Dua Cinta

“Aku hanya ingin menghabiskan sisa umurku, bersama orang yang tepat, Sayang.”
Kalimat ini masih terngiang-ngiang saja, setidaknya sampai malam ini. Aku mencintainya dengan segenap hati, tapi apa daya. Ah sudahlah, aku memang tidak ditakdirkan untuknya, Tuhan punya alasan sendiri kenapa Ia harus lebih cepat menemui kekasihku. Mungkin aku adalah laki-laki paling pengecut yang tidak bisa memperjuangkan cintaku, yang akhirnya merenggut nyawa gadisku.

Ini adalah malam ke dua puluh satu, tapi aku tetap butuh sesuatu untuk setidaknya mengalihkan ingatanku. Suasana malam begitu penuh warna, mengalahi warna-warni pelangi yang terakhir kali kutemui bersamanya, ya dia si pemburu pelangi. Sudah beberapa gelas stoli kuhabiskan atas nama mencari kebahagiaan. Bartenderpun tak hentinya terus mengisi gelasku, walaupun sudah kuberi kode untuk tidak menambahnya lagi.

“Mas, putus cinta itu biasa. Anggap aja proses pendewasaan.” akhirnya bartender itu mengeluarkan kata-katanya, setelah sekian waktu hanya senyum yang ia tawarkan.
“Aku tidak mabuk, kenapa kamu bisa menyimpulkan aku putus cinta?”
“Aku perempuan, Mas. Itu saja.”
“Ya, kamu memang benar. Aku tidak bisa memilikinya karena Tuhan lebih menyayangi kekasihku dibanding aku sendiri.”
Tak ada kata selamat tinggal sebelum bartender itu melangkah pergi dari kursinya, dari pandanganku, hanya tatapan yang tak kupahami saja, kemudian iapun berlalu.

Tak ingin membuang malam dengan percuma, akupun memesan sebuah bilik karaoke, kegiatan ini sering kuhabiskan bersamanya, dulu. Kupilih playlist yang tak biasa, yaitu lagu romantis yang liriknya mengingatkanku akan gadisku. Tak terasa luluhku sebagai laki-laki luruh, ada bendungan yang tak tertahan. Bilikpun mendadak terang, seterang harapan yang tak kumengerti apakah bisa mengganti cahaya lalu itu atau tidak. Perempuan yang tatapannya masih segar di ingatanku tiba-tiba datang.
“Mas, “Aku hanya ingin menghabiskan sisa umurku, bersama orang yang tepat.”

Dua perempuan berbeda mengulang sebuah kalimat yang sama. Tuhan, Kau sungguh baik padaku, mengirimkanku dua cinta sejati.

4 thoughts on “Dua Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s