Laut Bercerita, Leila S. Chudori

Pos      : Laut Bercerita, Leila S. Chudori
URL : https://adekbakri.wordpress.com/2018/03/10/laut-bercerita-leila-s-chudori/
Ditulis : 9 Maret 2018 pukul 21.18
Penulis : Sri Maya Sari
Tag      : Novel, Leila S. Chudori, Resensi

Novel ini terdiri dari dua subbagian. Subbagian pertama diceritakan melalui POV Biru Laut (namanya bagus, ya). Pada subbagian ini ada sepuluh bab dengan alur maju mundur. Pada subbagian kedua dikisahkan melalui POV adik perempuan Laut, Asmara Jati.

Leila S. Chudori begitu piawai merangkai ramuan cinta, kisah hangat keluarga, hingga perjuangan pergerakan mahasiswa sebagai sajian yang epik sekaligus memilukan. Novel ini mengingatkan akan Novel Pulang yang juga mengangkat tema 1998 dengan template bumbu masakan. Novel Pulang merupakan novel pertama Leila yang membuat saya kemudian menjadi pengoleksi buku-bukunya.

Cerita berawal tentang kepindahan Biru Laut dan teman-temannya-Kinan, Sunu, Daniel, dan Alex- ke “rumah hantu”. Kisah awal berlatar di Yogyakarta. Lalu berlanjut tentang perkenalannya pertama kali dengan Kinan, sebagai sosok yang sangat ingin mengontrol segalanya: memutuskan awal perihal mengontrak rumah hantu, memfotokopi sendiri buku Anak Semua Bangsa; sedari kecil gelisah tentang kesenjangan sosial dan ekonomi yang tampak nyata di mana ayahnya seorang pegawai pegadaian dan di bulan-bulan Juni sering para orangtua datang untuk menggadaikan barang milik mereka untuk biaya sekolah ajaran baru si anak, itulah alasan dia memilih Fakultas Politik.

Kinan kemudian mengenalkan Laut pada Bram. Bram dan Kinan pernah ditangkap polisi saat mereka masih mahasiswa hijau ketika mendampingi korban penggusuran Kedung Ombo. Ketika Kinan kecil gelisah melihat ketimpangan ekonomi di Indonesia, maka Bram kecil telah rusuh hatinya akan masalah kemiskinan dan kematian. Bram SMP adalah pelahap Di Bawah Bendera Revolusi, Pondok Paman Tom, Oliver, dan Kisah Dua Kota.

Pengerjaan mural pada rumah mereka yang baru itulah kemudian membawa Laut bertemu dengan Anjani yang kelak menjadi kekasihnya. Setelah itu cerita berlanjut dengan pertemuan awal dengan sahabat-sahabatnya: Sunu, Daniel, Alex, Tama.

Biru Laut mencintai bacaan sejak kecil karena diajarkan oleh ayahnya yang seorang wartawan. Selain ayahnya, ibu Ami-guru Bahasa Indonesianya ketika kelas lima SD di Solo-membuat Laut semakin mencintai sastra. Dari dialah Laut kenal puisi Amir Hamzah, Chairil Anwar, dan Rendra.

Nama Laut masuk menjadi bagian dari kelompok “underground” dalam aksi memberontak kebijakan-kebijakan pemerintah orde baru. Kelompok mereka dinamakan Winatra dan Wirasena.

Bab demi bab berlanjut. Adegan pendampingan masyarakat yang menuntut hak dan keadilan, penjemputan paksa, penganiayaan, hidup buron, hingga dirindukan keluarga silih berganti mengaduk emosi.

Sunu sebelumnya telah diculik oleh orang yang tak dikenal. Disusul kemudian penjemputan paksa Laut ke rumah. Laut diangkut untuk disiksa, dipukul, hingga disentrum karena tidak mau memberikan jawaban atas pertanyaan mereka tentang siapa yang mendirikan Winatra dan Wirasena, siapa membiayai kegiatan tersebut, dan di mana teman Laut yang lain yakni Kinan dan Gala Pranaya.

Ketika perjuangan mahasiswa menuntut orde baru itu berbuah manis sekaligus pahit. Rezim runtuh dan para penyiksa ditangkap. Pahitnya tentu saja pejuang-pejuang tersebut tidak semuanya bisa pulang. Tidak semua bisa kembali mendekap keluarga ataupun kekasih mereka.

Mendengar cerita Laut seperti menyetel kaset murung untuk kemudian diulang dan diulang kembali. Beberapa kali tak sanggup menahan airmata yang begitu saja menetes ikut merasakan siksaan demi siksaan yang Laut dan teman-temannya alami maupun kesedihan akan kehilangan yang dirasakan keluarga mereka.

Jika di subbagian pertama kita disuguhkan bagaimana sekelompok mahasiswa yang berjuang demi negeri yang lebih baik, maka di subbagian kedua kita dibuat menangis karena betapa sedihnya kehilangan orang-orang yang dicintai tanpa tahu apakah mereka hidup atau mati, jika pun mati mereka juga tidak menemukan tempat ziarah untuk menabur bunga untuk melebur kerinduan.

Saya cukup teriris bagaimana penulis menggambarkan kesedihan yang dingin di meja makan itu. Bapak yang tetap membawa empat buah piring-untuknya, ibu, Asmara, dan Laut, di ritual masak dan makan bersama di setiap hari Minggu dengan menu favorit Laut, tengkleng kambing dengan bumbu dasar bawang merah, bawang putih, kemiri, kunyit, lengkuas, jahe, dan santan cair dengan diiringi The Beatles melalui vinyl milik Bapak. Mereka pun menunggu Laut di meja makan. Menunggu siapa tahu Laut pulang dan lapar. Hingga 15 menit penungguan itu berakhir dan Bapak memutuskan mulai makan dan berkata “Mas Laut nanti bisa menghangatkan makanan di kulkas.” (Hal. 309)

Jika Ibu mengenang Laut di dapur dengan segala rutinitas mereka, maka Bapak akan ke kamar Laut dan merawat buku-bukunya. “Ah ya, Mas Laut membaca Nietzsche, berbincang tentang buku ini dengan Bapak. Dia suka sekali karya sastrawan Amerika Latin,” (hal. 310) setelah Bapak melihat deretan novel karya Gabriel Garcia Marquez, Mario Vargas Llosa, dan Isabelle Allende.

Seperti yang Asmara bilang, Bapak dan Ibu bagai hidup dalam kepompong. Di sana Laut masih hidup. Hidup di dalam kenangan. Dan kepompong itulah yang menyangga kehidupan Ibu dan Bapak. Dan juga Anjani. Mereka hidup dalam penyangkalan bahwa Laut masih hidup dan suatu hari akan kembali. Kepedihan keluarga lain pun juga dilukiskan dengan sama baiknya.

Di serentetan kesedihan dalam novel ini, penulis memberikan sedikit “penyelamatan” oleh kisah cinta Asmara Jati dan Alex Perazon. Meski di awal kepulangan Alex, hubungan mereka begitu mencekam karena Alex dikurung rasa bersalah kenapa dia dibebaskan sementara Laut tidak juga kembali. “Kau tahu, Asmara…Laut, Kinan, Mas Gala, Julius, Dana, Narendra…Mereka tak sempat mengecap sebuah Indonesia yang lain. Mereka hanya mengenal Indonesia yang berbeda, yang gelap, dan keras.” (hal. 294).

Di penghujung cerita, penyangkalan-penyangkalan dan penantian-penantian dari keluarga yang ditinggalkan pupus juga. Mereka para keluarga dan kekasih yang ditinggalkan berkumpul membawa bunga dan potret, ada juga puisi, atau apapun yang menjadi bagian penting dari sejarah hidup orang terkasih yang akhirnya tak kembali itu. Mereka menabur bunga ke laut sebagaimana peziarah mengunjungi makam. Taburan bunga di laut itu memberi kabar kepada Laut bahwa mereka tak lagi hidup dalam kenangan sedih masa lalu.

Judul Buku: Laut Bercerita
Penulis : Leila S. Chudori
Penerbit: Gramedia
Terbit : Oktober 2017
Harga : Rp85.000,00
Tebal : 379 halaman
Ukuran : 13,5 x 20 cm
Cover : Softcover
ISBN : 978-602-424-694-5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s