Jamuan

“Silahkan dibuka oleh-olehnya, Sayang,” bisik suamiku tepat di daun telinga kiriku.
Tak sabar, sambil merangkul pinggangnya, kami menuju taman belakang rumah. Sebuah tempat indah-favoritku, di mana kami biasa menghabiskan waktu senggang-selepas suamiku pulang kantor atau di waktu libur. Hadiah ini bukan karena aku berulang tahun tapi suamikulah yang berulang tahun. Kami memang punya kebiasaan yang sedikit aneh dari orang kebanyakan. Siapa yang berulang tahunlah yang memberi hadiah. Ini hanyalah salah satu dari kebiasaan-kebiasaan aneh kami.

Dengan mulut menganga, aku benar-benar terperanjat oleh hadiah suamiku tahun ini. Sesuatu yang sangat kuidamkan. Padahal aku tidak pernah meminta kepadanya, hanya dua kali-seingatku-aku pernah berujar ingin memilikinya karena melihat acara di televisi. Sebuah outdoor barbecue kitchen set. Ya, suamiku sangat bahagia memiliki istri yang piawai memasak. “Aku hanya ingin membuat kebahagiaanmu sempurna, dan kali ini kamu akan sempurna dalam memasak,” godanya. “Terima kasih, Sayang,” balasku sambil mengecup pipi kanannya.

Seperti sebuah kejutan yang datang dari langit. Tahun ini aku mendapati dua hadiah. Seusai makan malam, suamiku memberi tahu kalau dia mendapat promosi dari perusahaannya. Untuk itu, aku memutuskan untuk sedikit mengadakan syukuran makan-makan dengan mengundang teman kantor suamiku, esok lusa.

Sibuk bercengkrama dengan enam orang ibu-ibu muda-yang juga memiliki hobi masak, menurutku-sambil memamerkan pemanggang baru kepunyaanku, aku tidak mengetahui keberadaan suamiku. Selama sepuluh menit mencarinya, aku menemukan suamiku. Tapi.

Apakah ini kabar baik atau sebaliknya, apakah harus kusyukuri atau tidak, suamiku minggu depan harus berangkat ke Tokyo. Posisinya sebagai manager di cabang perusahaannya yang baru dibuka. Dalam keadaan hati yang kacau, aku akhirnya mengantarnya ke bandara. Tak biasa, hanya sebuah kecupan di dahiku yang terasa sangat dingin.

“Diberitakan secara langsung dari lokasi kejadian tepatnya di Bandara Internasional Minangkabau, sebuah pesawat komersil mengalami ledakan di udara dikarenakan kerusakan mesin yang tak terdeteksi sebelumnya oleh teknisi …,” lamat-lamat kudengar dari stasiun radio berita itu. Kuhela nafas panjang sambil mengingat-ingat nomor penerbangan pesawat yang ditumpanginya, mati. Suamiku mati. Tapi hatiku lebih dulu mati sejak dua minggu yang lalu, di jamuan itu. Di mana aku menemukannya dalam keadaan mabuk berdua dengan perempuan, di ranjang kami. Selingkuhannya selama dua tahun ini. Perempuan itu mengakuinya, di depan pusara yang masih basah, bersama calon janinnya yang tanpa ayah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s