Dua Ibu

Penulis  : Arswendo Atmowiloto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2009
Tebal    : 304 halaman

Saya termasuk pribadi yang terlambat mengenal karya sastra, sehingga di sinilah perannya orang bijak terdahulu berfilosofi “better late than never” bagi saya. Setidaknya menu resensi di blog saya adalah sebagai self reminder atau melawan lupa atas buku-buku yang saya baca (oke, ini ngeles :p). Let’s back to the topic!

Karya kedua Arswendo yang saya baca setelah 3 Cinta 1 Pria, yang tetap mengusung tema keluarga, cinta, dan seks.
Adalah Mamid sebagai orang pertama yang bercerita mengenai dua ibu yang ia dan saudara-saudaranya yang lain punya. Ibu, satu sebutan namun bisa diperankan oleh beribu karakter. Ibu, adalah sosok yang kita tak mampu habis mengungkapkannya: dalam karya pun cinta sehari-hari. Dua Ibu, kisah yang dikemas oleh Arswendo di mana sebuah keikhlasan dan kebahagiaan tidak butuh modal materi yang banyak, namun cinta yang tulus.

Sebagai penulis skenario yang memang tak diragukan lagi, Arswendo sangat apik menceritakan bagaimana sebuah cerita sederhana mampu membius lalu mengalirkan nilai-nilai kehidupan yang sangat dekat dengan kita. Banyak sekali ‘sentilan’ yang istilah sayanya ‘kena’, seperti: “….tak pernah terlontar, jadilah ibu yang baik. Melainkan, jadilah istri yang baik.” “Hanya yang merasa sakit yang bisa merasakan senang.” Dan “ibu hanya ingin anak-anaknya bahagia, ibu mengajarkan itu dalam sikap hidupnya.” Memang sederhana, tapi jika dipahami dan diaplikasikan, rasanya akan begitu mendalam.

Perempuan dengan sembilan anak (hanya satu anak kandung) dikisahkan sebagai perempuan tegar yang kemudian ikhlas ketika anak-anaknya ‘dijemput’ oleh orang tua kandung mereka atau dijemput oleh kebahagiaan mereka masing-masing: pernikahan atau pun obsesi masa depan. Apa alasan Ibu mau melakukan segalanya, mencurahkan sampai tetes peluh dan darah terakhirnya demi anak-anaknya adalah karena itu memang keinginan ibu, seperti yang ibu pernah bilang “kalau ingin bersamaku, harus lahir dari keinginan bersamaku, bukan karena orang lain.”

Sedikit catatan dari saya bahwa ada sebuah ke-absurd-an Arswendo di Dua Ibu-nya, yaitu alay. Ya, menurut saya ada kata yang dituliskan cukup alay walaupun tidak menggunakan angka sebagai pengganti abjad tetapi dituliskan seperti: uaaaaaaaa, kregaaaaaaaaaaaa, kreeeeeeegggghfhfgfgfgfgh, heaaaaaaaahhhhhhh (hell no, saya harus benar-benar menghitung huruf-hurufnya di buku!

Halaman 35 membuat saya kaget: bertemu lagi dengan Bong, setelah sang Bong fenomenal yang sangat dicintai itu (3 Cinta 1 Pria, 2008). Pak Arswendo, who is Bong exactly? I’m curious that much.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s