DIA

Kurapikan serpihan hati ini yang terserak sejak kematian ayah. Cita-cita yang kugantungkan setinggi langitpun hancur berantakan, sirna seketika. Aku anak sulung yang masih berusia dua puluh satu tahun harus mengemban hidup keluargaku—Ibu dan lima orang adikku yang masih sekolah. Di tengah semester enam, kuputuskan berhenti studi sementara (BSS) yang entah kapan dapat kulanjutkan kembali. Mengayuh kehidupan sendiri memang berat, tapi apa boleh buat, ibu sudah tak mungkin lagi bekerja membantu untuk mencari nafkah, dua tahun terakhir ibu menderita stroke. Hidup memang suatu perjuangan yang tak habis-habisnya, itu kata-kata ayah yang sangat kuingat, apalagi saat ketiadaannya. Sebagai kepala keluarga, ayahku adalah ayah yang tangguh, siang malam beliau banting tulang mencari kehidupan di luar sana, demi kami keluarganya. Ayah adalah karyawan swasta yang bekerja di perusahaan asing di bagian marketing. Dengan jam kerja penuh sampai sepuluh jam—karena ayah selalu mengambil lembur yang ditawarkan perusahaan. Sehingga dengan gaji ayah tersebut kehidupan kami dapat hidup lumayan.

Awalnya tak berniat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Mengingat banting tulang ayah, sampai-sampai hanya lelah yang tersisa sesampai di rumah, kadang dengan air mata. Ayah yang memaksaku kuliah—ayah adalah orang yang paling tidak suka melihat ada anak di usia pendidikan yang memilih tidak bersekolah—dan akhirnya di tengah jalan ini aku harus istirahat. Aku tidak berani mempertaruhkan keluargaku demi masa depanku sendiri, merekalah masa depanku sesungguhnya.

“Tita, Bapak ini datang dari Bukittinggi, tolong layani dengan baik ya dia kostumer baru kita.”

“Baik, Pak.”

“Sudah berapa lama pendengarannya berkurang, Pak?” tanyaku pada Pak Ito.

“3 bulan ini, Nak.”

“Faktornya kenapa, Pak?”

“Karena kecelakaan, kecelakaan itu yang merenggut semuanya.”

“Semuanya? Maksud Bapak?” tanyaku penasaran.

“Istri, 3 anak, dan 1 cucu saya meninggal seketika, peristiwanya terjadi begitu cepat. Tepat di perlintasan kereta api yang palangnya rusak sehingga kami tidak melihat bahwa akan ada pemberitahuan kereta api akan melintas.” Air mata Pak Ito mengalir dengan alasan yang kuat, tanpa permisi dan obrolan ini berlanjut sampai di warung sederhana tempat kami makan siang. Sebagai konsultan alat bantu dengar aku memang banyak bertemu ‘orang-orang bermasalah’ dan tak sedikit dari mereka yang menceritakan kisah hidupnya baik yang berhubungan langsung dengan sakit pendengaran mereka ataupun tidak, ya salah satunya Pak Ito. Aku heran di umurku yang masih belia, kenapa aku dengan mudahnya masuk secara pribadi ke dalam kehidupan mereka. Mereka dengan mudah bercerita, padahal bukan solusi yang kuberi, aku hanya memberikan dua telinga, bukan hati bukan tubuh. Mungkin kehidupanlah yang mengajarkanku dan perlahan masalah-masalah tersebut semakin mendewasakanku.

Ya, sudah dua tahun aku berkelana memasuki dunia nyata dengan mengirim surat lamaran ke sana ke mari dengan hanya berbekal ijazah SMU. Mulai dari kerja serabutan di rumah makan, mengurus tanaman anggrek, merawat jompo, sampai akhirnya aku masuk ke Perusahaan Alat Bantu dengar atas rekomendasi almarhum kakek yang pernah kurawat, dan menyambi sebagai guru privat bahasa Inggris di waktu libur.

“Kamu sudah punya pacar?”

“Gak sempat, Pak. Bagaimana mau pacaran, saya terlalu sibuk dengan dunia sendiri.”

“Bukannya pekerjaan kamu ini hanya Senin sampai Jum`at?”

“Iya, Pak. Tapi Sabtu dan Minggu saya mencari tambahan sebagai guru privat keliling, Pak. Alhamdulillah adik-adik saya bisa bersekolah semua, dan Ibu juga semakin membaik.”

“Ibumu sakit apa?”

“Stroke, Pak. Makin down pasca kematian ayah. Dua tahun berlalu Ibu bisa fight dan semakin membaik, tapi tak kubiarkan ibu bekerja, biar saya saja yang mencari nafkah toh sudah mencukupi.”

“Kamu persis istri saya, wanita perkasa yang berhati mulia.”

Tak terasa sudah dua bulan saja saya berkomunikasi dengan Pak Ito, kami seperti teman dekat yang saling berbagi cerita, apa saja, tentang kehidupan pribadi kami sampai isu sosial yang merebak di Indonesia. Sedikitpun perasaanku tidak berkata apa-apa kepada Pak Ito, tapi aku tidak tahu persis bagaimana ini sesungguhnya, pun perasaan Pak Ito sendiri, aku adalah gadis belia yang lupa apa tanda dan gejala jatuh cinta sehingga tidak bisa menilai orang lain apakah ada perasaannya denganku.

Suatu ketika Pak Randu pemilik perusahaanku pernah bilang, bahwa Pak Ito sayang saya.

“Sebagai laki-laki matang, saya bisa menilai, Ta.”

”Ah, Bapak bisa saja, gak mungkin lah.”

“Tita, gak cuma saya yang bilang, istri saya juga sadar itu.”

“Masa sih, Pak? Kenapa dia tidak berani bilang sama saya?”

“Iya, minggu lalu istri saya singgah ke kantor dan melihat kamu ngobrol dengan Pak Ito, matanya sudah menjelaskan semua.”

“Bapak sama Ibu peramal ya, belajar sama siapa?” candaku.

“Kamu harus buka hatimu, Ta.”

“Gak, Pak. Usia kami terpaut dua puluh tahun, mengalahi Yuni dan Rafi.”

“Kamu bisa saja, kamu lupa kalau saya dan istri saya juga terpaut jauh sepuluh tahun.”

“Tapi gak kebaca, Pak. Wong Ibu itu orangnya imut ya gak jelas perbedaan umurnya. Lah saya?”

“Kamu ngaku deh, kamu juga sayang Pak Ito, kan?” pertanyaan paksa Pak Randu yang sebelumnya kutakuti akhirnya keluar juga.

“Pak, saya pulang dulu ya udah sore, rencana mau ke makam ayah saya sebentar.”

“Tuh kan, ngeles tiba-tiba pergi. Ingat Tita bukan hatimu.” Teriak Pak Randu.

Kenapa Pak Randu juga bisa membaca perasaanku? Benarkah ini cinta? Akupun berlalu dengan sisa-sisa obrolah terakhir dengan bosku tadi. Ya hal inipun sudah pernah dibahas Ibu di rumah, ibupun bisa menilai bahwa Pak Ito sepertinya ada hati denganku dan Ibupun ikhlas karena menurut ibu—dari ceritaku dan pertemuan sekali dengan Pak Ito di perusahaan—dia orang yang cukup baik. Keputusan hanya di tanganku, ibu tidak pernah memaksa dan hanya memberi pertimbangan serta pandangan-pandangannya.

Sudah dua minggu saja aku tidak bertemu dengan Pak Ito, tak ada kabar, akupun tak mau menghubunginya, takut mengganggu atau mungkin juga mereka semua—Pak Randu, istrinya, sampai Ibu—salah memberi pendapat mereka. Sudahlah, toh saya ikhlas memang tak ada pengharapan apa-apa dari awal. Tak sadar ada dua tetes bening seimbang di kanan dan kiri, ah biarlah.

 

“Tita, ada yang datang coba buka pintu.”

“Siapa sih datang malam-malam? Kayak kurang kerjaan saja.” ucapku perlahan sambil membuka pintu.

“Saya kurang kerjaan, Ta? Balik lagi deh.” candanya sambil membalikkan badan.

“Gaaak.” Spontan kutarik lengan lelaki matang itu yang memang, memang kurindu kedatangannya.

“Ke mana aja?”

Tak ada kalimat lagi sesudah itu, hanya selingkar logam (tak) mulia menjelaskan semua.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s