Rotus

Di sebuah sudut malam salah satu instansi vertikal itu, aku bertemu lagi dengan burung yang tak pernah ingin kutahu namanya. Aku memanggilnya Rotus-seperti nama baruku.

Konon setiap burung itu bercericit adalah pertanda akan ada kematian. Kematian yang datang dari rumah sekitaran burung itu hinggap, atau keluarga besar dari keluarga itu, atau pernah suatu ketika tamu yang hanya singgah sekali ke rumah itu. Kedatangannya selalu antara jam sembilan sampai jam dua belas malam.

“Kenapa harus ada pertanda jika semua kita pasti mati, Bu?”

“Sama seperti kenapa kamu harus belajar sebelum ulangan,” bohongnya.

Lalu lalang masih saja terlihat walaupun jam dinding sudah lelah berputar di angka menjelang dua belas. Mungkin karena pemilihan umum di kota ini akan dilangsungkan dalam waktu kurang dari tiga puluh hari lagi. Herannya ibu masih saja kukuh ingin bertemu ayah padahal ayah sudah menyampaikan kabar untuk pulang terlambat.

“Ada apa sih, Bu, bukannya ada Rotus?”

“Ikut dan lihat saja!” hardiknya.

“Aku menunggu di sini saja, di dalam gerah.”

“Tidak,” hardiknya lagi.

Dua tahun yang lalu, ketika aku dan segenap kehidupanku hanya disibukkan dengan Qiran, aku seolah lupa pesan ibu untuk segera menghindari burung Rotus jika ia tepat berada di dekatku. Kala itu Rotus sedang bercanda dengan lampu taman rumah Qiran sementara kami sedang bercinta di bawah langit sekitaran taman. Dan dalam hitungan detik sebuah helikopter naas yang membawa bantuan logistik korban gempa jatuh dan meledak seketika, lalu serpihan-serpihannya membawa api, menyambar, dan menghanguskan kami. Qiran tak mampu bertahan.

Pasti pertanyaan selanjutnya kenapa ibu mengganti namaku menjadi Rotus. Agar aku kuat dan tak gentar oleh kematian karena sesungguhnya kematian itu lebih dekat dari urat nadi, alasannya. Aku pun tahu kalau ibu lagi-lagi berbohong tapi aku diam saja.

“Rotus, ayo masuk.”

Bu, jangan masuk! Bapak sedang rapat dengan orang Propinsi,” sekretaris ayah menahan langkah ibu untuk masuk ke ruangan ayah.

“Aku istrinya dan kau hanya sekretarisnya, derajat kita terlalu berbeda di depan Tuhan. Kau tak berhak melarangku.”

“Tapi, Bu.”

Tak pelak di detik yang sama kami memasuki ruangan ayah, Rotus telah mematuk-matuk asyik bangkai dua orang manusia. Aku mengenali satunya tapi ibu sepertinya mengenali keduanya. Tapi itu hanya tebakanku saja kalau ibu tahu siapa orang yang di sebelah ayah.

“Terima kasih, Rotus.”
Ibu mengucapkan terima kasih, entah untukku entah untuk burung itu. Tapi yang pasti senyumnya kali ini adalah senyum termanis yang pernah kulihat di dua puluh sembilan tahun terakhir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s