Lalu Saya Lupa

Jika uang mampu membeli hal paling absurd sekalipun, apa yang akan kamu pesan? Seikat senja di sudut dunia paling romantis? Pintu kemana saja biar langsung sampai Turki? Atau kemampuan menghilangkan diri? Bagi saya, ingatan. Ya, ingatan yang paripurna. Betapa di umur yang bahkan belum menginjakkan bilangan tiga puluh, saya sudah memiliki ingatan yang menyedihkan.

Di pagi hari Senin ini saya terbangun pukul 04.10. Bagi saya jam segitu bukanlah jam bangun dengan judul kepagian, apalagi di saat saya belum menunaikan Isya. Jadilah saya buru-buru berwudhu ke kamar mandi. Sebelum melangkahkan kaki untuk mengambil air, saya dikejutkan oleh bunyi desisan yang berasal dari kompor. Oh Tuhan, saya lupa mematikan kompor saat memasak air di dandang sejak pukul sepuluh malam! Hasilnya, air yang tersisa tak cukup seperempatnya. Dan parahnya ini bukan kali pertama. Persisnya saya lupa (malah lupa lagi?).

Sekitar dua bulan yang lalu kejadian serupa terjadi. Ini lebih mencekam. Air yang saya masak bukan di dandang, namun di wajan air yang jauh lebih kecil. Di tengah malam saya terbangun saat itu, seketika setelah mematikan api kompor dan menatap takut wajan yang telah kering, saya langsung sujud syukur. Allah sungguh sayang sekali dengan saya (dan juga bu kos). Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika minyak tanah dalam kompor juga ikut mengering.

Penyakit lupa saya ini telah menjadi pengingat khusus bagi orang-orang tertentu kepada saya. Suatu kali sekembali dari kppn Bukittinggi, saya dan Kasubag saya (sekarang telah pensiun) mampir untuk makan siang di RM. Saiyo. Saya ketika itu hanya membawa dompet dan meletakkannya di kantong rok, karena saya adalah sedikit dari perempuan yang tidak disibukkan dengan tas (apalagi branded) tertenteng di tangan atau menyampirkan dompet 30cm. Kami pun makan dengan lahap sampai saya melihat dompet yang mirip sekali dengan punya saya.

Tak ayal saya langsung merogoh kantong rok dan tidak menemukan dompet saya! Tanpa pikir panjang saya menghampiri karyawan yang memegang dompet tersebut. Semua kartu identitas tentu menyatakan sayalah pemilik dompet tersebut. Seorang siswa SD menemukannya di depan pintu masuk rumah makan, kata si karyawan. Alhamdulillah, betapa lagi dan lagi Allah sangat sayang pada saya yang pelupa ini. Lucunya, bertahun-tahun setelah kejadian itu, setiap saya berkunjung untuk makan, si karyawan selalu guyon dengan bilang “dompetnya awas jatuh lagi.”

Tentu ada lagi cerita tentang dompet, tetapi bukan terjatuh namun tertinggal di toko majalah bekas. Betapa tangis hampir pecah, gagap menghinggap mau diteruskan kemana pencarian saat itu. Dan saya menemukan seseorang yang sangat jujur dan menyimpan dompet yang tertinggal itu di tokonya. Nama pemuda itu Fikri.

Setelah si Uda RM. Saiyo yang jadi teman guyon saya karena pelupa. Saya menemukan seseorang lain yang begitu melihat kunci jadi otomatis mengingat saya. Begini kejadiannya: hari Minggu sore ketika saya mau balik ke office town Payakumbuh, saya melangkah pasti meninggalkan rumah tanpa punya firasat sedikitpun ada yang tertinggal. Saya menuju Payakumbuh dengan menaiki (semi) travel favorit-Tranex. Setiba di Lubuk Alung saya mencoba mencari masker untuk memakainya karena debu kiriman dari kota Pekanbaru kala itu begitu menjadi-jadi. Tak hanya masker yang tak ditemukan, kunci kos pun juga ikut tertinggal di rumah. Ooh penonton di rumah tentu menyoraki saya yang selalu kepedean dan yakin menjawab bahwa tak ada yang tertinggal ketika cross check sebelum berangkat. Alhasil, saya pun menunggu kunci yang dititipkan adik saya ke sopir Tranex tujuan Payakumbuh shift berikutnya. Ngalor ngidul hingga tawa pecah di pool saat penungguan itu. Dan bonusnya, saya diramal oleh salah satu dari mereka. Katanya, kelak pasangan saya berinisial A. Berminggu-minggu setelah itu, setiap kali bertemu dengan mereka, mereka guyon “kalau lihat kunci jadi ingat sama kamu.” (Tentu dengan versi bahasa Padang).

Saya yakin sekali Tuhan tak pernah keliru. Dia punya tujuan dan alasan menciptakan hambanya ini sebagai makhluk pelupa. Agar saya begitu mudah untuk tidak lagi mengingat kesalahan bos saya setelah kami beradu mulut hingga dada saya begitu penuh dengan amarah dan tangis pun tak terbendung. Namun dua hari setelah itu kami kembali cengengesan bareng. Agar saya juga dapat dengan mudah melupakan kesalahan orang-orang sekitar hingga mengubur trauma-trauma di masa lalu. Karena manusia sejatinya adalah makhluk yang mempunyai salah.

Kemudian saya memutuskan meralat untuk tidak membeli ingatan yang paripurna itu. Tapi beli apa ya? Sunset yang dikotakkan saja bagaimana? #halah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s