguk dua cecap. Ah, terlalu manis, umpatku. Ibarat jam dinding, si lelaki bermata dalam berada di angka delapan dan aku di angka enam. Sedikit berhadapan secara serong namun itulah sepertinya celah terbaiknya sering memantau gerikku.

Di hadapanku, enam bapak-bapak berkumis beraneka-ragam tampak asyik dalam obrolan tidak penting mereka. Berbicara lalu tertawa, sambil menikmati kopi masing-masing. Sesekali mereka juga melihatku takjub lalu tersenyum, mungkin karena aku satu-satunya perempuan di warung itu di tengah malam begini.

Dua puluh menit kemudian, rombongan bapak-bapak berkumis aneka ragam meninggalkan warung Nusantara. Tersisa kami berempat dan si lelaki bermata dalam kian berani. Dia menyambangiku dan duduk di kursi sebelahku. Baik, sesekali patut juga mengevaluasi latihanku saban hari kepada ganteng ini, batinku tertawa puas.

Anehnya, salah satu teman si lelaki bermata dalam merogoh dompet dan memberikan beberapa lembar seratus ribuan kepada kasir sambil berbisik entah, padahal mereka belum niat menyelesaikan transaksi di warung itu. Ya, aku yakin sekali bahwa uang itu adalah untuk menutup mulut agar keonaran mereka di warung Nusantara berjalan aman setidaknya membiarkan aksi teman mereka terhadapku.

Sesuai perhitunganku, memang benar si lelaki bermata dalam berniat menyalurkan sesuatu yang menyembul dari dalam dirinya. Tiba-tiba secepat kilat dia meremas pinggulku, mendekatkan kursinya hingga tiada lagi jarak antara aku dan dia. Mulutnya yang seperti bebek lapar, menyosor wajahku. Cukup dua menit aku melayaninya. Berpikir cepat, lumayan untuk hidup beberapa hari ke depan dengan mengorbankan hanya dua menit.

Dalam amarah dan tangis palsu, aku melempar sisa kopiku kepada si lelaki, menamparnya, lalu berlari meninggalkan mereka. Sebuah taksi langsung mengantarku ke peraduan. Hari ini aku tak perlu ke terminal atau stasiun untuk berburu recehan. Sesekali ke bandara lumayan juga penghasilanku. Bonus untuk ke salon pun kudapatkan. Kuelus-elus juga dompet bermerk Yadas itu sampai tertidur.

Jakarta, 22 Nopember 2014.

Berdamai dengan Tukang Klaim

15/11/2014 § Leave a comment

Sebagai orang yang hobi kelayapan, saya pernah menjadi seseorang yang sangat impulsif dan di saat yang sama juga begitu saklek. Ya, saya pernah mengetok palu bahwa saya tidak akan pernah menjejakkan kaki di bumi Malaysia.

Kenapa? Karena negara itu hobi betul mengklaim yang bukan miliknya sebagai kepunyaan mereka. Tentu ini bukan masalah nasionalisme saya yang pas-pasan. Ini lebih ke perihal prinsip. Bagaimana mungkin sesuatu yang jelas-jelas berasal dari Indonesia tiba-tiba mereka nyatakan milik mereka, sebut saja rendang, angklung, sampai batik. Ini hanyalah beberapa hal yang saya tahu tanpa meriset lebih lanjut di situs internet (karena akan menemukan lebih banyak dan sayanya jadi lebih emosi dan gagal posting ini, hehe). Dan betapa bahagianya saya, ketika bertemu dengan teman yang berpendapat sama dengan saya: tidak mau menyentuh tanah Malaysia, walaupun teman saya itu lebih ke arah patuh pada keputusan suaminya.

Malam ini ketika mulai mengetik postingan ini pun, Metro TV menyiarkan bahwa Malaysia mengklaim tiga desa di perbatasan Indonesia dan Malaysia di Kalimantan sebagai wilayah hukum Malaysia. Memang, jika ini dibahas lebih tenang, sistematis dan teoretis dalam kaca mata hukum internasional, dan yang lebih penting secara aplikatif di lapangan, negara Indonesia juga dalam posisi sulit. Perihal tiga desa tersebut, jika diadakan jajak pendapat, warga di sana lebih memilih tinggal dan bekerja di Malaysia dibanding Indonesia. Pun dalam masalah Sipadan Ligitan yang menurut Putusan Mahkamah Internasional telah dinyatakan sebagai milik Malaysia, Indonesia tidak punya cukup bukti, kontrol, ataupun posisi tawar yang baik terhadap dua pulau itu. Ini adalah PR besar pemerintah Indonesia ke depan betapa masalah wilayah perbatasan begitu rentan.

Duh, jadi serius gini. Mari balik ke topik awal kita: kelayapan, eh maksudnya traveling.

Sebagaimana kata orang bijak bahwa waktu bisa mengubah segalanya. Ya, itu adalah keputusan awal saya ketika belum menginjak di taraf berfikir dewasa. Lalu, keputusan itu pun sampai di tingkat banding dan dianulir. Saya telah berdamai dengan Malaysia, si Tukang Klaim itu. Bagaimanapun, jika saya dan keluarga teman saya memahat mati keputusan untuk tidak pernah datang ke Malaysia, toh tidak ada yang bisa juga menjamin kalau Malaysia akan berhenti mengklaim nantinya. Atau pemasukan sektor pariwisata Malaysia akan berkurang karena kealpaan kami berkunjung atau kemungkinan buruk lainnya. Tentu saja itu tak akan pernah terjadi. Yang ada saya hanya akan memupuk kebencian yang semu, kecuali saya bisa menempeleng orang Malaysia misalnya. Bahkan ketika sedang berada di Changi pun, saat orang Malaysia seenaknya menebak saya adalah seorang TKI, saya juga tidak bisa langsung menghajar dia, karena saya takut sendiri melihat laki-laki itu begitu besar. Hiiii.

Hari ini ketika seharusnya saya berada di Malaysia walau hanya sekadar transit, saya jadi berfikir bahwa kegagalan saya menjejak di Malaysia simply karena saya kualat. Tapi tak apa, setidaknya saya telah move on tidak lagi sebagai pembenci. Satu lagi, saya tidak lagi ngiler melihat harga tiket pesawat Air Asia Padang-Malaysia yang sangat terjangkau itu. Sepertinya lucu juga melipir ke sana di kala weekend.

Pada Suatu Hari, Waktu Juga Cemburu

09/09/2014 § Leave a comment

Aku cemburu pada Sang Waktu. Dia, Sang Waktu itu, bisa kapan saja mendatangi kekasihku. Oh bukan, kami tak sampai jadian. Meski debar kami tumpah melebihi mereka yang Sah, kami tak selesai merajut Akad.

***

“Aku sedikit lagi gila,” katamu.
Aku diam, menarik nafas dan menunggu apa ujarmu setelah itu.

“Orang kantorku bisa bikin komunitas baru. Namanya Brengsek People Never Die. Bajingan!! Sampai kantor pagi-pagi aku langsung disuguhi kabar selebritas di televisi dan seonggok orang yang membahas dan menyela si Anu, bilangnya si Seleb udah gemuk, pendek, kaki rendah, betis gede pula. Mereka juga yang dulu aku damprat karena bicara mencla-mencle yang tempo lalu aku cerita. Aku sampai teriak nggak berguna ke mukanya. Gila, iya kalau kerjanya bener dan mukanya lumayan. Buset, kerjaan kelayapan mulu ke pasar. Nggak kehitung gunjing fitnah. Kesabaranku benar-benar sudah tidak lagi toleran. Penantianku telah kedaluwarsa. Gimana ya caranya biar aku lolos setelah bakar kantorku. Atau aku sewa orang, kamu punya kenalan?”
Saat itu aku melihat api di matamu. Berkobar garang. Merah menyala. Aku mengenalmu sebagai orang lain. Bukan kamu. Bukan Perempuan Bermata Sendu. Bukan lagi.

“Kita makan dulu, aku udah pesan tempat di Kemang, dekat Grand Zury, hotel baru di Padang. Kamu pasti suka fasadnya. Berani taruhan. Rekanku tiba-tiba batal rapat karena istrinya pendarahan.”
Seingatku, saat itu aku masih percaya, tepatnya mencoba percaya bahwa kamu masih Perempuan Bermata Sendu yang kukenal dulu. Aku-yang mencintaimu diam-diam-mencoba tenang dan menawarkan dingin untuk hati kita yang sama-sama panas. Panas untuk alasan yang berbeda.

Sekembalinya kita ke rutinitas masing-masing, tak kuhubungi kamu untuk beberapa waktu. Ah, kupikir biasa maki-maki teman kantor yang kurang kerjaan.

Kata teman-temanku, kamu, orang kantormu, dan mereka dengan spesies yang sama dengan kalian memang digaji untuk baca koran pagi dan menghabiskan banyak waktu dengan duduk di warung dari sarapan hingga makan siang. Wong gajinya kecil bahkan minus, buat apalagi kerja. Toh, yang penting kalau sakit ada BPJS. Tua, mati, dapat pensiun. Lalu, jika merasa tunjangan lebih rendah dari institusi lain, ya tinggal demo dan mogok kerja. Kemudian istri-istri orang kantormu sibuk mengkonfirmasi gaji-gaji suami mereka. Lucu sekali. Satu hal lain aku tak pernah lupa, kamu bahkan meneleponku saat aku berada di luar negeri, dengan tidak sabar kamu bercerita baru saja istri orang kantor menanyai gaji suaminya kepadamu, padahal si wanita bekerja kantoran juga dan kaya (setidaknya dari segi materi). Pesanku ketika itu, kelak jika bersuami nanti, terimalah segala kekurangan suamimu berikut kekurangan gajinya. Kita tak selesai tertawa bersama karena pulsamu habis.

Aku ingat betul kamu selalu sewot setiap kali aku mengutarakan lagi obrolan kita itu. Yang pasti, aku sengaja membuatmu begitu, agar kupu-kupu di perutku berkecipak.

“Semua orang pasti mati kok, santai aja, aku nggak nyari apa-apa di dunia ini,” bisikmu.
“Aku merayakan hidup dengan caraku. Aku hanya muak dengan duniaku yang penuh tipu daya dan kongkalikong. Panggil aku si Bodoh karena tidak turut pada norma hatiku. Sebut aku Anomali yang sering tertidur di ranjang hangat milik Arya. Aku bukan bidadari tanpa sayap lagi nihil dosa.”
Cercamu dengan lisan yang paling lirih. Mungkin kamu satu-satunya orang yang kukenal yang tak takut mati. Seperti teman lama, kamu dan kematian selalu rindu untuk berbincang, melebur ulang kisah-kisah usang.

***

Malam itu rindu kami tuntas. Ini pertemuan terakhir kami, batinku. Dan benar. Sang Waktu lah yang mungkin dengki dengan kita. Aku yakin itu. Aku pun tak pernah menanyakan apa-apa lagi padamu. Pada rotasi bumi. Pun pada Tuhan-ku.

Aku manusia modern yang tak percaya takhayul, awalnya. Tapi berita dari mereka, kekasihku direnggut oleh takhayul berbau mistis dengan kemenyan yang menebar wangi dimana-mana. Seperti maling, teror itu merasuki kekasihku di tengah malam buta tanpa izin. Sekarang aku tahu, takhayul lah yang iri dengan kisah kami.

Perempuan Bermata Sendu-ku kini terpaku di sudut bisu. Dia diasingkan tak hanya olehku. Juga bayangannya sendiri. Pun Sang Waktu.

%d bloggers like this: