Setengah Gelas Lagi

Dua bulan adalah waktu yang cukup lama bagiku untuk menunggunya. Semua tergantung pulsa dan jaringan, masalah klasik (kami). Kadang kemuakanku juga sering mengalasankan dua hal itu, “bodoh, mau saja kutipu,” gerutuku suatu hari ketika kubilang kalau pulsaku habis, saat ia memintaku untuk menghubunginya, di waktu yang sama iapun belum gajian sehingga akhirnya malam itu kami tak jadi berbagi cerita. Bukannya aku tak mau menghubunginya, tapi ada hal lain yang sedang kukerjakan saat itu dan aku tak mau diganggu. Itu saja.
 
Pemanasan global memang sudah menjadi masalah umum di mana-mana, tapi bukan karena alasan itu juga aku selalu suka memakai rok dengan belahan seadanya. Padahal awalnya kesejukan kota ini yang membuatku jatuh cinta dan tetap bertahan bekerja di sini. “Kotanya asri, penduduknya ramah, dan alamnya bersahabat,” salah satu kalimatku ketika memperkenalkan diri memulai pekerjaan di hari pertama di kantor ini, dan seketika langsung diriuhi oleh tepuk tangan bos dan rekan-rekan lainnya. Manusia-manusia yang selalu haus pujian, terlalu banyak memang jenis mereka di atas dunia ini. Ya, memang keahlianku untuk hanya sekedar membuat orang-orang tersanjung dengan kata-kata. Sehingga akhirnya itu juga yang membuatku sukses membujuknya untuk datang ke kotaku.
 
Aneh, dengan tampang yang di atas rata-rata, bisa saja aku menggaet orang-orang di sini, terlalu banyak karyawan kantorku yang seumuran dengan sedikit proses mudah menggaet mereka yang rata-rata playboy kampung dan ada suatu fenomena cukup lucu yang terjadi. Belum di tiga bulan bekerja di sini aku sudah ditawari untuk jadi istri siri oleh laki-laki sialan berperut buncit tapi berkantong tipis, bukan karena isi dompetnya yang tipis tapi memang dompetnya yang dipegang oleh istrinya dan hanya dibekali selembar sepuluh ribuan setiap harinya. “Brengsek,” ujarku dalam hati kala itu, bagaimana kau akan memanjakan aku yang tak terbiasa hanya dengan cuci mata.
 
Hah tapi kenapa dia yang kutunggu, pegawai swasta dengan selisih gaji hanya lima ratus ribu dariku? Ironi atau resiko? Menghabiskan waktu bermalam-malam dengan menelepon adalah kegiatan rutin kami. Aku sengaja melarangnya untuk menghubungiku di siang hari, terlalu sibuk dengan urusan lain yang tak kujelaskan kepadanya. Dia menerima, tanpa alasan, tanpa pertanyaan, dan yang pasti tanpa curiga.
 
 
Pertemuan kami disaksikan oleh hujan deras dengan petir yang menyambar di mana-mana, di sebuah lobi hotel bintang tiga, di lain kota. Padahal dari prakiraan BMKG yang kubaca dari koran pagi kota singgahku ini harusnya cerah berawan. Skenario dadakan yang sangat menunjang. Sempurna. 
 
 
“Jadi kapan kita nikah?” pertanyaannya kudengar tidak basa basi yang diiringi dengan sentuhan hangat di bagian yang cukup sensitif bagi sebagian besar perempuan termasuk aku, seolah lupa bahwa ini adalah pertemuan pertama dan mungkin saja terakhir kalinya, langsung saja kusambut dan membalasnya. Laki-laki berani ternyata, dan lebih berani dari yang kuanggap sebelumnya di malam-malam on the phone itu. Ah, aku makin jatuh cinta saja.

Aku tak menjawab apa-apa, hanya tersenyum, senyum andalan yang sangat kubanggakan dengan satu lesung pipi kiriku.
 
“Jangan cuma senyum, dijawab.”
 
“Sekarang?” tantangku.
 
“Boleh.”
 
“Ayo.” tawa kamipun pecah.
 
Masih di lobi hotel bintang tiga itu, menunggu apa reaksinya setelah ini. Waiter menawarkan dua gelas kopi kepada kami. Dia memang bukan dukun yang tiba-tiba tahu apa yang harus diberikannya kepadaku untuk setiap rencanaku. Semua sudah diatur dengan tambahan bubuk yang tidak biasa.

Aku sangat suka rambutnya, mengingatkanku dengan Matt Damon, aktor idolaku sepanjang zaman. Bukan, bukan karena tampangnya, tetapi satu-satunya alasan ialah karena filmnya yang sangat menginspirasi, sequel The Bourne.
 
“Aku tinggal ke toilet sebentar ya. Kopinya jangan dibiarkan dingin.”
 
Yes, please.”
 
 

Warna merah di bibirku sudah memudar karena beberapa teguk kopi yang telah kuminum dan tentu saja karena ulah laki-laki yang masih terus menungguku di luar itu. Sambil mengeluarkan tas make-up dan mengoleskan one touch batangan dengan warna merah yang sama dengan yang sebelumnya kugunakan.
 
“Langsung saja, tak usah banyak basa-basi.” Ujar perempuan yang telah menungguku di toilet itu. Entah dari mana dia berasal tak kuhiraukan, yang kupaham hanyalah onggokan yang baru saja dia lempar ke dadaku.
 
Nevermind.”
 
“Aku minta parfummu dulu, setidaknya aku merasakan hal yang sama dengan apa yang telah kau lakukan.”
“Pengecut,” ujarku dalam hati.    
 
Cukup setengah jam saja, untuk mengganti semua yang kugunakan sebelumnya mulai dari bagian bibir yang tak lagi memerah, dress yang tidak lagi biru tua, dan rambut yang tak lagi pirang blonde. Sekeluarnya dari toilet pria menuju lobi yang cukup lama kutinggalkan, keadaan telah berbeda. Terlihat  semua orang seperti panik dan telah ada sesosok pria tampan yang tak ingin kukenal dibawa ke mobil ambulans.
 
 
Melenggang ke taksi yang sudah menungguku, ah ingin sekali menghabiskan setengah gelas air hitam yang masih tersisa itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s