Bermalam di Kampung Kunang-kunang

Destinasi adalah sebuah kata yang begitu akrab dengan kita belakangan ini. Destinasi menjadi kisah nyata, dipajang di ruang publik dan menari-nari indah dalam pengalaman batin seseorang. Apalagi untuk pengalaman pertama, tak terlupakan, layaknya pacar pertama. Salah satu contohnya adalah ketika saya naik pesawat dengan maskapai tak familiar, Kalstar dan Trigana. Atau karena pengalaman terbang saya masih cetek juga kali ya. Belum lagi kami mendarat di bandara dengan rating tertinggi yang disebut-sebut belakangan pascatragedi AirAsia, yaitu Bandar Udara Iskandar Pangkalan Bun. Parnonya tak ada yang mengalahkan, ditambah lagi beberapa goncangan di udara. Mungkin juga karena saya tak pamit pergi dengan orang tua. Duh, masih merinding kalau diingat lagi.

Siang itu akhir Januari lalu, langit cerah dan pemandangan di bandara dijejali oleh petugas dengan seragam oranye, siapa lagi kalau bukan tim hebat bernama Basarnas. Kami menunggu beberapa menit kedatangan seseorang yang kemudian saya ketahui adalah Mas Majid, si empunya kelotok yang akan membawa kami ke wisata hutan menyusuri Sungai Sekonyer dan menyambangi saudara dekat kita dengan tingkat kesamaan Gen mencapai 96,4%, Orangutan.

DSC_0192
Sungai Sekonyer

Tanjung Puting adalah konservasi Orangutan terbesar di dunia. Terletak di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Pesonanya tak hanya diminati oleh WNI semata. Bahkan di saat kedatangan saya, justru Wisman lebih mendominasi. “Beberapa dari mereka malah tak cukup datang hanya dalam sekali waktu,” tutur Agus, si nakhoda.

Lokasi konservasi pertama yang dituju adalah Tanjung Harapan. Berjarak sekitar dua jam dengan kelotok, tentu tak akan membuat kami bosan. Berbagai hura-hura, sorak, dan haru-biru syukur karena belum tentu teman lain berkesempatan sama menyambangi Tanjung Puting beredar di sepanjang perjalanan air kami, hingga tragedi pun terjadi: salah seorang teman saya yang tengah asik ber-selfie ria mendapati hp-nya lepas dari tongsis dan nyemplung sempurna ke sungai. Hiks! Dalam rute air yang dilalui, saya menjumpai banyak rambu-rambu lalu lintas yang menyediakan informasi KM dan belokan seperti di darat. Saya juga melalui titik sungai yang unik, yaitu perbatasan air sungai berwarna kuning dan berwarna hitam.

Tapal Batas
Tapal Batas

Setibanya di Tanjung Harapan, hal lain yang cukup membuat kaget ialah melihat pasir putih nan halus seperti pasir pulau di hutannya. Tak lama kami menjejak di konservasi, Gundul mengedarkan suara nyaringnya sambil bergelayut dengan Orangutan lain. Gaduh sekali dan kemudian Dadi, Pemandu kami, tersenyum dan berkata kalau Gundul sedang kawin. Ehem!

Jika di Tanjung Harapan berhasil melihat langsung dua puluh-an Orangutan berjingkat-jingkat, di Tanggui, tak satu pun mereka yang muncul, pun setelah menunggu satu jam. Kabarnya konservasi Tanggui memiliki Orangutan yang lebih liar dibanding Tanjung Harapan dan Camp Leakey.

Hari esok saatnya menyambangi Camp Leakey. Diambil dari nama profesor yang mengabdikan dirinya dalam penelitian Orangutan, lalu membuka lahan untuk konservasi. Salah satu muridnya, Prof. Galdikas begitu jatuh cinta dengan Orangutan dan beliau lah yang kemudian berjasa besar menjadikan Tanjung Puting dikenal dunia seperti sekarang ini. “Jika ibu datang, Orangutan-orangutan bahagia sekali, mereka gendongan, seperti ibu dan anak,” ujar Agus. “Makanan banyak, buat Ranger dan tentu saja buat mereka-Orangutan, sampai Monyet dan Bekantan pun semua sumringah,” tambah Dadi. Sesampainya di Camp Leakey, kami disambut oleh Siswi, Orangutan yang berumur 36 tahun. Siang itu Siswi tengah duduk manis menyambut tamu-tamunya.

Tibalah di malam yang sangat spesial, malam kedua kami bermukim di kelotok di tengah hutan bakau dan Sungai Sekonyer. Agus menambatkan kapalnya di sebuah titik di mana Kunang-kunang tinggal berkoloni dalam jumlah tak lagi terhingga, dan saya menamainya Kampung Kunang-kunang. Jika di malam sebelumnya kami bergosip tentang kehidupan para Ranger hingga tentang Ibu Galdikas, maka di malam kedua ini saya menghabiskan banyak waktu menatap ribuan Kunang-kunang. Bayangkan, jumlahnya tak terhitung! Saya sampai histeris, saking histerianya sampai bengong sendiri, mengangsur tangan dan menggapai, mendapati Kunang-kunang di telapak tangan, lalu mengajak bicara (so sweet, eh?). Kata orang bijak, mata kita akan sulit dipejam jika rindu atau benci yang teramat, tapi itu tak berlaku bagi saya. Malam itu saya tak bisa tidur bukan karena rindu atau benci, tapi karena dari balik kelambu masih disuguhi Kunang-kunang yang tak lelah memberikan cahayanya. Di luar sana beberapa teman saya asik mengobrol tentang kaitan antara territory dan pena, sementara saya melanjutkan obrolan bersama Kunang-kunang.

Ekspektasi saya ke Tanjung Puting tentu untuk melihat langsung kehidupan Orangutan melalui konservasi-konservasinya, ternyata Tuhan memberi saya lebih, sebuah kejutan manis di awal Februari lalu.

PS: Tadi malam sekitar pukul sepuluh, setengah sadar saya ke kamar mandi dan mendapati dua titik cahaya memasuki bak. Paginya, di tepi ember, ada hewan kecil dengan cahaya redup tengah megap-megap sakaratul maut. GOSH, SAYA DIDATANGI KUNANG-KUNANG SECARA KHUSUS DI TEMPAT SANGAT PRIBADI. Dan berkatnyalah draf sebulan lebih ini akhirnya tayang.

Siswi dan saya
Siswi dan saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s