Kartu Berwarna Keemasan

Di ujung gang, hujan deras ditambah gemuruh, di tengah batas kota, aku ditinggalkan begitu saja oleh seorang lelaki. Lelaki yang namanya, terlanjur sudah disematkan dalam sebuah kartu berwarna keemasan. Parahnya lagi, namanya disandingkan dengan namaku untuk sebuah acara, acara yang akhirnya semua orang menyepakati dengan istilah pernikahan. Mungkin aku adalah gadis yang begitu bodoh untuk tidak mampu memutuskan tentang pilihan yang baik bahkan bagi diriku sendiri.

“Keparat!” bentaknya sebelum berlalu meninggalkanku.
Aku memang perempuan keparat, sialnya malah bertemu pula dengan laki-laki yang hanya mementingkan karirnya dibanding urusan hati. Oh bukan aku saja yang keparat ternyata, ayahku juga berperan dalam hal ini, semenjak lima tahun ditinggal ibu dan dua tahun pernikahannya dengan Marni, dia berubah menjadi sesosok singa jantan. Oh bukankah kami satu gen, jadi bisa dikatakan aku juga singa. Seperti sebuah persekongkolan yang tajam, mereka bertemu dan akhirnya aku terlibat begitu saja tanpa kutahu bagaimana awalnya.

“Kenapa pulang juga kau akhirnya?”
Aku tidak menjawab ucapannya sambil berlalu ke kamarku. Perempuan yang usianya lebih tua sepuluh tahun dibanding ayah, entah di mana pertemuan mereka namun sekilas yang kuingat dia pernah menyelamatkan ayah dari maut. Tapi waktu membuat luruh mereka sampai akhirnya seisi rumah ini membenciku.

Entah apa motifnya, motif mereka sampai harus menikahkanku dengan Cakil-pria kampung yang dulunya bodoh- yang hanya tinggal hitungan hari kami akan bersanding.

“Semua sudah siap, aku terpaksa pontang-panting mengurus semuanya sendiri.”
“Siapa yang menyuruhmu sibuk?”
“Perempuan brengsek!”
“Kau lebih bodoh mau menikahi perempuan brengsek!”

Pagi ini tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Wajahku lebih dingin, bukan karena ini hari pernikahanku, bukan karena wajah calon suamiku sedikit membaik tadi malam sehabis membelikan mas kawin, apalagi bukan karena aku grogi akan melepas masa lajangku.
Di selimut hangat ini tampaknya ragaku tak kuat untuk bangkit, karena memang tak ada lagi perintah langsung dari otakku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s