Diam Dian

Pernyataan Sopian itu mampu membius satu Taman Kanak-kanak Melati Ikhlas. Mereka dibuat melongo seolah menonton pertarungan Wiro Sableng melawan Sinto Gendeng, gurunya sendiri, dalam rangka uji materi ilmu baru. Bapak pemilik dua istri dan nihil anak itu pun dengan sangat tergesa-gesa menceritakan sampai akhir kisah seolah tak ada lagi hari esok.

Dua bulan yang lalu, Dian datang bersama Bi Ina atas paksaan Bu Imah, ibu tirinya, untuk pindah dari SDN 01 ke TK Melati Ikhlas. Ayah Dian sekalinya bertanya, acuh. Lalu keputusan pun akhirnya bergulir lancar di tangan Bu Imah. Lelah hati berkepanjangan menciptakan gejolak yang juga membatin pada Dian. Tak ada lagi putri yang lucu, enerjik, dan murah senyum. Seolah mati ditelan tsunami.

Beberapa butir siang dilalui Dian dengan ketegangan. Bagaimana tidak, saya, kita, bahkan seluruh makhluk Tuhan sepakat untuk tahu tanpa perlu diberitahu alasannya. Dian pun akhirnya bersepakat dengan alamnya sendiri. Keheningan.

Malam itu, Sopian tengah membeli sebungkus Evolution, setidaknya sebagai teman pengganti istri-istrinya yang kebetulan sama-sama dinas malam. Satunya perawat di Rumah Sakit Umum Daerah. Lainnya dukun kampung yang tengah bergulat dengan para pelanggan, salah satunya adalah calon bupati, sesekali ia juga dipanggil membantu mengajar di Melati Ikhlas. Lelaki empat puluh dua tahun yang tinggal tepat di belakang sekolah Dian itu, entah kebetulan entah takdir yang beralasan, iseng memasuki halaman sekolah dan menemukan Dian.
“Kenapa Dian belum pulang?” tanya Sopian panik.
Hening.
“Belum dijemput Bi Ina, ya?”
Tetap hening.
“Bagaimana kalau nunggunya di rumah bapak saja?” Sopian tetap berusaha.
Akhirnya Dian…. bergeming.
Bingung, sehingga dua pihak memutuskan diam. Tapi tidak di hati mereka. Sopian menemaninya. Semalam suntuk. Dalam isak tangisnya yang syahdu, tangan Dian menuliskan sesuatu.

Sebelum kokokan pertama ayam kampungnya, sebelum kepulangan para pedinas malam, Sopian terbangun dalam tidurnya yang melelahkan, dia menemukan sebuah buku kusam berwarna coklat pudar tertulis: Dian sudah selamat, Pak, bersegeralah untuk diri bapak. Tegas langkah kakinya mengejar jendela dan didapatinya seorang bertanduk melangkah pasti menuju rumahnya. Ayam Sopian tak jadi berkokok. Bedug Subuh pun bergeming.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s