BARU

Bagaimana perasaanmu ketika dulu waktu kecil dapat hadiah dari ayah karena juara kelas?
Senang bukan main pastinya. Betapa tidak karena setelah sekian malam belajar, demi hadiah yang kita idamkan dengan harapan sekaligus mendapat nilai baik di sekolah adalah suatu kebahagiaan yang tak terhingga. Anehnya, tak jarang bahwa kita belajar dengan giat dikarenakan unsur hadiah tersebut, bukan karena prestasi. Iming-iming, ya mungkin boleh disebut demikian. Mungkin seperti itulah watak kita dulu ketika kanak-kanak.

Beda halnya ketika ibu membelikan kita baju baru di saat lebaran. Mungkin saja puasa kita tidak penuh satu bulan, tetapi ibu tetap menghadiahi baju baru. Ibu pasti tidak akan tega melihat anaknya tanpa baju baru di saat lebaran di mana rata-rata semua anak memakai baju baru. Dan ini adalah kebiasaan yang terbawa ke dalam ranah keharusan.

Saat putus cinta, segala rasa adalah hampa. Dunia seakan kiamat bahkan ada yang sampai bunuh diri. Tak mudah melewati fase ini (bagi sebagian orang). Dan kemudian ketika seseorang yang mampu meluluhkanmu (kembali), dunia seolah-olah berputar menjadi sebaliknya. Tanpa mampu kau menepis perasaan itu karena memang akan ada ukiran-ukiran baru dalam hidupmu. Fase ini adalah proses panjang yang tak pernah usai. Dan dalam tahap selanjutnya proses ini akan kita alami tidak dengan orang yang berbeda, namun kepada orang yang sama.

Saat ini bagi siapapun yang mendapatkan apapun yang baru, syukurilah, nikmatilah karena tidak semua orang akan mendapatkan apa yang kamu punya. Saat ini saya mendapatkan sesuatu yang baru, ​​‎​اَلْحَمْدُلِلّهِ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s