Larasita

Larasita tampil begitu anggun dan masih santai menunggu Rayan di depan jendelanya sambil menyelesaikan gambar kupu-kupunya . Tak seperti kebiasaan banyak orang yang memilih waktu makan siang untuk datang ke resepsi pernikahan, mereka-tepatnya kebiasaan Larasita-datang pada malam hari. Di awal hubungan mereka, Rayan keberatan. Butuh dua tahun tiga bulan Larasita menjelaskan, dan berhasil. Untungnya. “Waktu memang senjata ampuh untukku, Mas, ujarnya dari balik stir kemudi, “dan aku punya stok senjata yang banyak.” Malam itu sudah diwanti-wanti harus dia yang menyetir, bahkan sudah diberitahu sejak dua bulan sebelumnya.

“Aku kok merasa kenal baju ini cukup lama ya?”
Larasita bergeming.
“Sita, helo, are you okay?
No, it’s just your feeling. Sure, Mas. I am fine.”

Suasana pesta sudah tidak riuh lagi, beberapa alat musik pun sudah tak di peraduannya, dan para tamu sepakat tidak lagi datang. “Kamu yakin?” lagi, Rayan memecah keheningan sebelum turun di rumah Abi. “Pasti, Mas. I make sure something what I am going to do.”

Kesabaran dan Rayan, seolah sebuah celengan dan uang recehan, tak terpisahkan. Pernah suatu kali Larasita berniat mengajaknya berkemah tujuh hari tujuh malam tanpa membawa bekal apa pun. Asma Rayan kambuh, tapi sabarnya terlalu utuh. “Kita mati karena memang saatnya mati, bukan karena asma.” ledeknya di tengah kepanikan Larasita yang klimaks. Pun tepat satu bulan lalu Rayan mengamini permintaan konyolnya untuk tidak saling menemui sampai hari ini terjadi.

Semesta sepertinya merestui Larasita dan Rayan hanya sebagai sahabat. Dua belas tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membuktikan bahwa mereka memang pastas menjadi teman baik. Tidak lebih.

“Selamat menempuh hidup baru, Bi,” ujar Larasita kepada Abi lalu disusul ber-cipika-cipiki dengan istrinya. Tak sempat Abi maupun istrinya membalas, Larasita kembali bergumam. “Aku mengandung anakmu, sudah dua minggu, cinta kita memang begitu kuat untuk dipisahkan walau tanpa amin orang tuamu.” Di kedalaman sabar Rayan layaknya samudera, ia berujar, “kalian harus menikah.” “Tidak , Mas, aku bukan Teh Ninih yang dengan dalih agama rela dipoligami dan akhirnya kamu tahu sendiri kan akhir kisah mereka, bullshit,” umpatnya.

Lamat-lamat Rayan pun mengingat gaun itu adalah gaun yang sama dengan gaun yang dikenakan Larasita beberapa tahun lalu, pertunangannya dengan Abi. Tapi berakhir tragis dalam sebuah permainan bisnis. Sita, anak rekan bisnis ayah Abi, jatuh cinta kepada Abi dan memaksa ayahnya untuk menjodohkan mereka. Dan ayah Abi pun menyambut hangat melego anaknya demi pelunasan hutang-hutang perusahaannya. “Bahkan cinta di zaman ini seperti judi saja, Mas,” celetuk Larasita suatu ketika yang baru saja diimengerti Rayan.

Dua bulan berlalu, detik jarum jam seolah lonceng keras yang sangat mengganggu telinga Larasita dan harus menyegerakan senyum abadinya. Tak ada penyesalan karena cinta mati itu ya memang harus dibawa sampai mati. “Terima kasih, Mas Rayan,” suratnya tergeletak segar di ujung cangkir kopi berarsenik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s