Dua Ibu
Mei 31st, 2012 § Tinggalkan sebuah Komentar
Penulis : Arswendo Atmowiloto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2009
Tebal : 304 halaman
Saya termasuk pribadi yang terlambat mengenal karya sastra, sehingga di sinilah perannya orang bijak terdahulu berfilosofi “better late than never” bagi saya. Setidaknya menu resensi di blog saya adalah sebagai self reminder atau melawan lupa atas buku-buku yang saya baca (oke, ini ngeles :p). Let’s back to the topic!
Karya kedua Arswendo yang saya baca setelah 3 Cinta 1 Pria, yang tetap mengusung tema keluarga, cinta, dan seks.
Adalah Mamid sebagai orang pertama yang bercerita mengenai dua ibu yang ia dan saudara-saudaranya yang lain punya. Ibu, satu sebutan namun bisa diperankan oleh beribu karakter. Ibu, adalah sosok yang kita tak mampu habis mengungkapkannya: dalam karya pun cinta sehari-hari. Dua Ibu, kisah yang dikemas oleh Arswendo di mana sebuah keikhlasan dan kebahagiaan tidak butuh modal materi yang banyak, namun cinta yang tulus.
Sebagai penulis skenario yang memang tak diragukan lagi, Arswendo sangat apik menceritakan bagaimana sebuah cerita sederhana mampu membius lalu mengalirkan nilai-nilai kehidupan yang sangat dekat dengan kita. Banyak sekali ‘sentilan’ yang istilah sayanya ‘kena’, seperti: “….tak pernah terlontar, jadilah ibu yang baik. Melainkan, jadilah istri yang baik.” “Hanya yang merasa sakit yang bisa merasakan senang.” Dan “ibu hanya ingin anak-anaknya bahagia, ibu mengajarkan itu dalam sikap hidupnya.” Memang sederhana, tapi jika dipahami dan diaplikasikan, rasanya akan begitu mendalam.
Perempuan dengan sembilan anak (hanya satu anak kandung) dikisahkan sebagai perempuan tegar yang kemudian ikhlas ketika anak-anaknya ‘dijemput’ oleh orang tua kandung mereka atau dijemput oleh kebahagiaan mereka masing-masing: pernikahan atau pun obsesi masa depan. Apa alasan Ibu mau melakukan segalanya, mencurahkan sampai tetes peluh dan darah terakhirnya demi anak-anaknya adalah karena itu memang keinginan ibu, seperti yang ibu pernah bilang “kalau ingin bersamaku, harus lahir dari keinginan bersamaku, bukan karena orang lain.”
Sedikit catatan dari saya bahwa ada sebuah ke-absurd-an Arswendo di Dua Ibu-nya, yaitu alay. Ya, menurut saya ada kata yang dituliskan cukup alay walaupun tidak menggunakan angka sebagai pengganti abjad tetapi dituliskan seperti: uaaaaaaaa, kregaaaaaaaaaaaa, kreeeeeeegggghfhfgfgfgfgh, heaaaaaaaahhhhhhh (hell no, saya harus benar-benar menghitung huruf-hurufnya di buku!
Halaman 35 membuat saya kaget: bertemu lagi dengan Bong, setelah sang Bong fenomenal yang sangat dicintai itu (3 Cinta 1 Pria, 2008). Pak Arswendo, who is Bong exactly? I’m curious that much.
3 Cinta 1 Pria
Mei 15th, 2012 § Tinggalkan sebuah Komentar
Judul : 3 Cinta 1 Pria
Penulis : Arswendo Atmowiloto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Genre : Novel, Fiksi
Tahun Terbit : 2008
Tebal : 296 Halaman
Ini adalah buku Arswendo pertama yang saya baca, walaupun karya pertama Arswendo yang saya kenal adalah Keluarga Cemara. Membeli buku ini cukup jauh di Jakarta, ketika ada event Gramedia Fair. Tetapi saya percaya bahwa saya membeli buku ini karena….judulnya.
Sebelum membaca sinopsis atau cuplikan yang ada di belakang buku, saya berfikir bahwa laki-laki ini pastilah memiliki ketampanan yang melebihi aktor Indonesia, kharismanya melebihi Kepala Negara, ah saya tidak tahu juga Negara mana yang paling memiliki presiden kharismatik, saya juga takut menganalogikannya untuk presiden saya yang seringnya malah dihujat. Lalu, setelah membaca sampul luar buku, saya semakin tertarik membelinya, dikisahkan bahwa Bong adalah pria yang dicintai oleh tiga generasi. Satu kata: WOW.
Saya adalah salah satu atau salah dua orang yang mematahkan argumen/istilah “cinta tak harus memiliki,” karena itu adalah hal aneh yang harus dihilangkan dari permukaan bumi ini. Prinsip saya bagaimanapun cinta itu ya harus dimiliki. Waktu berjalan dan entah kapan saya sadari lalu menyimpulkan bahwa cinta adalah menikmati dengan baik apa yang ada hingga apa yang tiada. Arswendo dalam novel ini menceritakan kisah cinta seperti istilah tadi. Cinta adalah sesuatu yang tumbuh dalam hati, dibawa ke mana saja, di mana saja. Kisah demi kisah dituturkan datar dengan konflik yang tidak begitu rumit, tidak kacau, cenderung manis , terkadang terasa visualisasinya. Visual cinta nenek-nenek ataupun visual cinta wanita usia menengah ataupun visual cinta usia remaja tak banyak berbeda, mungkin yang membedakan adalah keriput salah satu tokohnya, atau cinta memang tak pernah mengenal kata tua ataupun keriput. Arswendo dalam kisahnya tidak menjelaskan detil bagaimana sosok dan karakter masing-masing tokohnya, dari keluarga mana mereka berasal, seperti apa kehidupan sehari-hari ekonomi atau pendidikannya, namun sesuatu yang digambarkan detil adalah justru pohon talok yang begitu dicintai Arswendo yang kemudian diketahui bahwa pohon tersebut memiliki pengalaman tersendiri bagi Sang Penulis.
Arswendo menawarkan sebuah kesempurnaan jiwa yang dimiliki tokoh utama, Bong, yang mampu menyihir tiga perempuan di tiga generasi begitu mencintainya, begitu ingin menikah dengannya. Arswendo menyiratkan dan menyuratkan betapa cinta di antara mereka tumbuh dan hidup, ada kecemburuan normal untuk saling berlomba memiliki, namun tidak dalam ranah anarkis.
Kekuatan Bong yang diusung Arswendo—sehingga dapat dijadikan faktor kenapa begitu banyak orang mengenal Bong, menjatuhcintai Bong—adalah dalam unsur seni yang begitu banyak dikuasai Sang Tokoh, yang kemudian sampai di akhir cerita yang paling sering disebut adalah sebagai pelukis.
Cinta, seyogyanya bukanlah hal rumit yang penuh pergolakan jika masing-masing hati mampu menerima keadaan dan jangan terpaku untuk melogiskan jalannya cinta. Biarkan cinta berjalan sendiri di relnya yang memang sudah tercipta dengan sendirinya.
Diam Dian
April 3rd, 2012 § Tinggalkan sebuah Komentar
Pernyataan Sopian itu mampu membius satu Taman Kanak-kanak Melati Ikhlas. Mereka dibuat melongo seolah menonton pertarungan Wiro Sableng melawan Sinto Gendeng, gurunya sendiri, dalam rangka uji materi ilmu baru. Bapak pemilik dua istri dan nihil anak itu pun dengan sangat tergesa-gesa menceritakan sampai akhir kisah seolah tak ada lagi hari esok.
Dua bulan yang lalu, Dian datang bersama Bi Ina atas paksaan Bu Imah, ibu tirinya, untuk pindah dari SDN 01 ke TK Melati Ikhlas. Ayah Dian sekalinya bertanya, acuh. Lalu keputusan pun akhirnya bergulir lancar di tangan Bu Imah. Lelah hati berkepanjangan menciptakan gejolak yang juga membatin pada Dian. Tak ada lagi putri yang lucu, enerjik, dan murah senyum. Seolah mati ditelan tsunami.
Beberapa butir siang dilalui Dian dengan ketegangan. Bagaimana tidak, saya, kita, bahkan seluruh makhluk Tuhan sepakat untuk tahu tanpa perlu diberitahu alasannya. Dian pun akhirnya bersepakat dengan alamnya sendiri. Keheningan.
Malam itu, Sopian tengah membeli sebungkus Evolution, setidaknya sebagai teman pengganti istri-istrinya yang kebetulan sama-sama dinas malam. Satunya perawat di Rumah Sakit Umum Daerah. Lainnya dukun kampung yang tengah bergulat dengan para pelanggan, salah satunya adalah calon bupati, sesekali ia juga dipanggil membantu mengajar di Melati Ikhlas. Lelaki empat puluh dua tahun yang tinggal tepat di belakang sekolah Dian itu, entah kebetulan entah takdir yang beralasan, iseng memasuki halaman sekolah dan menemukan Dian.
“Kenapa Dian belum pulang?” tanya Sopian panik.
Hening.
“Belum dijemput Bi Ina, ya?”
Tetap hening.
“Bagaimana kalau nunggunya di rumah bapak saja?” Sopian tetap berusaha.
Akhirnya Dian…. bergeming.
Bingung, sehingga dua pihak memutuskan diam. Tapi tidak di hati mereka. Sopian menemaninya. Semalam suntuk. Dalam isak tangisnya yang syahdu, tangan Dian menuliskan sesuatu.
Sebelum kokokan pertama ayam kampungnya, sebelum kepulangan para pedinas malam, Sopian terbangun dalam tidurnya yang melelahkan, dia menemukan sebuah buku kusam berwarna coklat pudar tertulis: Dian sudah selamat, Pak, bersegeralah untuk diri bapak. Tegas langkah kakinya mengejar jendela dan didapatinya seorang bertanduk melangkah pasti menuju rumahnya. Ayam Sopian tak jadi berkokok. Bedug Subuh pun bergeming.
Larasita
Maret 13th, 2012 § Tinggalkan sebuah Komentar
Larasita tampil begitu anggun dan masih santai menunggu Rayan di depan jendelanya sambil menyelesaikan gambar kupu-kupunya . Tak seperti kebiasaan banyak orang yang memilih waktu makan siang untuk datang ke resepsi pernikahan, mereka-tepatnya kebiasaan Larasita-datang pada malam hari. Di awal hubungan mereka, Rayan keberatan. Butuh dua tahun tiga bulan Larasita menjelaskan, dan berhasil. Untungnya. “Waktu memang senjata ampuh untukku, Mas, ujarnya dari balik stir kemudi, “dan aku punya stok senjata yang banyak.” Malam itu sudah diwanti-wanti harus dia yang menyetir, bahkan sudah diberitahu sejak dua bulan sebelumnya.
“Aku kok merasa kenal baju ini cukup lama ya?”
Larasita bergeming.
“Sita, helo, are you okay?“
“No, it’s just your feeling. Sure, Mas. I am fine.”
Suasana pesta sudah tidak riuh lagi, beberapa alat musik pun sudah tak di peraduannya, dan para tamu sepakat tidak lagi datang. “Kamu yakin?” lagi, Rayan memecah keheningan sebelum turun di rumah Abi. “Pasti, Mas. I make sure something what I am going to do.”
Kesabaran dan Rayan, seolah sebuah celengan dan uang recehan, tak terpisahkan. Pernah suatu kali Larasita berniat mengajaknya berkemah tujuh hari tujuh malam tanpa membawa bekal apa pun. Asma Rayan kambuh, tapi sabarnya terlalu utuh. “Kita mati karena memang saatnya mati, bukan karena asma.” ledeknya di tengah kepanikan Larasita yang klimaks. Pun tepat satu bulan lalu Rayan mengamini permintaan konyolnya untuk tidak saling menemui sampai hari ini terjadi.
Semesta sepertinya merestui Larasita dan Rayan hanya sebagai sahabat. Dua belas tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membuktikan bahwa mereka memang pastas menjadi teman baik. Tidak lebih.
“Selamat menempuh hidup baru, Bi,” ujar Larasita kepada Abi lalu disusul ber-cipika-cipiki dengan istrinya. Tak sempat Abi maupun istrinya membalas, Larasita kembali bergumam. “Aku mengandung anakmu, sudah dua minggu, cinta kita memang begitu kuat untuk dipisahkan walau tanpa amin orang tuamu.” Di kedalaman sabar Rayan layaknya samudera, ia berujar, “kalian harus menikah.” “Tidak , Mas, aku bukan Teh Ninih yang dengan dalih agama rela dipoligami dan akhirnya kamu tahu sendiri kan akhir kisah mereka, bullshit,” umpatnya.
Lamat-lamat Rayan pun mengingat gaun itu adalah gaun yang sama dengan gaun yang dikenakan Larasita beberapa tahun lalu, pertunangannya dengan Abi. Tapi berakhir tragis dalam sebuah permainan bisnis. Sita, anak rekan bisnis ayah Abi, jatuh cinta kepada Abi dan memaksa ayahnya untuk menjodohkan mereka. Dan ayah Abi pun menyambut hangat melego anaknya demi pelunasan hutang-hutang perusahaannya. “Bahkan cinta di zaman ini seperti judi saja, Mas,” celetuk Larasita suatu ketika yang baru saja diimengerti Rayan.
Dua bulan berlalu, detik jarum jam seolah lonceng keras yang sangat mengganggu telinga Larasita dan harus menyegerakan senyum abadinya. Tak ada penyesalan karena cinta mati itu ya memang harus dibawa sampai mati. “Terima kasih, Mas Rayan,” suratnya tergeletak segar di ujung cangkir kopi berarsenik.
Senandung Hampa
Desember 16th, 2011 § 3 Komentar
Jari-jemarinya tak henti menekan tuts hitam dan putih piano tua di sudut ruang keluarga itu, padahal ini bukan jam les privat pianonya. Siang pun makin gerah karena nada yang dimainkan seolah tanpa arah dan tanpa nada yang jelas. Untung tak ada orang lain yang mendengar, semua orang sibuk dengan urusan masing-masing, urusan yang mereka gadangkan sebagai titah Tuhan. “Tuhan itu menyuruh kita jangan melupakan dunia juga, kan.?” Ibunya pernah berdalih suatu ketika. Tak pelak, riuh nada pun melambai hingga tepian jendela. Hampa.
Dia tak pernah menganggap sebuah masalah adalah masalah, setidaknya bagi dirinya sendiri. Keterasingan membuatnya lebih tabah dari karang yang selalu terhempas. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan umatnya, apalagi umat seperti dirinya.
Seolah terhipnotis atau memang karena tak berniat, dia tak sekali pun mengacuhkan nada lain yang berbunyi di atas meja makan. “Mungkin saja bedebah,” katanya dalam hati. “Bedebah akan tetap menjadi bedebah, dengan atau tanpa kedok orang tua,” pesan yang ia percayai disampaikan oleh malaikat pada suatu malam dalam mimpinya.
Neraka tanpa tepi. Tanpa api. Rumah yang memberinya kehangatan keluarga. Awalnya. Tidak setelah ibu menikah dengan Baros atau Barus, tiga tahun lalu atau empat tahun lalu, entahlah. Yang pasti laki-laki itu telah mengambil keperawanannya, pun ingatannya.
Kartu Berwarna Keemasan
November 4th, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar
Di ujung gang, hujan deras ditambah gemuruh, di tengah batas kota, aku ditinggalkan begitu saja oleh seorang lelaki. Lelaki yang namanya, terlanjur sudah disematkan dalam sebuah kartu berwarna keemasan. Parahnya lagi, namanya disandingkan dengan namaku untuk sebuah acara, acara yang akhirnya semua orang menyepakati dengan istilah pernikahan. Mungkin aku adalah gadis yang begitu bodoh untuk tidak mampu memutuskan tentang pilihan yang baik bahkan bagi diriku sendiri.
“Keparat!” bentaknya sebelum berlalu meninggalkanku.
Aku memang perempuan keparat, sialnya malah bertemu pula dengan laki-laki yang hanya mementingkan karirnya dibanding urusan hati. Oh bukan aku saja yang keparat ternyata, ayahku juga berperan dalam hal ini, semenjak lima tahun ditinggal ibu dan dua tahun pernikahannya dengan Marni, dia berubah menjadi sesosok singa jantan. Oh bukankah kami satu gen, jadi bisa dikatakan aku juga singa. Seperti sebuah persekongkolan yang tajam, mereka bertemu dan akhirnya aku terlibat begitu saja tanpa kutahu bagaimana awalnya.
“Kenapa pulang juga kau akhirnya?”
Aku tidak menjawab ucapannya sambil berlalu ke kamarku. Perempuan yang usianya lebih tua sepuluh tahun dibanding ayah, entah di mana pertemuan mereka namun sekilas yang kuingat dia pernah menyelamatkan ayah dari maut. Tapi waktu membuat luruh mereka sampai akhirnya seisi rumah ini membenciku.
Entah apa motifnya, motif mereka sampai harus menikahkanku dengan Cakil-pria kampung yang dulunya bodoh- yang hanya tinggal hitungan hari kami akan bersanding.
“Semua sudah siap, aku terpaksa pontang-panting mengurus semuanya sendiri.”
“Siapa yang menyuruhmu sibuk?”
“Perempuan brengsek!”
“Kau lebih bodoh mau menikahi perempuan brengsek!”
Pagi ini tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Wajahku lebih dingin, bukan karena ini hari pernikahanku, bukan karena wajah calon suamiku sedikit membaik tadi malam sehabis membelikan mas kawin, apalagi bukan karena aku grogi akan melepas masa lajangku.
Di selimut hangat ini tampaknya ragaku tak kuat untuk bangkit, karena memang tak ada lagi perintah langsung dari otakku.


