The Last Part of Bridezilla: Sulitnya Menjadi Lajang di Usia 31 (di Indonesia)

24/05/2017 § Leave a comment

Akhirnya saya tidak lagi single di usia 32 tahun. Satu pertanyaan penting sejagad raya dari orang-orang tidak lagi saya rasakan. Membahagiakan? Melegakan, iya. Hari ini adalah H+19 saya berstatus sebagai istri. Tepatnya tanggal lima Mei lalu saya diserahterimakan secara agama dan negara dari Bapak ke Suami. Terlambat? Literally not, karena seperti kak Sophia Bush bilang: “marriage is not about age; it’s about finding the right person.” And yes, he is my right person. Hello again, my 6 pm.

Menikah di usia tiga dua kurang dua minggu di sini, di negara kita Indonesia itu cukup berat, kakak. Apa saja cerita yang memberatkan itu? Here we go!

Mari flashback sebentar di beberapa saat sebelum lima Mei. Saat-saat pertanyaan orang-orang seragam dan terdengar begitu menyindir atau mencemooh. Hai para double di luar sana, pertanyaan kalian itu tidak pernah mengenakkan hati. Sungguh.

Sudah nikah?” atau “Kenapa masih belum nikah?” Itulah satu ragam pertanyaan yang saya jumpai dengan orang-orang baru di travel, di warung minum kopi, di mesjid dekat kantor baru, di angkot jika duduk di sebelah abang sopir, di pasar tradisional (bahkan si uni semangat mencarikan saya jodoh di kota yang baru dua minggu saya tinggali waktu itu, duuuh baiknyaaa), setiap bertemu teman ibuk dan/atau bapak, sepupu nun jauh di kota seberang jika teleponan, pertanyaan mereka hanya satu. Ya, itu tadi, kenapa masih belum juga menikah.

Bangsa ini seolah ditakdirkan memiliki warga yang sangat peduli dan harus tahu mengenai status perkawinan seseorang.

Tentu pertanyaan itu disebabkan karena faktor umur. Sebenarnya siapa sih yang pertama kali memberi patokan umur ideal menikah ini? Mungkin kaitannya erat sekali dengan usia produktif sel telur untuk kemudian menjadi generasi penerus. Lho, kok jadi kayak kelas biologi, ya? Padahal kan yang nulis anak IPS. 

Draft ini saya tulis jauh sebelum punya rencana menikah. Simply untuk lucu-lucuan atau hanya sekadar sharing, dapat judul di atas itu juga sudah sejak kapan hari tapi untuk menuliskannya seperti begitu sulit. Postingan tanpa direkayasa ini saya anggap semacam memorabilia, ya siapa tahu nanti bisa dibaca anak cucu kami. Hihi. 

Mengapa mesti nikah dulu baru bahagia? Kebahagiaan itu sesederhana ketika kaki saya tidak mampu meraih ransel di bagasi kabin dan tanpa diminta bantuan, seorang bule ganteng bilang ā€œmay i help you?ā€

Kebahagiaan itu ketika merasa cukup dan memutuskan quit dari posisi kantor yang berjibaku dengan uang, uang, dan uang. Percayalah, hidup terlalu singkat jika hanya bekerja mengurusi uang dan menumpuk uang. 

Kebahagiaan itu ketika diantar oleh seseorang yang baru dikenal beberapa menit sebelum ke bandara untuk pulang, ke sebuah destinasi menarik lain, untuk dua minggu kemudian doi melamar saya, lalu ketika kami berencana untuk bertemu lagi sebuah kabar yang sangat mengejutkan membuat bubar semuanya dan sampai hari ini kami tetap berteman. Ralat: pacarnya yang posesif level akut menjadikan Yek tidak bisa mengakses sosmednya, dan membuat dia “steril” dari saya. 

Kebahagiaan adalah ketika ditelepon anak-anak teman yang dengan tulus mencintai kita; bertanya kabar, mendengar cerita mereka tentang segala hal; menangis drama tak ingin berpisah ketika reuni setelah beberapa minggu tidak bertemu; hingga merasakan telepati dengan Asha dari jarak ribuan kilometer. 

Kebahagiaan itu tenggelam dalam bacaan-bacaan dari penulis favorit yang sampai sibuknya membaca tidak lagi punya waktu untuk galau. 

Kebahagiaan itu berada di perjalanan seorang diri di kereta api ataupun kapal laut di sebuah tempat yang baru pertama dikunjungi, tanpa ngobrol dengan orang asing, seolah menarik diri dari segala elemen luar dan hanya fokus akan elemen internal diri. Dan di situ ada sebuah keyakinan akan semua hal sudah berjalan sesuai dengan koridornya, dengan relnya, lalu terbahak menertawai diri sendiri.

Kebahagiaan itu bertemu idola di rumahnya, secara pribadi membahas hal-hal di luar literasi, untuk kemudian menjadi teman baik. 

Kebahagiaan itu terkadang begitu murah. Seperti saat saya berteman baik dengan seorang manula, bercakap-cakap di pertemuan-pertemuan tidak rutin kami mendengarnya mengingat masa mudanya yang digilai laki-laki gagah kala itu. Cerita-cerita yang sama dengan tawa-tawa kami yang sederhana.

Lalu, kenapa kemudian kebahagiaan hanya diidentikkan dengan menikah saja? Satu hal yang saya betul-betul rasakan dalam kehidupan dan saya catat adalah: happiness is one thing, marriage is another. 

Last but not least, tahun ini ibu saya tidak lagi mengeluarkan air mata mengucapkan selamat ulang tahun. Ya, bahagia saya juga membengkak melihat tawa dan tangis harunya di hari itu. Well, untuk semua fans di luar sana, welcome to the friendzone. :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading The Last Part of Bridezilla: Sulitnya Menjadi Lajang di Usia 31 (di Indonesia) at Adek's Blog.

meta

%d bloggers like this: