Berdamai dengan Tukang Klaim

Sebagai orang yang hobi kelayapan, saya pernah menjadi seseorang yang sangat impulsif dan di saat yang sama juga begitu saklek. Ya, saya pernah mengetok palu bahwa saya tidak akan pernah menjejakkan kaki di bumi Malaysia.

Kenapa? Karena negara itu hobi betul mengklaim yang bukan miliknya sebagai kepunyaan mereka. Tentu ini bukan masalah nasionalisme saya yang pas-pasan. Ini lebih ke perihal prinsip. Bagaimana mungkin sesuatu yang jelas-jelas berasal dari Indonesia tiba-tiba mereka nyatakan milik mereka, sebut saja rendang, angklung, sampai batik. Ini hanyalah beberapa hal yang saya tahu tanpa meriset lebih lanjut di situs internet (karena akan menemukan lebih banyak dan sayanya jadi lebih emosi dan gagal posting ini, hehe). Dan betapa bahagianya saya, ketika bertemu dengan teman yang berpendapat sama dengan saya: tidak mau menyentuh tanah Malaysia, walaupun teman saya itu lebih ke arah patuh pada keputusan suaminya.

Malam ini ketika mulai mengetik postingan ini pun, Metro TV menyiarkan bahwa Malaysia mengklaim tiga desa di perbatasan Indonesia dan Malaysia di Kalimantan sebagai wilayah hukum Malaysia. Memang, jika ini dibahas lebih tenang, sistematis dan teoretis dalam kaca mata hukum internasional, dan yang lebih penting secara aplikatif di lapangan, negara Indonesia juga dalam posisi sulit. Perihal tiga desa tersebut, jika diadakan jajak pendapat, warga di sana lebih memilih tinggal dan bekerja di Malaysia dibanding Indonesia. Pun dalam masalah Sipadan Ligitan yang menurut Putusan Mahkamah Internasional telah dinyatakan sebagai milik Malaysia, Indonesia tidak punya cukup bukti, kontrol, ataupun posisi tawar yang baik terhadap dua pulau itu. Ini adalah PR besar pemerintah Indonesia ke depan betapa masalah wilayah perbatasan begitu rentan.

Duh, jadi serius gini. Mari balik ke topik awal kita: kelayapan, eh maksudnya traveling.

Sebagaimana kata orang bijak bahwa waktu bisa mengubah segalanya. Ya, itu adalah keputusan awal saya ketika belum menginjak di taraf berfikir dewasa. Lalu, keputusan itu pun sampai di tingkat banding dan dianulir. Saya telah berdamai dengan Malaysia, si Tukang Klaim itu. Bagaimanapun, jika saya dan keluarga teman saya memahat mati keputusan untuk tidak pernah datang ke Malaysia, toh tidak ada yang bisa juga menjamin kalau Malaysia akan berhenti mengklaim nantinya. Atau pemasukan sektor pariwisata Malaysia akan berkurang karena kealpaan kami berkunjung atau kemungkinan buruk lainnya. Tentu saja itu tak akan pernah terjadi. Yang ada saya hanya akan memupuk kebencian yang semu, kecuali saya bisa menempeleng orang Malaysia misalnya. Bahkan ketika sedang berada di Changi pun, saat orang Malaysia seenaknya menebak saya adalah seorang TKI, saya juga tidak bisa langsung menghajar dia, karena saya takut sendiri melihat laki-laki itu begitu besar. Hiiii.

Hari ini ketika seharusnya saya berada di Malaysia walau hanya sekadar transit, saya jadi berfikir bahwa kegagalan saya menjejak di Malaysia simply karena saya kualat. Tapi tak apa, setidaknya saya telah move on tidak lagi sebagai pembenci. Satu lagi, saya tidak lagi ngiler melihat harga tiket pesawat Air Asia Padang-Malaysia yang sangat terjangkau itu. Sepertinya lucu juga melipir ke sana di kala weekend.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s