Pagi Ini, Cita Itu

“Sayang, aku berangkat.” Ujarmu mengakhiri percakapan kita di ruang tunggu terminal setelah menghabiskan waktu tiga jam berbincang. Kenapa begitu lama menunggu di terminal, itu pertanyaanmu di awal-awal hubungan kita? Ya, aku sangat suka berada di terminal, aku sangat menikmati perasaan haru-biru pertemuan dan perpisahan, dan kita bisa menemukannya di terminal bukan? Ada gelak ketika bertemu dengan kekasih atau saudara yang sudah sekian waktu tak bertemu dan ada mata-mata merah penuh tangis, bahkan banyak juga yang menahan tangis untuk tidak tumpah, agar sang kekasih yang akan pergi tidak terlalu bersedih, klise memang. Kenapa tidak sekalian saja di bandara, bukankah lebih mewah dan nyaman, tanyamu penasaran kala itu. Aku bahkan benci bandara, Sayang. Di bandara, lima tahun yang lalu aku hanya mendapati tubuh kaku ayah terbujur, serangan jantung. Bukan, bukan berarti aku menyesali dan tidak ikhlas atas kepergian ayah, namun karena satu hal, aku tidak sempat memberinya kado ulang tahun yang sangat diidam-idamkannya, kelulusanku di fakultas kedokteran.

Pagi ini kau menggenapi kepergianmu dengan mencium kedua mataku, kanan dua kali. Ya kau memang sangat paham aku suka mata, dengan mata kita bisa melihat dunia, dengan mata hati kita bisa melihat cinta, melihatmu, dan kaupun tau bahwa satu mataku, mata kananku adalah hasil transplantasi. Dan karena heran akupun mempertanyakan kenapa tidak kiri kanan yang kau cium biar seimbang, tanyaku penasaran. Sayang, jawabanmu sungguh membuat airmataku jatuh ke dalam dasar hati paling dalam. Karena kaulah si empunya mata itu, kaulah yang telah mendonorkan matamu untukku. Ibu sengaja tidak memberitahukanku kala itu, karena kalau aku tau pasti aku menolak dan Tuhan, Engkau tidak hanya menjadikannya kekasihku, tapi juga pengantar kehidupan, aku bisa melihat kehidupan dengan lebih sempurna karena Engkau mengirimkan malaikat tanpa sayap kepadaku.

“Sayang, cepat kembali ya, semoga hanya satu semester lagi yang memisahkan kita, kaulah alasanku melihat dunia, kaulah yang akan mengajariku bagaimana cara mencari dan mengetuk pintu yang dijaga oleh malaikat Ridwan.” Tanpamu jagung manis Thailand favoritku itu pasti berubah hambar dan bunga-bunga mawar di film Bed of Roses kegemaranmu itu pasti tampak layu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s