SETITIK NILA

“Nila, hati-hati ya nak. Umi akan kangen kamu, kehilangan kamu untuk sementara. Cepat sembuh dan kamu harus tegar.” Aku merasakan kegetiran di dalam tidurku dan ada sebutir bening hangat yang jatuh membasahi, tapi tak jelas.

Lorong yang sangat sunyi, bahkan sepertinya tak ada yang berniat menyinggahi kehidupannya di detik ini. Tak ada lagi penyesalan, hanya tubuh ringkih yang tersisa. Aku tak tau, apakah akan kembali lagi bernyanyi bersama The Drinks. Entahlah.

Tak ada kunjungan atau besuk untuk satu tahun pertama, bukan tanpa alasan kemanusiaan tapi itulah peraturan yang ditegaskan oleh pemilik yayasan. Otoriter memang, tapi penguasa itu menyesalkan banyak konflik yang terjadi ketika keluarga datang. Bukannya sembuh, tapi malah akhirnya tak kuat sehingga dibawa pulang lagi dan paling parah ada pihak yang mengatasnamakan keluarga yang menyediakan “obat” sendiri.

***

“Kamu, cepat ke sini. Bersihkan halaman, kamar mandi, dan kemudian potong rumput teras belakang. Hari ini kamu piket dan harus selesai sebelum ba`da Ashar.”

“Ya, Pak. Tapi bukannya saya piket bersama Ririn?”

“Ririn sedang menstruasi, dan dibebaskan dari piket sehingga jadwalnya naik besok.”

“Baik, Pak.”

Begitulah cuplikan episode demi episode kehidupan di yayasan, salah satunya piket yang jadwalnya setiap tiga hari. Hari ini aku harus piket sendiri tanpa Ririn yang sedang sakit. Kalau sedang tidak ada jadwal piket, pekerjaan sehari-hari kami di sini adalah menganyam ijuk untuk dijadikan sapu, membingkai kayu dan menghaluskannya untuk dijadikan figura sederhana, atau membersihkan kolam ikan di yayasan.

Yayasan Darmansyah mengembalikan kepercayaan diriku yang sempat mati, selama tiga tahun terjerumus dalam limbah hitam pekat, tanpa agama, tanpa kesadaran diri yang paling puncak. Malam demi malam kuhabiskan bersama mereka yang ternyata hanya menganggapku sebagai ATM berjalan. Ya semua tidak perlu diukur ulang.

“Allah, seperti apa aku harus berterima kasih kepadaMu? Kesempatan kedua Engkau berikan dalam hidupku, menghirup kembali apa yang disebut aroma keluarga, rindu kekasih, dan hidangan makan malam dengan menu sop buntut bakar kegemaranku—tentu nanti sekeluarnya aku dari sini—yang akan kutata ulang, tak ingin mengecewakan seseorang yang kupanggil Umi, wanita tegar yang hilang kekuatannya gara-garaku. Akan kusudahi semua ini, akan kubangun lagi dinding kepercayaan Umi, aku benar-benar berjanji.” Doaku di tengah malam, tepat hari ulang tahun Umi. Aku tak ada di sisinya, pun beliau tak bisa menemuiku. Hanya derasan airmata menemani yang menghujan baku kamar lembab ini, bahkan hujan di luar tak dapat membandingkan.

Allah, tak sabar ingin kumelihat wajah Umi yang sudah tiga ratus tiga puluh lima hari kutinggalkan, oh betapa berat menjalani tiga puluh hari lagi, semua rencana sudah kutulis rapi di agendaku. Hal pertama yang kulakukan adalah bersujud dan mencium kaki Umi, bukan permintaan maaf tapi adalah menjatuhkan diri ini serendah-rendahnya untuk mencari Ridho Allah—yang letaknya di keridhoan Umi, bukan? Entah kenapa berat sekali menjalani sisa waktu ini, tak kutakutkan musim gempa yang sedang marak-maraknya di wilayahku. Mungkinkah ini pertanda bahwa dosaku sudah terlalu banyak, dan ini adalah suatu bentuk penghukuman? Tapi kenapa Allah tidak menghukumku saja, kenapa kepada mereka orang-orang yang kusayangi?

“Nila, kamu dipanggil ke ruangan administrasi untuk menyelesaikan kepulanganmu besok. Wah pasti kamu tidak bisa tidur ya malam ini?”

“Gak juga Pak, udah hampir tiga puluh malam ini Saya tidak tidur.” Gurauku.

“Saya bisa merasakannya, alhamdulillah kamu benar-benar sembuh. Selamat ya, dan Bapak tau kamu pasti akan berubah.”

“Pasti, terima kasih, Pak.” Aku berlalu sebelumnya menyalami Pak Darma atas nasihat yang diberikannya.

Perpisahan di barak begitu memilukan, kami yang terbiasa hampir satu tahun kebersamaan: sarapan, makan siang, makan malam, bersih-bersih kamar mandi, mandi hujan, sampai menjalani hukumanpun sama-sama.

“Kata pepatah tua, ada pertemuan ada perpisahan. Dan perpisahan ini adalah awal dari kebahagiaan saya, teman-teman.” Akhirku memberi kata-kata terakhir.

“Kamu jangan lupa sama yayasan ya, cuma orangtua kok yang dilarang, kalo alumni kan belum.”

“Lho, emang mau rencana diubah lagi peraturannya Pak, atas dasar apa? Jangan dong Pak.”

“Ya, tidak mungkin lah, saya hanya bergurau.”

“Hampir saja saya mau melaporkan Bapak ke Komnas HAM, untung hanya gurauan.” Balasku.

Malam ini tak lagi sepi, banyak tawa, tangis, dan kenangan antri berjejer di tempat mereka masing-masing. Tak lagi kukeluhkan kehidupan tanpa TV yang dulu membuatku sangat, sangat tersiksa. Malam ini tak lagi panjang.

***

“Ayaaaaahh, Umi mana? Kok gak ikut? Umi kok gitu? Pasti lagi masakin sop buntut bakar buat Nila ya, ditinggal aja lagi yah gak pa pa kok, yang pentingkan Umi jemput. Umi kok gitu yah?” kuserang Ayah dengan pertanyaan bertubi-tubi, seperti hujan deras yang datang dan memukuli wajahku secara keroyokan dan tak mau teratur, sambil mengguncang-guncang bahu Ayah.

“Umi nunggu di rumah, Nila.” Ayah menjawab singkat.

Akupun merasakan sesuatu yang bergetar hebat di dasar jiwa paling dalam, tak biasanya, ya memang tak biasanya Umi melakukan ini. Hancur sudah, yang pasti cita-cita pertamaku sekeluarnya dari yayasan sudah lenyap, apalagi yang tersisa? Aku benar-benar takut, takut.

Satu jam perjalanan ini membawaku di tiga ratus enam puluh lima hari yang lalu, meski tak sadar tapi aku tetap bisa merasakan hangatnya kasih sayang dari sang pemilik rahim yang kokoh. Kutegaskan hanya menasbihkan namanya, meminta maaf atas apa yang telah kulakukan. Merangkulnya erat tak terlepaskan hingga ajal menjemput, kuiramakan setiap ayat Al-Qur`an bersamanya selalu, Umi sosok itu begitu nyata di haribaanku. Memusnahkan segala bentuk yang tak berwujud.

 

Dan benar, itu benar-benar terjadi.

Ayah tak menjelaskan apapun. Di pintu rumah, Umi menungguku sambil tersenyum manis bersama kakek dan nenek yang telah pergi lebih dulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s