Pekerjaan apa hobi? Dua-duanya! Combo!

Siang itu keadaan kantor KPPN Bukittinggi sama riuhnya dengan rental komputer yang terletak di depan kantor KPPN, persis ujung jalan sebelah kiri menuju kantor Kejaksaan Negeri Bukittinggi. Komputer berderet di kedua sisi kiri dan kanan, satu dua orang tampak santai internetan. Ruangan rental komputer ini didesain unik dengan interior kayu dan aneka jenis ikan, dari yang hidup sampai yang berbentuk fosil. Bahkan monitor bekas dijadikan aquarium dadakan oleh pemiliknya. Sampai saya menuliskan ini saya belum mengetahui nama si pemilik rental. Sekarang kita panggil saja dengan si Uda, begitu kami sering memanggilnya. Saat itu saya (saya lupa apakah kala itu saya sendiri atau berdua dengan operator saya, Priska) datang untuk memperbaiki SPM yang salah.

Di sekeliling si Uda yang tengah sibuk mengetik, mahasiswa Stikes dengan seragam putih biru dan sebagian lagi (kalau saya tidak salah ingat *saya orangnya pelupa akut :p*) putih hijau, menunggu sambil membolak-balik halaman buku referensi mereka, entah tugas entah skripsi. Kawasan Belakang Balok Bukittinggi memang banyak ditemui kampus dan kantor pemerintahan namun minim dijumpai rental komputer. Tentu, sebuah prospek bisnis yang menjanjikan. Mereka sambil mendiktekan kepada si Uda, setengah memerintah, lalu mengingatkan, kemudian mengatur janji temu lagi di waktu nanti, tak lupa sambil menitipkan kalimat pamungkas: jan lupo, Da. Jangan lupa, Da.

Ingatan saya kembali ke beberapa tahun ke belakang ketika saya kuliah di kampus kedua saya. Bukan, saya bukan mahasiswa S2 kala itu. Tapi saya mengulang kembali kuliah S1 setelah banting stir dari Ilmu Politik Unand. Saya mengambil kelas Sabtu Minggu, kelas yang sebagian besar diisi oleh mereka yang telah bekerja. Simbiosis mutualisme ternyata tidak hanya terjadi di pelajaran biologi saja, di bangku kuliah jurusan Hukum pun tak pelak dapat ditemui. Dikarenakan mahasiswa-mahasiswa mereka dapat dikatakan berkantong tebal (setidaknya bergaji) plus tidak punya waktu luang yang cukup untuk membuat skripsi (oke, inilah the sweetest excuse mereka), para (oknum) dosen memiliki kans besar untuk menambah pundi-pundi mereka dengan jalan membuatkan skripsi bagi mahasiswa. Well, saya tidak menyalahkan oknum dosennya, karena banyak sekali yang saya temui mahasiswalah yang justru mencari pihak lain untuk menjadikan mereka sarjana tanpa melalui proses skripsi di tangan mereka sendiri. Di kasus saya, sayalah yang ditawari sang dosen, syukurlah saya punya banyak waktu luang kala itu jadi saya menyusun skripsi saya sendiri sampai sakit punggung begitu akrab seperti asesoris. Dan saya menolaknya dengan baik-baik.

Begitulah si Uda. Jika gelar sarjana benar-benar dapat disensor melalui detector jemari yang mengetik langsung di keyboard komputer, maka dapat dipastikan si Uda sudah belasan kali mendapatkan prosesi pemindahan umbul-umbul di toganya. Mungkin Rektor pun hapal, nyaris bosan saking seringnya. Saya yang awalnya mengira itu sebagai mega proyek karena pengerjaan skripsi memang telah ditarifkan. Harganya terstandar dengan baik. Tapi saya kemudian keliru.

Tadi saya datang untuk kesekian kalinya ke galerinya. Galeri yang penuh aneka format aquarium: ada yang di dinding dengan diameter tipis, ada yang dengan diameter tebal, ada yang berbentuk pulau, ada yang diperuntukkan di bawah tangga, ada yang ukuran mini, hingga berbentuk meja. Semuanya aneka ragam aquarium. Ya, rental komputer dulu telah berubah menjadi galeri. Galeri aquarium. Hebatnya, galeri si Uda telah beberapa kali dikunjungi oleh sekolah dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Dengan melihat damainya ikan-ikan dengan gemericik air, pasir terjun di dalam aquarium, dedaunan hijau yang menari lincah dalam tabung kaca itu mereka jadi aktif bertanya yang kemudian dapat merangsang saraf otak mereka.

Semua karena cinta akan hobi. Rental komputer dengan antrian tumpukan skripsi, jelas bukan hobi, ditambah pusing pula dirasa si Uda sangat tidak nyaman. Berapa pun ongkosnya. Betapa idealismenya terjaga sekali. Saya sampai salut. “Karajo tu ancak dari hobi,” ujarnya bangga.

And the problem is, are you really sure you have the similar path between your job and your hobby? *dengan tanda cetak tebal dan garis bawah*

Payakumbuh, 28 Nopember 2013

Ditulis setelah tadi siang saya mengambil aquarium yang telah diselesaikan si Uda. Kamar saya dapat dua sentuhan baru: sentuhan kedamaian karena saya suka sekali aquarium sekaligus sentuhan idealisme yang bahagia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s