Hadiah Peri

Riang lonceng jam di ruang keluarga sama riuhnya dengan detak jantung si gadis berpita merah muda itu. Dengan semangat ia membuka tas dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk hari ini.
“Ibu, buruan ini sudah jam tujuh, nanti kita terlambat.”
“Iya, tapi kita harus sarapan dulu takutnya nanti kamu kelelahan.” Lalu ibu pun menyodorkan piring yang telah berisi telur dadar dan sayur bayam ke anak bungsunya.
“Terima kasih cantiiik.” teriaknya sebelum melahap habis semua isi piringnya.

Suasana begitu riuh, ditumpahi seribu anak walaupun siang belum sempurna menampakkan senyum matahari. Lomba diikuti oleh dua ratus sekolah dasar dari kota pemekaran yang tumpuh begitu cepat jauh mengalahi tanaman jagung di ladang belakang rumah.

“Anak-anak yang manis, lomba mewarnai tingkat sekolah dasar akan segera berakhir, semua peserta mohon diperiksa kembali nama dan asal sekolahnya ya.” Panitia lomba memberikan pengumuman di belakang mikropon sehingga suaranya membahana ke seluruh celah lokasi.

Sebulan yang lalu, panitia alot dalam sebuah rapat apakah akan membedakan peserta yang berasal dari sekolah dasar umum atau sekolah dasar luar biasa. Perang argumen yang melibatkan Bu Reza, salah satu perwakilan wali murid, ketua panitia dari Dinas Pendidikan Propinsi, dan beberapa pihak terkait lainnya bersitegang mengungkapkan pendapat mereka masing-masing. Dan pada akhirnya -atas nama hak asasi manusia yang bahkan istilah itu belum saatnya dimengerti oleh para peserta- telah diputuskan bahwa tak ada pembedaan kategori peserta.

Peri, putri kedua Bu Reza -seorang guru yang mengabdikan dua puluh tahun hidupnya di sekolah dasar luar biasa yang tentu tak pernah berharap akhirnya memiliki anak kandung yang sama dengan anak didiknya- sangat terharu mendapati Peri cantiknya mendapat poin tertinggi dalam perlombaan tersebut.

“Horeee, selamat ya anak ayah memang luar biasa. Tidak hanya cantik secantik namanya tapi juga pinter.” sambut ayah sambil memeluk putrinya dan memberikan kotak pensil dengan warna kesukaan Peri.

“Kesempurnaan itu terkadang datang dari ketidaksempurnaan, ya yah?” bisik ibu kepada ayah sambil memeluk Dea, si sulung yang tuna rungu.

One thought on “Hadiah Peri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s