Tiga Cangkir

Rumah di jalan Ciptahadi nomor tujuh belas ini tampak asri, walau tidak mewah namun begitu memesona. Warna cat pagar satu tingkat di bawah warna keramik teras, pot bunga ditata rapi dengan bunga-bunga segar dari halaman depan hingga halaman belakang, tanpa anjing penjaga, dan tentu saja dengan anggota rumah yang sering tampil kompak dan bahagia.

Sore ini-seperti biasa selalu ditemani teh- hujan gerimis, Pak Banu dan istrinya sedang membicarakan masalah kantor yang tengah dialami Pak Banu. “Ma, aku bingung,” ucapan Pak Banu memulai dengan ragu.” “Bingung kenapa, Pa?” “Bosku yang baru ini orangnya nggak stabil secara emosi yang sering berakibat pada kami, anak buahnya.” “Konkritnya seperti apa, Pa?” tanya Bu Banu penasaran. “Gini, Ma, di hari yang sama Pak Adi itu bisa terima telepon beberapa kali entah dari siapa dengan keadaan emosi yang fluktuatif, di telepon pertama dia bisa marah-marah sampai ke langit ketujuh, di telepon kedua bisa tersenyum manis, lalu di telepon berikutnya dia menjejal si penelepon dengan nyanyian romantis. Parahnya itu semua dilakukan dengan pintu terbuka, karena dia memang tidak pernah menutup pintu ruangannya. Kami semua jadi tahu dan terganggu.” Pak Banu menjelaskan panjang lebar kepada istrinya.

Dua minggu berlalu. Menyusul dua bulan berikutnya. Pak Banu yang dulu terbiasa nyaman di rumah,-bahkan Pak Banu mendapat julukan family man dari teman kantornya-sekarang tidak lagi punya waktu lebih untuk sekedar minum teh bersama, apalagi bercerita. Mulanya Bu Banu tenang saja, sampai pada suatu saat seseorang mendatangi Bu Banu di rumah.

“Saya, saya Lia,” gadis belia itu memulai ceritanya dengan tercekat, “sudah hamil tiga bulan, Bu.”
“Terus?” tanya Bu Banu sopan dan tak kalah sabar.
“Saya, saya,” tangisnya pecah, “dihamili oleh suami Ibu.”
Sore yang asing, benar-benar asing. Bagai disambar petir, Bu Banu menangis di dalam hatinya. Lebih menyayat. Lebih perih. Tadi siang Pak Banu telah mengirimkan pesan singkat kepada istrinya bahwa ada keperluan mendadak ke luar kota dan mengharuskan Pak Banu pulang tengah malam.

Sebuah keputusan penting yang harus diambil Bu Banu. Dia harus membantu gadis belia itu, sekaligus rumah tangganya. Pikiran tentang egonya dan anak-anaknya tengah berperang di dalam dadanya, di sisi lain dia juga tidak tega dan sempat berfikir bagaimana jika itu terjadi pada diri Bu Banu sendiri atau anaknya.

“Aku tidak setuju, Ma,” kau gila. protes Pak Banu.
“Semua terserah kamu, Pa,” kamu harus menerima semua konsekuensinya. Mabuk atau pun tidak mabuk. Pelacur atau pun tidak pelacur. Menolong teman bosmu atau pun bukan teman bosmu!” ujar Bu Banu mantap.

Lagi-lagi di sebuah sore. Seperti sore beberapa waktu yang cukup lama, tapi tidak usang di ingatan Bu Banu. Kali ini sedikit berbeda. Ada tiga cangkir teh di meja yang sama. Hujan pada sore ini terasa dingin sekali, bagi Pak Banu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s