Telur Dadar Asap

CUACA di luar sedikit mendung mungkin karena sudah memasuki musim hujan yang ditandai dengan bulan-bulan kalender yang berakhiran ber. Sebaliknya, suasana rumah begitu gemuruh. Angin pun turut meramaikan riuhnya.

“Ayah, balon warna hijaunya mana?”

“Habis, Bu.”

“Lho, kok ndak dicari lagi di warung lain tho, Yah? Nanti pasti Lita nangis.” desak Bu Tio.

“Ndak usah lah, Bu. Biar ayah yang tanggung jawab kalau Lita tanya.” ujar Pak Tio tak kalah semangat.

Meja makannya warna-warni. Hidangan sudah lengkap dan semua telah tertata rapi. Ikan asin kesukaan ibu, tempe goreng tepung dan cumi goreng tepung kesukaan ayah, dan telur dadar kesukaan Lita. Ini adalah hari ulang tahun Lita yang keenam.

“Selamat ulang tahun, Sayang.” Pak Tio dan Bu Tio mencium Lita di kiri dan kanan pipinya.

* * *

PAK Tio—lelaki yang kesabarannya seperti nabi—cukup dikenal di kampung yang bernama Agam ini. Anak dari seorang pilot yang lebih memilih hidup sederhana di kampung istrinya daripada mengelola perusahaan milik ayahnya di ibukota. Impiannya sudah cukup dengan hanya memiliki istri sholehah, anak yang manis, dan sebuah usaha peternakan ayam. Sepuluh tahun terakhir, usahanya begitu menanjak pesat dengan cinta yang tak kalah melesat.

Bu Tio adalah perempuan sederhana, tapi kesederhanaannya tidak berlaku dalam pekerjaan rumah tangga. Dia sangat piawai mendesain interior rumah, menata kebun belakang, membuat kandang ayam, hingga memperbaiki atap rumah. Terlahir sebagai anak perempuan satu-satunya dalam keluarga dan tidak dimanja oleh orang tuanya, menjadikan Bu Tio sangat mandiri. Padahal bukan itu yang membuat Pak Tio semakin hari semakin mencintai istrinya.

Cobaan itu memang tak pernah sampai pada orang yang salah. Hanya manusia yang terkadang menilainya salah. Tepat di puncak kejayaan peternakannya, Pak Tio mendapat surat kaleng bahwa selama ini Ia memakai magis agar usahanya besar. Dan beberapa hari kemudian ia mengamini kepada istrinya. Tak berselang lama, peternakannya hancur melebihi babak belur preman yang tertangkap tangan. Di bulan yang sama, ketika Pak Tio dan Bu Tio harus berangkat mendadak ke Jakarta karena orang tua Pak Tio koma, Lita diracun oleh seseorang yang mengiming-iminginya telur dadar asap. Lita memang tak pernah berpikir dua kali jika ditawari telur dadar.

CUACA di luar sedikit mendung mungkin karena sudah memasuki musim hujan yang ditandai dengan bulan-bulan kalender yang berakhiran ber. Sebaliknya, suasana rumah begitu gemuruh. Angin pun turut meramaikan riuhnya.

“Ayah, balon warna hijaunya mana?”

“Habis, Bu.”

“Lho, kok ndak dicari lagi di warung lain tho, Yah? Nanti pasti Lita nangis.” desak Bu Tio.

“Baiklah, Bu.” ujar Pak Tio sambil menyeka air matanya.

Meja makannya warna-warni. Hidangan sudah lengkap dan semua telah tertata rapi. Ikan asin kesukaan ibu, tempe goreng tepung dan cumi goreng tepung kesukaan ayah, tentu saja tanpa telur dadar.

Ini adalah perayaan ulang tahun Lita yang keenam belas.

“Selamat ulang tahun, Sayang.” Pak Tio dan Bu Tio mencium Lita, di bingkai fotonya.

2 thoughts on “Telur Dadar Asap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s