Ahmad Tohari, Seksi dengan Menginspirasi

Sosok sederhana yang mendunia itu akhirnya tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya, mengenakan baju koko putih dan celana Datuak batik khas Bukittinggi, kami bersalaman dan jauh sebelum itu saya malah senyum girang sendiri melihat beliau dari kejauhan.

Minggu pagi yang cerah dan ramai di sekitaran jalan protokol Bukittinggi karena tengah berlangsung juga acara Tabligh Akbar di Lapangan Kantin, kira-kira tiga ratus meter dari SMA 2 Bukittinggi.

Ahmad Tohari dan puluhan sastrawan datang ke SMA 2 Bukittinggi dalam rangka menghadiri Maklumat Hari Sastra Indonesia, Minggu 24 Maret 2013. Saya tidak terlalu peduli dengan acara itu. Selain gak ngerti, saya memang fokus bertemu idola saya. Konon, saya jarang punya idola. :p

Tiga hari sebelumnya kami sudah mengatur janji temu melalui SMS. Adalah Mas Nunu dari ahmadtohari.com dan Mas Farhun dari Majalah Ancas yang mengabari saya ihwal kedatangan beliau ke Bukittinggi.

Wait, pasti ada yang nanya kok AT langsung mengenali saya dengan langsung senyum gitu? Gak usah dijelasin ya, biar itu jadi rahasia kami. 🙂
Ahmad Tohari yang katanya lebih suka dipanggil Akang Tohari itu bertubuh kecil dan sudah terlihat uzur, namun tetap terpancar semangat yang hebat. Saya bisa merasakannya.

Hebat dalam kesederhanaan yang dibungkus dengan keramahan, sebuah nilai yang jarang sekali dimiliki oleh mereka yang populer. Karya boleh ke mana-mana tapi humble tetap hidup dalam sosoknya. Ide boleh lokal tapi dunia memandang dengan takjub ke arahnya.

Saya memang terlambat mengenal karya-karya AT. Baru satu buku yang saya baca, Ronggeng Dukuh Paruk dengan edisi cover film Sang Penari. Satu karyanya saja telah membuat saya klepek-klepek. Karya dan pribadinya seperti kesatuan hebat yang utuh dalam seorang AT. My chemistry has gone for him. Saya seketika kagum dengan beliau, lalu mencari semua link yang bisa dihubungi untuk mengumpulkan novel-novelnya. Sampai saat ini RDP telah diterjemahkan ke dalam enam bahasa.

AT seperti bertanggungjawab atas khasanah lokal yang menjadi tanah airnya, telah mengantarnya ke puncak karir. Di Banyumas, AT mendirikan dan langsung menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Ancas, majalah berbahasa Banyumasan.

“Kalau ke Jawa, mampir,” pesan beliau di akhir pertemuan kami. Dan saya yakin saat itu bahwa kami akan bertemu lagi. Lalu cerita ini (mungkin) akan bersambung.

Terima kasih, AT, Bapak seksi karena menginspirasi.

Padang, 29 Maret 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s