Poni

“Jangan datang telat lagi ya, Purwo Syahputra Nugraha,” ujarku sambil tersenyum mengingatkan pertemuan kami besok untuk fitting .

“Ya salam lengkapnya, gak perlu kayak gitu juga kali Rani Putriningtyas Binti Muhammad Kahar,” balas calon suamiku sambil mengacak-acak poni baruku.

“Ih gak mau! Jangan diacak-acak gitu!”

“Ya udah, ini untuk yang terakhir kalinya deh. Maaf.” ucap Purwo berlalu mengikuti langkah ayahnya.

Sore ini ibarat gelas kosong yang terisi setengah air—susu tepatnya, begitu manis, aku resmi menjadi tunangan Purwo. Orang tua Purwo baru saja datang dan melamarku. Tepat di empat tahun kami pacaran, akhirnya kami memutuskan menikah. Tiga bulan lagi aku akan bersanding menjadi ratu dan raja sehari bersama Purwo. Rencana perhelatan akan dilangsungkan di aula Departemen Kesehatan Kota Payakumbuh, kantor ayah.

“Sayang, kok kamu makin ke sininya nikahan kita makin item sih?” candaku.

“Enak aja, kamu tuh yang makin gendut.”

“Masa sih?”

“Enggak enggak, becanda, jelek.” jawab Purwo sambil menggandeng tanganku.

Fitting baju sudah selesai dan kami pun segera menuju tempat makan malam. Malam itu, wajah Purwo tidak seperti biasanya, ketampanannya bertambah lima ratus persen. Bukan, aku bukan kalangan gadis lebay yang mengucapkan sesuatu berlebihan. Ini fakta.

“Eh jelek, nanti kamu mau punya anak berapa?” tiba-tiba Purwo mengalihkan pandangannya ke kiri sambil menyetir dengan tujuan Lesehan Mari Mampir—tempat kami memutuskan makan malam.

“Empat. Tapi harus cowok semua.” ujarku pasti.

“lah kenapa?”

“Karena kamu punya hobi yang gak aku suka seumur hidupku.”

“Mengacak-acak poni.” Seolah janjian, kami mengucapkan kata-kata yang sama.

“Tapi sampai saat ini aku belum tahu kenapa, Rani. Iya, iya kamu gak akan mungkin ngasih tau.”

Empat tahun satu hari hubungan kami, Purwo tahu betul keadaan di mana dia tidak boleh melanjutkan pertanyaan yang memang tidak pernah kujawab.

“Bu, sebulan lagi kami akan menikah. Do’ain ya.”

“Tentu, Purwo. Kamu Insyaallah mampu menjadi mantu ibu yang bertanggung jawab,  menjaga, dan membimbing Rani.”

“Tapi, Bu.”

“Tapi?”

“Tapi ada satu hal yang dari dulu Purwo ingin tahu tapi gak boleh sama Rani, mau nanya ibu kok kesannya pertanyaannya gak penting gitu.”

“Iya, tapi apa? Gak ada satu pun di dunia ini yang gak perlu, Purwo.”

“Kenapa Rani itu gak suka rambutnya saya pegang.”

“Kamu sering melakukannya?” nada pertanyaan Ibu meninggi beberapa oktaf.

“Beberapa kali saja, Bu dan itu pun langsung dimarahi Rani.”

Hening.

“Assalamu’alaikum Ibuuu,”   seketika aku pulang dari kursus vokal dan kaget mendapati Purwo ada di rumah.

Pagi ini tanggal tujuh Juli tahun dua ribu sembilan, aku menelepon calon suamiku—manusia yang rasa penasarannya tak bisa dibendung.

“Sayang, kamu benar-benar ingin tahu kenapa?”

“Kalau kamu izinin, iya.”

“Nanti malam aku kasih tahu ya.”

“Ya, sayang.” Ia menutup gagang teleponnya.

Kita ternyata hanya bisa berencana, Purwo. Aku telah memutuskan. Aku pada malam ini akhirnya memberitahumu kenapa aku melarang kamu menyentuh rambutku. Itu semua karena aku, karena aku terlahir bukan sebagai manusia ciptaan Tuhan yang sempurna. Aku tak bisa menjelaskan lebih. Itu Saja. Selamat tinggal. -Sender: Rani: 08126657210

Keesokan paginya aku mengintip Purwo yang datang ke rumah dengan terburu-buru, bertanya pada ibu. Seperti pesanku pada ibu sebelum kepergianku, atau mungkin tanpa pesanku pun ibu pasti tak akan memberitahu Purwo.

Aku tersenyum dari balik kubikel kekalku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s