Pulang

 

Karena rumah adalah tempat segala paling untuk pulang.

“Sinta, jangan melulu murung ya, sabarin apa yang udah gak jadi milik kamu,” Ibu membubarkan lamunanku.

“Belum bisa, Bu.”

“Iya, Ibu ngerti tapi ibu yakin kamu pasti bisa. Ibu butuh keceriaanmu yang dulu.”

Cintaku kandas di tepat di lima tahun kami tinggal di rumah ini. Mistis. Ya, rumah ini ada penunggunya, sudah banyak tetangga yang mendengar dan melihat keanehan-keanehan. Anehnya, kami tidak merasakan kejanggalan apapun. Parahnya, beberapa temanku yang pernah berkunjung ke rumah ini menyimpulkan sebuah perkiraan bodoh. Aku putus dengan Randi karena mistis di rumahku. Kalut, aku pun mendengar ucapan teman-temanku.

 

“Ibu, Ayah,” gugup kumulai percakapan di meja makan sesudah Maghrib, “sepertinya Sinta mau resign dan cari kerja di Bandung, ada tawaran pekerjaan di sana.”

“Kok dadakan gitu, Sinta?” ayah setengah tak percaya.

“ng ng ng, gini yah, sebenarnya belum tawaran sih, tapi ada posisi kosong di perusahaan tempat Disti kerja, jadi Disti nyaranin karena itu memang cocok dengan latar belakang pendidikan Sinta.” kucoba jelaskan panjang lebar.

“Ibu cuma bisa berdoa, semoga kamu murni nyari kerja di sana bukan karena masalahmu.” ujar Ibu akhirnya menangis.

Kupercepat kepergianku. Ayah dan Ibu mengantar ke bandara. Aku pun tahu seperti apa jadinya rumah yang diisi oleh dua orang saja. Tapi harus bagaimana, besarnya cintaku ke Randi dan cerita-cerita temanku yang mengaitkan-ngaitkan rumah mistisku dengan putusnya aku dan Randi mengalahkan segalanya, dan aku harus pergi.

 

Dua minggu meninggalkan rumah. Aku diterima di posisi yang dipromosikan bos Disti. Keadaan perlahan membaik walaupun aku sangat merindukan ibu dan ayah. Hanya komunikasi telepon dan sesekali aku 3G-an dengan mereka. Tak sanggup terlalu sering 3G-an karena ibu pasti yang akhirnya menutup telepon duluan karena  tak sanggup menahan air matanya  yang  mungkin belum merelakan kepergianku. Waktu begitu cepat berlalu, aku pun larut dalam pekerjaan sampai pada suatu sore aku dipanggil Pak Braja—bosku. Aku dengan prestasi kerja yang sangat baik segera naik posisi yang lebih tinggi, menjadi asisten manajer. Senang sekaligus bangga, tapi kemudian ketika Pak Braja menyelesaikan kalimat terakhirnya, “tapi kamu bukan bertugas di sini lagi, tapi di Sorong.”

 

Keputusanku sudah tepat. Aku tidak akan melihat mundur lagi. Ternyata segala sesuatu itu butuh waktu dan proses, kuingat kata-kata Ibu pada suatu malam. Kubunuh segala godaan yang begitu banyak menghadang. Tepat jam sepuluh tiga puluh aku pun boarding meninggalkan Bandung. Dengan langkah semangat dan penuh harapan aku memasuki kabin pesawat. Dan seusai mendarat, aku melihat senyum dua manusia yang paling kucintai di dunia ini yang tak ingin lagi kutinggalkan. Aku memilih untuk pulang. Karena materi hanya mampu mengisi dompet, bukan hati. Karena damai itu adalah mereka, keluargaku.

 

 

 

2 thoughts on “Pulang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s