Gilayya

bahkan aku tidak sempat berterimakasih padamu…

Di antara banyaknya kesemuan yang lalu lalang, gilang tidak mempedulikannya, baginya yang penting adalah menemani ayya yang sedang sakit, terinjak oleh seseorang yang tidak dikenalinya, bahkan tidak sempat menanyakan apa yang terjadi, apa salahnya, orang itu sudah terlalu jauh meninggalkan ayya, ntah untuk kepentingan duniawi apa. beginilah nasib sebagian besar kaum mereka yang ada di dekat manusia. tak jarang merekapun, terkadang bisa masuk dalam perut manusia karena “keikutsertaan mereka dalam gula ataupun gulali”. saat itu ayya dan gilang sedang berbincang di sebuah taman kota tempat mereka biasa bertemu, mereka sedang membicarakan suatu hal yang sangat penting, dan tentu sulit. kesulitan itu tampak dari banyaknya air mata yang mengalir, dan bahkan akan menjadi saingan niagara.

“aku tidak bisa hidup sendiri, ya”. entah kenapa itu kata-kata ampuh gilang untuk merayu ayya, dan sudah ribuan kalinya ayyapun tak bisa menolak gilang. Ayya harus pergi karena ayahnya pindah ke kota lain untuk kepentingan yang cukup penting, kepentingan yang mementingkan. Perjalanan yang sangat jauh yang mengharuskan mereka sekeluarga menyeberangi 2 danau dan 3 hutan, mereka harus berpetualang bagaikan alex rover menuju nim`s island. ayah ayya sudah memberi tenggat waktu, dan itu akan berakhir 2 hari lagi, waktu yang sangat sempit untuk memisahkan 2 jiwa yang saling mengisi dan memberi. bagaimanapun seolah-olah ayya harus memilih antara keluarganya atau gilangnya. arjuna itu tak akan tergantikan lagi bahkan oleh sang pangeran sekalipun, dan karena mungkin ini yang disebut jodoh, gilangpun tak pernah terlibat cinta lokasi dengan para kaum gadis yang populasinya sangat banyak di kebun tempatnya bekerja, yang tidak sedikit meminta perhatiannya.

“Sama saja aku bunuh diri jika aku harus memilih, kamu atau keluargaku, it`s not a deal, my man.” Tangis ayya pecah, entah ini klimaknya atau mungkin hanya baru permulaan, yang pasti ayya tidak akan memutuskan antara 2 hal terbaik dalam hidupnya, dalam pikiran ayya jauh lebih baik jika diserahkan dalam takdir Tuhan yang kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi di depan. Semua itu adalah nasib yang telah melekat pada diri kita jauh sebelum roh ditiupkan. Mereka berdua terdiam, hening di antara keindahan taman, kecantikan bunga, kebisingan angin, dan kesibukan langkah manusia di tengah kota, tempat yang sebenarnya sangat indah untuk diacuhkan begitu saja apalagi untuk ditangisi seperti ayya dan gilang lakukan. Hah, semua itu hanya tokoh, hanya aktor dan aktris yang sedang memainkan peran, ada satu sutradara yang mengatur dan meng-cut naskah ini, yang dengan mudah dapat mengubah semuanya, segala yang mereka, kita punya, tanpa bisa mereka pinta walaupun dengan pelasan air mata darah.

“Kenapa kau tidak ikut saja, gilang? Ajak saja ibu mu, kau pasti akan mendapatkan pekerjaan baru di sana, dan kita bisa hidup bahagia selamanya, tidakkah terpikirkan oleh mu?” ayya memohon. Akhirnya pertanyaan yang selama ini ditakutkan gilang, terucap juga oleh penjaga hatinya itu, pertanyaan yang tidak bisa dijelaskan dengan narasi formal manapun, jangankan melalui majas bahkan hukum positifpun tidak mampu menjabarkannya, sangat jauh jika dibandingkan deret bilangan dalam psikotes yang dengan mudah dapat diselesaikan. Gilang membatin, berteriak keras dalam hatinya, sepertinya hati ayya juga merasakan gejolak yang sama karena pada dasarnya jiwa dan perasaan mereka ditakdirkan satu. Karena seketika itu ayya juga tersontak seolah ada sesuatu yang mengejutkannya sampai ia harus berpindah dari posisi duduknya semula. Mereka sangat membenci saat-saat seperti ini yang mengharuskan mereka berfikir keras untuk diselesaikan secara win-win solution. Sebenarnya tidak ada masalah ketika mereka berjauhan karena memang tidak ada lagi alasan untuk takut kehilangan karena jiwa mereka sudah sangat terpaut, tetapi karena satu alasan, yaitu gilang tidak bisa jika sehari tanpa senyuman lesung pipi ayya yang membuat hidupnya tenang, sangat klise memang.

Akhirnya mereka sampai di rumah masing-masing, belum ada satu kesepakatanpun, hati mereka tidak berhenti berdegup kencang sampai dua hari ke depan, mungkin. Tetapi malam mengharuskan mereka untuk pulang. Tidak ada telepon ataupun sedikit kabar sampai ba`da Zuhur. Entah kenapa mereka seperti kehilangan bagian jiwa mereka masing-masing. Panggilan adik ayya dari luar kamar juga tak diacuhkannya, padahal ayya belum makan sedikitpun sejak tujuh belas jam. Hanya hampa yang mereka rasakan, belum berpisah saja mereka sudah seperti kiamat, bagaimana nanti jika benar-benar berpisah dan gilang benar-benar tidak bisa ikut pindah. Bagaimanapun mereka tetap dua individu yang berbeda dan tentunya punya ego dan emosi masing-masing pula.

Hari itu akhirnya datang, Saat yang paling menakutkan, hari itu ayya dan seluruh keluargnya telah berada di stasiun, menunggu gilang. “Kenapa gilang terlambat, kenapa gilang tidak memberitahu keadaannya dari kemarin, apakah gilang tidak datang di hari terakhir pertemuan mereka di kota yang sama, setidaknya untuk beberapa tahun ke depan?” Perasaan ayya mulai tidak tenang, banyak pikiran negatif yang bergelayut di otaknya, karena memang sangat tidak biasanya, gilang tidak memberi kabar apalagi sudah dua hari sejak pertemuan mereka di taman kota di mana ayya terinjak oleh seseorang. Ayya tidak pasrah, ayya memohon kepada orangtuanya untuk menunggu gilang sampai datang, pasti ada sesuatu yang membuta gilang terlambat, pasti ada hal yang tidak bisa ditinggalkan gilang. Ayya mencoba menenangkan dirinya sendiri, walaupun sia-sia. Sudah lima jam berlalu, waktu yang sangat lama tentunya bagi kita kaum manusia untuk menunggu seseorang, kekasih sekalipun. Ayah ayya menawarkan saran agar ayya mendatangi rumah gilang, tetapi ayya tidak mau, ayya tidak sanggup berpamitan secara langsung kepada ibu gilang yang sangat menyayanginya dan menyayangkan keputusan ayya yang pindah rumah, mereka sangat dekat, seperti sahabat karib atau anak sendiri karena ibunya gilang tidak memiliki anak perempuan, bahkan seperti ladan dan laleh bijani. Sampai kapanpun akan ia tunggu arjunanya, karena ayya tau gilang tidak mungkin sampai marah atas keputusan akhir ayya. Karena pada dasarnya ayya dan gilang telah punya ikatan batin yang sangat kuat yang mereka sendiri juga tidak mengerti. Dari jauh ayya melihat kedatangan gilang, gilang menceritakan dia terlambat karena ibunya sakit, harus mengantarkan ke dokter karena setelah mendapat kabar bahwa ayya pergi, dan mungkin tidak kembali lagi ke kota ini, ibu gilang sangat shock, tertekan, dan sempat kehilangan kesadarannya untuk beberapa saat. Ayya terpukul, tidak sampai hati memang tapi apa mau dikata, inilah salah satu takdir yang ia, mereka, harus lalui, toh mereka pun tidak tau akhir seperti apa yang akan dipersiapkan Tuhan untuk mereka.

“Lang, aku berangkat ya” Ayya akhirnya berpamitan kepada laki-laki nomor dua yang paling ia sayangi di dunia ini. Satu kalimat pendek yang sangat menusuk hatinya yang akhirnya ia ucapkan, tetapi apa yang dirasakan di dalam hatinya jauh lebih dahsyat dan tidak dapat ditolerir oleh akalnya sendiri. Gilang memegang kepala ayya, sambil berbisik, “hati-hati ya ayya”. “Ya, i have to tell you something.” ayya merasakan sesuatu yang sangat aneh yang akan diucapkan gilang, tetapi ayya berusaha untuk tegar, untuk menenangkan diri, untuk menguasai dirinya, sambil menunggu kelanjutan kalimat yang akan dilanjutkan oleh gilang. Mereka terdiam untuk beberapa saat, gilangpun butuh energi yang luar biasa untuk melanjutkan kalimat terakhir yang akan disampaikan kepada gadisnya itu. “Aku merelakanmu pergi, aku mendo`akan mu agar dapat pengganti ku di sana”, akhirnya bisa juga gilang menyelesaikan kata-kata terakhirnya. Ayya memilih tidak menjawab, mereka lagi-lagi terdiam, mereka juga tidak marah, karena masih dengan alasan yang sama, mereka pasangan yang terlalu sempurna untuk meributkan suatu yang dianggap remeh temeh, untuk sempat berfikirpun untuk mencari pasangan lain tentu tidak bagi mereka. Gilang masih berdiri di tempat yang sama, gilang melambaikan tangan, ayya berlalu, tidak ada lagi kekasih hatinya yang selalu membuat hidupnya cukup, hidupnya seperti pelangi, indah. Tidak ada lagi lesung pipi yang harus dijumpainya sebelum minum obat. Ya itulah satu rahasia yang sampai saat terakhirnya dengan kekasihnya itu tidak diberitahukan, kalau selama ini gilang ada penyakit, dan satu-satunya alasan ia semangat minum obat dan kemoterapi adalah ayya si lesung pipi itu.

Cintanya yang begitu besar kepada ayya dan tidak mau ayya sedih dan terlalu memikirkan penyakit gilang yang membuatnya tidak menceritakan penyakitnya, untuk yang satu ini setiap malam gilang meminta ampun kepada Allah yang telah menciptakannya, menciptakan cinta mereka yang begitu besar, karena gilang tidak tahu apakah cintanya yang sangat absolut itu dapat ditoleriri dan termaafkan oleh sang Rabb, cinta absolut itu hanya milik Allah, Gilang..

“Ibu tau akan menjadi sangat sulit untuk memberitahu ayya, tetapi jauh lebih baik jika diberitahu secara langsung, nah sekarang kapan akan kamu bilang ke ayya, gilang? Kita tidak pernah tau tentang umur lang, semua udah ada yang ngatur, penyakitmu itu ditambah kepergian ayya membuat ibu hopeless, you know your own consequence, my son.” Gilang tersenyum kecut mendengar kata-kata ibunya. “Bu, tadi pas di stasiun gilang bilang kalo gilang do`ain ayya supaya dapat pengganti gilang di sana bu, mungkin ga ya bu? Gilang mencoba berbagi cerita ke ibunya, mencoba bertanya dari sudut pandang perempuan tentang pertanyaan kepada gadisnya saat berangkat tadi siang. “Hahaha, basi, ga masuk akal, kamu itu stres, ya ga mungkin lah, ibu jamin 1000% ayya tidak mungkin melakukan itu, jgnkan melakukan itu, terpikirpun tidak oleh ayya, pasti tadi ayya ga marah kan kamu bilang gitu?” Dalam hati gilang malah berfikir sebaliknya. Gilang hanya sedih jika nanti tidak sempat bertemu ayya kekasih hatinya yang sekarang telah jauh itu, dia keburu meninggal. Tapi sudahlah gilang hanya menjalani sisa hidupnya, mencoba kuat dengan tetap minum obat tanpa ritual lagi. Kapan semua ini akan berakhir?

Pagi ini begitu indah, cerah, tapi berbanding terbalik dengan kondisi fisik dan batin gilang. Gilang terbaring lemah di rumah sakit, ia sekarat sudah dua hari. Gilang berpesan kepada ibunya untuk tidak memberitahu keadaan gilang kepada ayya, jadi ibu gilang membohongi ayya kalau gilang sedang lembur di kantornya. Ayya percaya, karena itulah satu-satunya pelarian gilang sepeninggal ayya.

Hari demi hari berlalu, sudah dua bulan gilang di rumah sakit, sepertinya sudah tidak ada harapan lagi, sudah tidak ada lagi cahaya yang menerangi jiwa gilang yang redup, tidak ada matahari kecilnya yang selalu membuat dirinya terang tanpa gersang. “Ayya maafkan aku”, gilang merintih di dalam hatinya. Jika ini saatnya tiba, maafkan aku yang tidak jujur padamu, aku takut kehilangan kamu ayya, gilang mengakhiri kalimatnya, dia pingsan karena lelah berfikir. Satu minggu dalam keadaan koma, gilang bertemu ayya di dalam tidur panjangnya.

6 thoughts on “Gilayya

    1. No, mas Syafiq, itu bukan cuma dalam mimpi, it’s real. Tapi sebenernya kisah ini bukan milik anak manusia. Makhluk Tuhan yang lain juga punya cinta, bukan? 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s