Sembilan September

 

Saya terima nikahnya Mega Yulia anak kandung Bapak dengan mas kawinnya seperangkat alat sholat dan satu buah cincin emas dibayar tunai.

KALIMAT itu akhirnya disambut dengan kata sah oleh saksi-saksi dan semua yang menyaksikan, tepat di pukul sembilan tanggal sembilan bulan sembilan tahun ini. Aku terlahir menjadi manusia yang baru di kehidupan yang baru, konon juga akan menghadapi drama-drama baru. Tapi yang pasti, mencintainya bukanlah sebuah drama.

“Hidup itu seperti pergumulan, anakku, kau harus selalu mengasah pedangmu.” satu pesan ibu yang tak pernah kulupakan. Hari ini, hari paling sakral, dan aku telah bersimpuh di kaki perempuan yang dari rahimnya aku dikenalkan pada dunia. Meminta ridhonya.

 

TIGA bulan yang lalu, entah apa yang mendorong keinginannya, Rita—seorang  perempuan yang pernah dikenalkan oleh sahabatku—mendatangiku ke tempat kerjaku. Dia bercerita tanpa menghiraukan kalau ini adalah hari sibukku, bengkelku penuh sementara salah satu pekerjaku minta izin pulang kampung. Perempuan yang bingung akan seorang laki-laki, sahabatku.

“Andai saja aku bertemu lebih dulu denganmu,” ucapnya nanar.

“Kau ada-ada saja, aku sudah mau menikah.”

“Tak ada pilihan lain?”

“Banyak omongan perempuan yang tak perlu dijawab, kan?” lanjutku sambil berlalu.

Bagaimana tidak, dia terombang-ambing di antara cinta dan karma. Karma karena ia tak ingin jadi perusak rumah tangga sahabatku dan menyakiti perempuan lain. Karena dia juga seorang perempuan.

Sudah berulang kali aku menasehati salah satu laki-laki brengsek yang juga sahabatku itu untuk tidak bermain api. Tapi apa mau dikata.

“Kau tak tahu, Yan, kalau saja aku mampu berkata tidak pada perempuan, mungkin bukan dialah istriku.” alasannya pada suatu sore.

 

DUA bulan yang lalu.

“Bu, sepertinya tidak usah saja aku menikah dengannya.”

“Ada apa?”

“Dia adalah perempuan paling keras kepala yang pernah kukenal.” alasanku.

“Mungkin saja dia sedang PMS.” jawab ibu sekenanya.

“Bukan, Bu. Ini serius. Ibu tak lihat bagaimana dia begitu kaku bahkan pada kedatangannya yang kelima belas ke rumah ini, dia tak juga mau makan nasi buatan ibu.”

“Ibu saja tidak mempersalahkannya, bagaimana kamu sepicik itu? Itu tugasmu, ajari dia.”

“Tapi, Bu.”

“Sudahlah, banyak berdo’a saja. Ibu pun tak mau mendahului Tuhan jika dia memang bukan jodohmu.”

Sulit untuk menjelaskan kepada ibu, betapa aku agak berat menjalani hari-hari dengan perempuan yang entah telah berapa persen kucintai itu. Sifatnya egois, yang tak mau menghubungi jika tak kuhubungi lebih dulu, atau karakternya yang keras yang kadang belum bisa kupahami, atau memang aku yang nervous menghadapi pernikahan. Entahlah.

 

DUA puluh dua tahun yang lalu.

Kelasnya begitu bising seusai jam istirahat, beberapa anak masih belum selesai menyantap snack pagi, hari ini jadwalnya bubur sumsum.

“Anak-anak Ibu sekalian, perkenalkan ada teman baru kalian pindahan dari TK Melati Ikhlas, namanya Yan Anwar. Iyan, silahkan duduk di bangku yang masih kosong itu ya.” ucap Bu Guru sambil tersenyum.

 

“Saya Iyan.”

“Ega, Mega Yulia.”

 

*a true story (ditambah dramatisasi di sana sini) dari my beloved Bang Iyan dan Kak Ega—teman satu taman kanak-kanak yang dipertemukan kembali dan kemudian menjadi teman satu ranjang. Hey, sekali lagi, happy wedding. 😉

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s