Malam Tak Berbatas

“Wi, aku telah memilih. Maaf ini semua harus berakhir. Salam untuk ibu dan ayah.”
Kata itu berakhir datar, lenyap seketika. Tubuh ini serasa lunglai, jatuh ke titik nadir paling rendah, tidak ada tangis karena air mata pun enggan untuk menenangkan diriku. Tiba-tiba petir menyambar sangat dahsyat, dejavu atau nyata tidak bisa lagi dibedakan. Yang tersisa hanya hampa, puing, dan halusinasi yang selalu membayangi. Bagaimana harus ku jelaskan pada pagi, malam, dan rumah ini jika kepada hatiku saja aku tidak bisa terangkan. Petir itu tidak lagi menakutkan, biasanya aku selalu berlindung di balik badan ibu setiap petir menyinggahi alam. Tidak ada ada lagi kehangatan “malaikat riil”—sebutan ku untuk keluarga ku—bagiku. Habis seketika.

* * *

“Siwiiiii, bangun udah maghrib. Abis magrib langsung turun ya, atau ibu ke sana?” Teriakan ibu membangunkanku. “Gak usah bu, Siwi sebentar aja kok.”
“Oke, hurry up please.” Ah ibu ini, selalu memakai kata please dalam setiap permintaannya. Seingatku itu dimulai sejak 5 tahun yang lalu. Aku cerita kalau Bu Dina—guru bahasa Inggris SMP ku—selalu mengandalkan kata itu untuk menyuruhku maju ke depan kelas dalam pelajaran telling story. Ya, dulu aku adalah anak yang pemalu bahkan untuk unjuk gigi dalam mata pelajaran kebanggaan ku itu. Dan akhirnya pun luluh penuh arti setelahnya. Bukannya aku tidak melarang ibu untuk tidak selalu memakai kata itu, ya iyalah mosok ibu pake kata memohon ngomong sama anaknya. You know kalo jawaban ibu adalah biar terlihat keren, ya K.E.R.E.N. Akupun luluh, tersenyum..

“Gimana wi, kelas tiga ini ada masalah?” Ayah memulai dengan menanyaiku tentang kelas eksel yang aku pilih. Entah kenapa, atau mungkin juga karena jodoh kalau sejak SMP aku terseleksi dalam kelas akselerasi. Kelas yang terkadang membuat ku takut, parno, atau setidaknya membuat ibu dan ayah bangga.
“Nggak yah, eh belum, hehe” Aku berkilah.
“Kelas eksel itu cuma butuh satu syarat aja yah, KONSENTRASI,” ujarku sambil menirukan gaya Deddy Corbuzier. Makan malam bersama adalah “ritual” wajib bagi kami, ayah yang mengajarinya sejak kami kecil. Tidak hanya sebagai ‘ritual’ belaka, tapi menurut ayah ini dapat mengajarkan self confidence dalam menghadapi dunia luar. Bagaimana kalau ayah ada acara malam dengan koleganya? Pastinya jadwal makan malam sedikit dimajukan dan porsinya sedikit dikurangi.

SURPRISE..!!
“Selamat ulang tahun Siwi.” “Sekarang kamu udah 17 tahun, sudah saatnya kamu kenalkan ke ayah.”
“Maksud ayah?”
“Udah, gak usah pura-pura gitu, ayah udah tau semua dari ibu. Kamu backstreet kan?”
“IBUUU.” Seketika aku langsung mengejar ibu, mengubek-ubek rambutnya yang masih basah dan tanpa jilbab. Kaget setengah mati mendengar pengakuan ayah.
“Sudah tidak apa-apa, jangan malu gitu. Kapan nih ke sininya?”
“As soon as possible yah.”

* * *

Dua minggu berselang, Sabtu ini aku putuskan membawa Bima ke rumah.
“Assalamualaikum ibuuu.” Teriakku sambil membuka pintu.
“Eh, kok ada ayah, ayah kok pulang cepat?” Kaget melihat ayah ada di rumah. Ya, ayah sengaja izin sebentar dari kantor karena tidak ingin melewatkan momen pertama bertemu Bima.
“Bima, om tant, apa kabar?” Bima memulai obrolan dengan akrab dan santai. Bima adalah cowok pertama yang singgah di hatiku, cinta monyetku yang tumbuh seiring ku dewasa. Kakak kelas ku mulai dari SD sampai SMU, dan di kelas dua belas ini kami satu kelas karena program eksel yang aku ikuti. Berasal dari keluarga sederhana yang terkadang sering membuatnya minder. Dan sesering itu pula aku membangkitkan kepercayaan dirinya lagi.
Senjapun memaksa malam untuk datang, sehingga sudah waktunya Bima pulang.
Bla bla bla…. Dan seperti yang aku duga sebelumnya, bahwa mereka dapat menerima Bima, ya tentu saja dengan “sihir” kesopanannya, dia memang sangat sopan. Detik yang kedua belas memisahkan kami di ruang depan itu, ya ini adalah weekend jadi gak masalah kalo besok kesiangan.

“Menurut kamu gimana ibu dan ayahku, Bim?” Tanya ku senin pagi, sebelum lonceng sekolah, dengan riangnya.
“Aku tidak bisa, benar-benar tidak bisa, maafkan aku.” Pungkasnya.
“Maksudnya?” Singkatku.
“Kamu, keluargamu, kehidupanmu terlalu sempurna, perfect!”
“Kamu tidak perlu lagi menemuiku, kita selesai. May be friend is better. ”

Mimpi itu datang lagi.
“Mimpi? Aku menepuk dengan keras wajahku di depannya, agar pantulannya langsung menampakkan, menyadarkanku.”
Ah, ternyata selama ini aku hidup dalam kepingan itu, kepingan yang diciptakan Bima, yang sampai entah kapan harus berakhir. Sementara aku masih di kamar yang sama tiga puluh tahun ini, sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s