Kulineran di Jambi

14/04/2016 § 2 Comments

Berkunjung ke Jambi hanya dalam dua hari tentu pilihan saya adalah wisata kopi. Saya akan menjajal semua jenis kopi dari warung-warung lokal, kedai malam pinggir jalan, hingga kafe populer. Excited akan berkunjung ke daerah yang belum pernah disinggahi, membuat adrenalin saya naik, ditambah pula akan berjumpa dengan gelas-gelas kopi asli Jambi membuat perjalanan sebelas jam saya lewati tanpa tidur. Atau mungkin juga teman perjalanan yang super asik, seperti Pas Band, Nicky Astria, dan God Bless. Yes, i am so blessed.

Tahun lalu awalnya teman saya malah mengajak ke Gunung Kerinci, tapi waktu dan kesempatan belum berpihak hingga kini. Karena butuh persiapan matang untuk mendaki, selain perjalanan 10-12 jam sendiri ke Kerinci dari Kota Jambi, hingga ketika saya datang dan menyaksikan televisi, Gunung Kerinci malah berstatus waspada.

Setelah berselancar di internet, maka sampailah saya di halaman Kak Susan Pergidulu yang populer itu, yang merekomendasikan kuliner enak di Jambi. Terberkatilah kamu, kak Susan. Horenya, hotel rekomendasi teman saya sangat dekat dengan salah satu spot gerai makanan rekomendasi doi. Di samping itu, tentu saya meminta juga saran dan rekomendasi teman yang telah lama tinggal di Jambi. God bless you too, kak.

Pagi pertama, saya bertolak ke Taman Anggrek Sri Soedewi yang berlokasi di depan kantor Gubernur Propinsi Jambi. Karena saya datang terlalu pagi dan sepertinya masih tutup, saya menunggu sambil ngopi di salah satu warung yang berjejer di dekat pintu masuk taman. Enak.

 

Gelas Kopi Pertama di Taman Sri Soedewi

Nama Taman Anggrek Sri Soedewi berasal dari nama Istri Gubernur Jambi Masjchun Sofwan, beliau sebagai pelopor berdirinya taman anggrek yang memiliki puluhan jenis anggrek yang bibitnya tersebar di seluruh wilayah Jambi. Taman ini diresmikan oleh Bu Tien Soeharto pada tanggal 04 April 1984. Saya jadi satu-satunya pengunjung taman anggrek pagi itu. Tampak beberapa karyawan sibuk menyirami tanaman, membersihkannya, dan membenahi beberapa karung tanaman anggrek yang baru datang. Tiba-tiba saya reflek bertanya apa Bu Sri Soedewi masih ada, salah satu dari mereka menjawab, “Sudah nggak ada, mbak, tapi beliau titip salam kalau ada mbak galak datang.” Mereka hebat ya bisa langsung tahu saya galak, haha.

  

Lelah berkeliling di taman anggrek, saya meneruskan perjalanan dengan angkot dan tibalah saya di Gentala Arasy. Sebenarnya teman saya sudah memilihkan hotel di tempat paling strategis, yang dekat kemana-mana, yaitu di sekitar Mal WTC, Pasar Angso Duo, dan Gentala Arasy. Mungkin karena masih keliyengan saya jadi lupa dan malah kesininya setelah dari taman anggrek.

Gentala Arasy adalah sebuah menara yang dihubungkan oleh jembatan pedestrian. Jembatan yang membelah Sungai Batanghari dan jembatan yang dibangun tahun 2012 ini pula yang mengantarkan kita ke Menara Gentala Arasy. Terletak di Taman Tanggo Rajo, Ancol, Kota jambi, tak afdol rasanya jika ke Jambi tak berkunjung ke sini. Di dalam menara, terdapat sebuah museum yang berisi tentang asal-usul kota Jambi, sejarah Islam di Jambi, hingga arsip mengenai pembangunan jembatan dan menara Gentala Arasy. Sayangnya lift menuju puncak menara sedang rusak, maka batallah keinginan saya untuk melihat kota Jambi dari puncak menara. Jembatan ini juga menjadi penghubung antara pusat kota Jambi dengan Jambi Kota Seberang. Dahulunya dinamai Seberang Kota Jambi (Sekoja), konon di sinilah tempat warga asli Melayu Jambi bermukim. Kehidupan masyarakat masih sangat sederhana dengan rumah panggungnya. Untuk menuju ke Jambi Kota Seberang ada dua cara, yaitu dengan berjalan di jembatan pedestrian Menara Gentala Arasy atau menggunakan getek menyeberang sungai Batanghari, siang itu saya memilih berjalan kaki.

 

Jembatan Pedestrian

Menara Gentala Arasy

Jambi Kota Seberang menjadi salah satu destinasi yang banyak dikunjungi pelancong lokal, karena di sini sebagai pusat kerajinan batik asli Jambi. Entah karena saat itu tengah masuknya waktu sholat Jum’at atau apa, banyak rumah yang saya lihat tutup. Saya hanya berkunjung ke Balai Kerajinan Rakyat Selaras Pinang Masak yang berada di bawah Yayasan Bina Lestari Budaya. Balai ini juga menjual kain batik dengan kisaran harga beraneka-ragam.


Setelah puas dan gempor berkeliling jalan kaki di Gentala Arasy, saya memilih mpek-mpek, menu yang cukup terkenal di Jambi, untuk makan siang. Kenapa ya, bukannya mpek-mpek berasal dari Palembang? Atau mungkin karena mereka propinsi tetanggaan? Jika Pergidulu merekomendasikan mpek-mpek Asiong, maka teman saya lebih memilih mpek-mpek Terang Bulan. Akhirnya saya mencoba keduanya. Lokasinya pun persis sebelahan. Satu dinding.

 

Mpek-mpek Asiong

Menu di mpek-mpek Asiong antara lain: otak-otak panggang (berdaun memanjang), mpek-mpek panggang (di sebelah otak-otak), mpek-mpek goreng campur (lenjer, bulat, balok, dan ada yang campuran tahu), dan mpek-mpek keriting rebus. Semua saya coba dong, hehe.

 

Mpek-mpek Terang Bulan

Mpek-mpek terang bulan memiliki menu yang hampir sama dengan Asiong, hanya saja beberapa mpek-mpek gorengnya punya wajah yang agak beda. Menurut lidah saya, mpek-mpek Terang Bulan lebih enak, lebih lembut di lidah, dengan kuah yang tersedia di meja jadi bisa tambah sendiri semau kita. Oya, kita tidak perlu menghabiskan semua yang terhidang, mereka menghitung hanya yang kita makan. Es durian di Terang bulan juga juara rasanya, ditambah kacang merah jadi begitu istimewa. *kangen*

Meski Jambi kalah populer sebagai destinasi wisata, Jambi ternyata menyimpan kuliner enak di lidah yang bisa memanjakan pengunjungnya. Tak perlu ke kedai mahal atau kafe besar, warung kecil pinggir jalan pun masakannya enak. Malamnya, saya memilih kwetiau di dekat hotel. Ibu penjualnya juga memberitahukan bahwa kopi mereka juga kopi AAA. Hore!

 

Kwetiau di jajanan malam depan Mal WTC

Kuliner enak lain di Jambi adalah Mie Celor di SD Xaverius 01 yang kata Pergidulu, numero uno. Thanks God, hotel saya dengan Xaverius hanya berjarak dua menit jalan kaki. Aha! Mirip dengan mie rebus, namun tekstur mienya lebih padat dan lembut, dengan taburan daging, telur rebus, perkedel, dan kuahnya lebih kental.

 

Mie Celor di SD Xaverius 01

 

Terinspirasi dari Jungle Book yang saya tonton di WTC malam sebelumnya, saya berkunjung ke kebun binatang Taman Rimbo Jambi. Lagi-lagi kepagian, ya sudah saya ngopi dulu saja. Setelah reuni dengan buaya, ular piton, gajah, beruang, aneka jenis burung, dkk saya menuju kopitiam di Jelutung. Teman kopinya kurang pas karena saya disuguhi cakwe dingin.

Perjalanan dengan ojek dari Taman Rimbo ke Jelutung sungguh membuat saya haru. Bagaimana tidak, bapak ojek saya sampai berhenti dua kali dan turun dari motornya menanyakan di mana alamat Kopitiam Jelutung. Pertama bertanya ke petugas parkir dekat Pasar Hongkong, yang kedua radius dua ratus meter dekat kopitiamnya, beliau turun dari motor untuk menanyai karyawan toko sambil bilang ke saya, “saya juga punya anak, neng.” Duh baik banget, kan? Makasih, ya Pak.

 

Kopitiam Jelutung

Jambi menjadi kota baru bagi saya untuk berkesempatan bertemu dengan banyak orang baik lain di jalanan, di daerah pertama yang saya kunjungi, dan sendiri dengan ojek dan angkot pula. Cerita lain datang dari sopir angkot saya. Setelah dari Kopitiam Jelutung, saya ingin melihat Pasar Baru, sebelumnya saya mesti ke terminal sebelum nyambung angkot jurusan Linca. Daaan ada banyak pasar yang saya lewati, semua pasar tradisional dan sangat ramai. Jadilah saya tak turun dari angkot, ikut hingga trayek terakhir, di daerah Pudak, Jambi Timur. Dari Pudak masih dengan angkot yang sama saya mencoba ngobrol ringan dengan sopir nanya alamat Mesjid Seribu Tiang, dan doi menawarkan untuk mengantar. Karena tak cocok harga maka saya batalkan. Setelah turun angkot, dengan mukanya yang sayu dia bertanya, “yuk, ada masalah ya?” Saya antara mau ketawa dan berterima kasih karena sudah perhatian, masa saya dikira ada masalah karena ikut dia bablas sampai Pudak. Lucu, geli, sekaligus mengharukan, ya. Tambah lagi dia nanya apa saya balik Linca atau nggak dan tinggal di mana selama di Jambi. Pengalaman banget lah pokoknya.

Tujuan wisata Jambi lainnya adalah Mesjid Agung Al-Falah atau biasa disebut Mesjid Seribu Tiang. Ada banyak sekali tiang di sini sehingga disebut seribu tiang, walau jumlah tiang sebenarnya adalah 256. Dirancang sebagai bangunan terbuka tanpa pintu dan jendela, benar benar sejalan dengan nama masjid ini. Al-Falah dalam bahasa arab bila di Indonesiakan menjadi Kemenangan, menang bermakna memiliki kebebasan tanpa kungkungan (sumber: wikipedia).

 

Mesjid Al-Falah


Selepas Zuhur di Mesjid Al-Falah saya makan siang di Kopi Oey, salah satu rekomendasi teman saya. Dan tempatnya sangat strategis persis seberang jalan mesjid. Duduk menikmati Sego Ireng dan Kopi Oey Hitam, saya bertemu lagi dengan dua orang Jakarta yang sempat menanyai saya di mana tempat minum kopi enak sewaktu makan kwetiau di pinggir jalan depan Mal WTC malam sebelumnya. Perut saya dimanjakan banget oleh Jambi deh.

 

Sego Ireng dan Kopi Hitam di Kopi Oey Depan Al-Falah

Pagi sebelum pulang saya penasaran melihat apa aktivitas warga Kota Jambi di Gentala Arasy. Ada beberapa kelompok ibu-ibu senam pagi, anak-anak muda bersepeda santai, dan banyak masyarakat yang jalan kaki di sepanjang jembatan pedestrian. Saya pun tergoda dengan mie ayam dekat gerbang Gentala Arasy. Sepuluh ribu saja. Murah. Meriah. Enak. hehehe. Bener deh, gak perlu ke restoran mahal untuk ketemu makanan enak di Jambi.

 

Mie Ayam di Gentala Arasy

 

Batagor di SD Xaverius 01

Saya nggak perlu minta maaf kan karena telah sarapan dua kali? Hahahaha! Selepas sarapan mie ayam, saya pun berfoto-foto di Gentala Arasy, sebelum pulang ke hotel untuk packing terakhir kemudian melanjutkan perjalanan ke kenyataan senin ngantor, saya singgah lagi ke Xaverius nyari menu berbeda dari hari sebelumnya. Saya pikir awalnya tutup karena hari minggu dan anak sekolah libur, ternyata tetap buka dan tetap ramai. Pilihan saya jatuh ke Batagor. Batagornya dominan manis, kuahnya lebih hitam dan kental, rasanya enak. Banget.

 

narsis dulu sebelum pulang :p

 

Mentari Pagi di Sungai Batanghari

Terima kasih, Jambi, untuk pengalamannya yang menyenangkan. Nggak bakal rugi deh, Jambi mesti kamu jajal dan tantang, terutama untuk lidah dan perutmu.

Advertisements

Ide dan Oleh-oleh UWRF

05/11/2015 § Leave a comment

The Writer's Room

Empat hari sudah UWRF 2015 berlalu. Dan saya yang awalnya berjanji akan belajar mendisiplinkan diri dengan setengah jam setiap hari menulis pun tidak juga mengubah pola lama. Sifat malas yang mengungkung, padahal setiap hari saya selalu bekerja di hadapan laptop.

Dalam salah satu panelnya UWRF Program The Writer’s Room, mas Gunawan Tri Atmodjo, berbagi cerita bahwa untuk menulis ia tidak perlu pergi jauh, malah menggunakan meja kantornya dalam menciptakan karya-karyanya. Karena dalam keseharian, dia banyak menghabiskan waktu di kantor, maka kantorlah tempat ia berkisah. Sebagai editor di salah satu penerbit, Gunawan tak lepas dari rutinitas kantor. Bisa dibilang menulis di kantor merupakan bentuk “pelariannya.” Jika sudah tak ada lagi ide atau tak ada yang akan ditulisnya, ia biarkan tulisannya rehat sejenak atau pergi berjalan.

Lain lagi dengan Deddy Arsha. Jika banyak penulis muda menjadikan coffee shop untuk tempat menjemput atau menuangkan ide, penulis Odong-Odong Fort de Kock ini membuat rumahnya sebagai pintu utama dalam menulis puisi-puisinya. Selepas subuh adalah waktu terbaik, ditemani suara-suara alam yang masih asri di kampungnya, meski di sisi lain, subuh juga menjadi waktu sibuk nan bising karena di saat-saat itulah anak-anak mulai bergegas untuk berangkat sekolah.

Sekarang, UWRF 2015 telah berlalu, tinggal saya yang berjuang keras membuat blog ini tetap panas dan mengepul secara konsisten. Ibarat dapur, semoga panas dan kepulannya membuat batin saya kenyang. Dan semoga lagi, saya bisa membuat foto-foto lain untuk dituliskan dalam blog ini, setidaknya sebagai oleh-oleh UWRF 2015. Overall, it’s not about idea, it’s about making ideas happen.

Sehari Bersama Gus tf Sakai

15/09/2015 § Leave a comment

Saya terlambat tahu bahwa pengoleksi cerpen itu juga penulis puisi. Setelah batal menyaksikan pembacaan puisi di acara Peluncuran Buku Puisinya yang bertajuk “Susi”, besoknya saya berjumpa di sesi Menulis Kreatif Cerpen dan Puisi dengan Om-begitu biasa ia dipanggil-Gus.

Dan, terkuak lagi, seakan mengukuhkan semua pandangan penulis-penulis yang pernah saya temui, saya baca karya-karyanya, bahwa tidak ada teknik kreatif atau teknik-teknik lainnya dalam menulis. Satu-satunya cara agar bisa menjadi penulis adalah dengan menulis, menulis, dan menulis. Sembilan tahun bekerja di Payakumbuh, di tanah kelahiran dan tempat tinggal pengarang Kaki yang Terhormat itu, kami malah dipertemukan di Padang.

Beautiful Riot

15/04/2015 § Leave a comment

I see her beautiful
I see him rich
I see them smile at so many faces

but,

I see them riot
I see them fake
They sacrifice people
The victims were still around
and go

so, what beauty stands for?
what money stands for?

They still smile.

Bermalam di Kampung Kunang-kunang

24/03/2015 § Leave a comment

Destinasi adalah sebuah kata yang begitu akrab dengan kita belakangan ini. Destinasi menjadi kisah nyata, dipajang di ruang publik dan menari-nari indah dalam pengalaman batin seseorang. Apalagi untuk pengalaman pertama, tak terlupakan, layaknya pacar pertama. Salah satu contohnya adalah ketika saya naik pesawat dengan maskapai tak familiar, Kalstar dan Trigana. Atau karena pengalaman terbang saya masih cetek juga kali ya. Belum lagi kami mendarat di bandara dengan rating tertinggi yang disebut-sebut belakangan pascatragedi AirAsia, yaitu Bandar Udara Iskandar Pangkalan Bun. Parnonya tak ada yang mengalahkan, ditambah lagi beberapa goncangan di udara. Mungkin juga karena saya tak pamit pergi dengan orang tua. Duh, masih merinding kalau diingat lagi.

Siang itu akhir Januari lalu, langit cerah dan pemandangan di bandara dijejali oleh petugas dengan seragam oranye, siapa lagi kalau bukan tim hebat bernama Basarnas. Kami menunggu beberapa menit kedatangan seseorang yang kemudian saya ketahui adalah Mas Majid, si empunya kelotok yang akan membawa kami ke wisata hutan menyusuri Sungai Sekonyer dan menyambangi saudara dekat kita dengan tingkat kesamaan Gen mencapai 96,4%, Orangutan.

DSC_0192

Sungai Sekonyer

Tanjung Puting adalah konservasi Orangutan terbesar di dunia. Terletak di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Pesonanya tak hanya diminati oleh WNI semata. Bahkan di saat kedatangan saya, justru Wisman lebih mendominasi. “Beberapa dari mereka malah tak cukup datang hanya dalam sekali waktu,” tutur Agus, si nakhoda.

Lokasi konservasi pertama yang dituju adalah Tanjung Harapan. Berjarak sekitar dua jam dengan kelotok, tentu tak akan membuat kami bosan. Berbagai hura-hura, sorak, dan haru-biru syukur karena belum tentu teman lain berkesempatan sama menyambangi Tanjung Puting beredar di sepanjang perjalanan air kami, hingga tragedi pun terjadi: salah seorang teman saya yang tengah asik ber-selfie ria mendapati hp-nya lepas dari tongsis dan nyemplung sempurna ke sungai. Hiks! Dalam rute air yang dilalui, saya menjumpai banyak rambu-rambu lalu lintas yang menyediakan informasi KM dan belokan seperti di darat. Saya juga melalui titik sungai yang unik, yaitu perbatasan air sungai berwarna kuning dan berwarna hitam.

Tapal Batas

Tapal Batas

Setibanya di Tanjung Harapan, hal lain yang cukup membuat kaget ialah melihat pasir putih nan halus seperti pasir pulau di hutannya. Tak lama kami menjejak di konservasi, Gundul mengedarkan suara nyaringnya sambil bergelayut dengan Orangutan lain. Gaduh sekali dan kemudian Dadi, Pemandu kami, tersenyum dan berkata kalau Gundul sedang kawin. Ehem!

Jika di Tanjung Harapan berhasil melihat langsung dua puluh-an Orangutan berjingkat-jingkat, di Tanggui, tak satu pun mereka yang muncul, pun setelah menunggu satu jam. Kabarnya konservasi Tanggui memiliki Orangutan yang lebih liar dibanding Tanjung Harapan dan Camp Leakey.

Hari esok saatnya menyambangi Camp Leakey. Diambil dari nama profesor yang mengabdikan dirinya dalam penelitian Orangutan, lalu membuka lahan untuk konservasi. Salah satu muridnya, Prof. Galdikas begitu jatuh cinta dengan Orangutan dan beliau lah yang kemudian berjasa besar menjadikan Tanjung Puting dikenal dunia seperti sekarang ini. “Jika ibu datang, Orangutan-orangutan bahagia sekali, mereka gendongan, seperti ibu dan anak,” ujar Agus. “Makanan banyak, buat Ranger dan tentu saja buat mereka-Orangutan, sampai Monyet dan Bekantan pun semua sumringah,” tambah Dadi. Sesampainya di Camp Leakey, kami disambut oleh Siswi, Orangutan yang berumur 36 tahun. Siang itu Siswi tengah duduk manis menyambut tamu-tamunya.

Tibalah di malam yang sangat spesial, malam kedua kami bermukim di kelotok di tengah hutan bakau dan Sungai Sekonyer. Agus menambatkan kapalnya di sebuah titik di mana Kunang-kunang tinggal berkoloni dalam jumlah tak lagi terhingga, dan saya menamainya Kampung Kunang-kunang. Jika di malam sebelumnya kami bergosip tentang kehidupan para Ranger hingga tentang Ibu Galdikas, maka di malam kedua ini saya menghabiskan banyak waktu menatap ribuan Kunang-kunang. Bayangkan, jumlahnya tak terhitung! Saya sampai histeris, saking histerianya sampai bengong sendiri, mengangsur tangan dan menggapai, mendapati Kunang-kunang di telapak tangan, lalu mengajak bicara (so sweet, eh?). Kata orang bijak, mata kita akan sulit dipejam jika rindu atau benci yang teramat, tapi itu tak berlaku bagi saya. Malam itu saya tak bisa tidur bukan karena rindu atau benci, tapi karena dari balik kelambu masih disuguhi Kunang-kunang yang tak lelah memberikan cahayanya. Di luar sana beberapa teman saya asik mengobrol tentang kaitan antara territory dan pena, sementara saya melanjutkan obrolan bersama Kunang-kunang.

Ekspektasi saya ke Tanjung Puting tentu untuk melihat langsung kehidupan Orangutan melalui konservasi-konservasinya, ternyata Tuhan memberi saya lebih, sebuah kejutan manis di awal Februari lalu.

PS: Tadi malam sekitar pukul sepuluh, setengah sadar saya ke kamar mandi dan mendapati dua titik cahaya memasuki bak. Paginya, di tepi ember, ada hewan kecil dengan cahaya redup tengah megap-megap sakaratul maut. GOSH, SAYA DIDATANGI KUNANG-KUNANG SECARA KHUSUS DI TEMPAT SANGAT PRIBADI. Dan berkatnyalah draf sebulan lebih ini akhirnya tayang.

Siswi dan saya

Siswi dan saya

Menjemput Yadas

22/11/2014 § 1 Comment

Pukul dua belas lebih empat puluh sembilan dini hari, tiga orang lelaki memasuki sebuah kedai bernama Nusantara. Satu orang berumur lima puluh tahunan dan dua orang lainnya sekitar tiga puluh tahunan akhir. Satu di antara tiga puluh tahunan itu tampak paling menonjol. Kulitnya sedikit gelap, rahangnya tegas, lesung pipi dan bermata dalam. Dini hari itu dia memakai t-shirt tanpa lengan. Mereka masuk diantar porter yang sekaligus dibayar hingga urusan check-in.

Kopi hitamku baru kureguk dua cecap. Ah, terlalu manis, umpatku. Ibarat jam dinding, si lelaki bermata dalam berada di angka delapan dan aku di angka enam. Sedikit berhadapan secara serong namun itulah sepertinya celah terbaiknya sering memantau gerikku.

Di hadapanku, enam bapak-bapak berkumis beraneka-ragam tampak asyik dalam obrolan tidak penting mereka. Berbicara lalu tertawa, sambil menikmati kopi masing-masing. Sesekali mereka juga melihatku takjub lalu tersenyum, mungkin karena aku satu-satunya perempuan di warung itu di tengah malam begini.

Dua puluh menit kemudian, rombongan bapak-bapak berkumis aneka ragam meninggalkan warung Nusantara. Tersisa kami berempat dan si lelaki bermata dalam kian berani. Dia menyambangiku dan duduk di kursi sebelahku. Baik, sesekali patut juga mengevaluasi latihanku saban hari kepada ganteng ini, batinku tertawa puas.

Anehnya, salah satu teman si lelaki bermata dalam merogoh dompet dan memberikan beberapa lembar seratus ribuan kepada kasir sambil berbisik entah, padahal mereka belum niat menyelesaikan transaksi di warung itu. Ya, aku yakin sekali bahwa uang itu adalah untuk menutup mulut agar keonaran mereka di warung Nusantara berjalan aman setidaknya membiarkan aksi teman mereka terhadapku.

Sesuai perhitunganku, memang benar si lelaki bermata dalam berniat menyalurkan sesuatu yang menyembul dari dalam dirinya. Tiba-tiba secepat kilat dia meremas pinggulku, mendekatkan kursinya hingga tiada lagi jarak antara aku dan dia. Mulutnya yang seperti bebek lapar, menyosor wajahku. Cukup dua menit aku melayaninya. Berpikir cepat, lumayan untuk hidup beberapa hari ke depan dengan mengorbankan hanya dua menit.

Dalam amarah dan tangis palsu, aku melempar sisa kopiku kepada si lelaki, menamparnya, lalu berlari meninggalkan mereka. Sebuah taksi langsung mengantarku ke peraduan. Hari ini aku tak perlu ke terminal atau stasiun untuk berburu recehan. Sesekali ke bandara lumayan juga penghasilanku. Bonus untuk ke salon pun kudapatkan. Kuelus-elus juga dompet bermerk Yadas itu sampai tertidur.

Jakarta, 22 Nopember 2014.

Berdamai dengan Tukang Klaim

15/11/2014 § Leave a comment

Sebagai orang yang hobi kelayapan, saya pernah menjadi seseorang yang sangat impulsif dan di saat yang sama juga begitu saklek. Ya, saya pernah mengetok palu bahwa saya tidak akan pernah menjejakkan kaki di bumi Malaysia.

Kenapa? Karena negara itu hobi betul mengklaim yang bukan miliknya sebagai kepunyaan mereka. Tentu ini bukan masalah nasionalisme saya yang pas-pasan. Ini lebih ke perihal prinsip. Bagaimana mungkin sesuatu yang jelas-jelas berasal dari Indonesia tiba-tiba mereka nyatakan milik mereka, sebut saja rendang, angklung, sampai batik. Ini hanyalah beberapa hal yang saya tahu tanpa meriset lebih lanjut di situs internet (karena akan menemukan lebih banyak dan sayanya jadi lebih emosi dan gagal posting ini, hehe). Dan betapa bahagianya saya, ketika bertemu dengan teman yang berpendapat sama dengan saya: tidak mau menyentuh tanah Malaysia, walaupun teman saya itu lebih ke arah patuh pada keputusan suaminya.

Malam ini ketika mulai mengetik postingan ini pun, Metro TV menyiarkan bahwa Malaysia mengklaim tiga desa di perbatasan Indonesia dan Malaysia di Kalimantan sebagai wilayah hukum Malaysia. Memang, jika ini dibahas lebih tenang, sistematis dan teoretis dalam kaca mata hukum internasional, dan yang lebih penting secara aplikatif di lapangan, negara Indonesia juga dalam posisi sulit. Perihal tiga desa tersebut, jika diadakan jajak pendapat, warga di sana lebih memilih tinggal dan bekerja di Malaysia dibanding Indonesia. Pun dalam masalah Sipadan Ligitan yang menurut Putusan Mahkamah Internasional telah dinyatakan sebagai milik Malaysia, Indonesia tidak punya cukup bukti, kontrol, ataupun posisi tawar yang baik terhadap dua pulau itu. Ini adalah PR besar pemerintah Indonesia ke depan betapa masalah wilayah perbatasan begitu rentan.

Duh, jadi serius gini. Mari balik ke topik awal kita: kelayapan, eh maksudnya traveling.

Sebagaimana kata orang bijak bahwa waktu bisa mengubah segalanya. Ya, itu adalah keputusan awal saya ketika belum menginjak di taraf berfikir dewasa. Lalu, keputusan itu pun sampai di tingkat banding dan dianulir. Saya telah berdamai dengan Malaysia, si Tukang Klaim itu. Bagaimanapun, jika saya dan keluarga teman saya memahat mati keputusan untuk tidak pernah datang ke Malaysia, toh tidak ada yang bisa juga menjamin kalau Malaysia akan berhenti mengklaim nantinya. Atau pemasukan sektor pariwisata Malaysia akan berkurang karena kealpaan kami berkunjung atau kemungkinan buruk lainnya. Tentu saja itu tak akan pernah terjadi. Yang ada saya hanya akan memupuk kebencian yang semu, kecuali saya bisa menempeleng orang Malaysia misalnya. Bahkan ketika sedang berada di Changi pun, saat orang Malaysia seenaknya menebak saya adalah seorang TKI, saya juga tidak bisa langsung menghajar dia, karena saya takut sendiri melihat laki-laki itu begitu besar. Hiiii.

Hari ini ketika seharusnya saya berada di Malaysia walau hanya sekadar transit, saya jadi berfikir bahwa kegagalan saya menjejak di Malaysia simply karena saya kualat. Tapi tak apa, setidaknya saya telah move on tidak lagi sebagai pembenci. Satu lagi, saya tidak lagi ngiler melihat harga tiket pesawat Air Asia Padang-Malaysia yang sangat terjangkau itu. Sepertinya lucu juga melipir ke sana di kala weekend.

%d bloggers like this: