3 Cinta 1 Pria

Judul                : 3 Cinta 1 Pria

Penulis             : Arswendo Atmowiloto

Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama

Genre               : Novel, Fiksi

Tahun Terbit   : 2008

Tebal                : 296 Halaman

Ini adalah buku Arswendo pertama yang saya baca, walaupun karya pertama Arswendo yang saya kenal adalah Keluarga Cemara. Membeli buku ini cukup jauh di Jakarta, ketika ada event Gramedia Fair. Tetapi saya percaya bahwa saya membeli buku ini karena….judulnya.

Sebelum membaca sinopsis atau cuplikan yang ada di belakang buku, saya berfikir bahwa laki-laki ini pastilah memiliki ketampanan yang melebihi aktor Indonesia, kharismanya melebihi Kepala Negara, ah saya tidak tahu juga Negara mana yang paling memiliki presiden kharismatik, saya juga takut menganalogikannya untuk presiden saya yang seringnya malah dihujat. Lalu, setelah membaca sampul luar buku, saya semakin tertarik membelinya, dikisahkan bahwa Bong adalah pria yang dicintai oleh tiga generasi. Satu kata: WOW.

Saya adalah salah satu atau salah dua orang yang mematahkan argumen/istilah “cinta tak harus memiliki,” karena itu adalah hal  aneh yang harus dihilangkan dari permukaan bumi ini. Prinsip saya bagaimanapun cinta itu ya harus dimiliki. Waktu berjalan dan entah kapan saya sadari lalu menyimpulkan bahwa cinta adalah menikmati dengan baik apa yang ada hingga apa yang tiada. Arswendo dalam novel ini menceritakan kisah cinta seperti istilah tadi. Cinta adalah sesuatu yang tumbuh dalam hati, dibawa ke mana saja, di mana saja. Kisah demi kisah dituturkan datar dengan konflik yang tidak begitu rumit, tidak kacau, cenderung manis, terkadang terasa visualisasinya. Visual cinta nenek-nenek ataupun visual cinta wanita usia menengah ataupun visual cinta usia remaja tak banyak berbeda, mungkin yang membedakan adalah keriput salah satu tokohnya, atau cinta memang tak pernah mengenal kata tua ataupun keriput. Arswendo dalam kisahnya tidak menjelaskan detil bagaimana sosok dan karakter masing-masing tokohnya, dari keluarga mana mereka berasal, seperti apa kehidupan sehari-hari ekonomi atau pendidikannya, namun sesuatu yang digambarkan detil adalah justru pohon talok yang begitu dicintai Arswendo yang kemudian diketahui bahwa pohon tersebut memiliki pengalaman tersendiri bagi Sang Penulis.

Arswendo menawarkan sebuah kesempurnaan jiwa yang dimiliki tokoh utama, Bong, yang mampu menyihir tiga perempuan di tiga generasi begitu mencintainya, begitu ingin menikah dengannya. Arswendo menyiratkan dan menyuratkan betapa cinta di antara mereka tumbuh dan hidup, ada kecemburuan normal untuk saling berlomba memiliki, namun tidak dalam ranah anarkis.

Kekuatan Bong yang diusung Arswendo—sehingga dapat dijadikan faktor kenapa begitu banyak orang mengenal Bong, menjatuhcintai Bong—adalah dalam unsur seni yang begitu banyak dikuasai Sang Tokoh, yang kemudian sampai di akhir cerita yang paling sering disebut adalah sebagai pelukis.

Cinta, seyogyanya bukanlah hal rumit yang penuh pergolakan jika masing-masing hati mampu menerima keadaan dan jangan terpaku untuk melogiskan jalannya cinta. Biarkan cinta berjalan sendiri di relnya yang memang sudah tercipta dengan sendirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s